Tuesday, May 5, 2009

Diskusi Ahad Malam (12)

DISKUSI AHAD MALAM (BA’DA MAGHRIB)
MESJID AL HUSNA KOMPLEKS DEPKES II
JATIBENING

(12)

Ahad 11 Februari 2007 / 23 Muharam 1428


Materi Diskusi : Akhlak Tercela

Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM



Zalim

1. Orang Islam tidak boleh menganiaya dan jangan mau dianiaya. Kezaliman tidak boleh muncul dalam Islam. Firman Allah dalam surah Al Furqan ayat 19 yang artinya; ‘…dan barang siapa di antara kamu yang berbuat zalim, niscaya Kami rasakan kepadanya azab yang besar.’

Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman; ‘Hai hamba-hambaKu. Sesungguhnya Aku haramkan zalim itu atas diri Ku dan Aku haramkan zalim itu di antara sesamamu. Maka janganlah saling zalim.’ (Riwayat Muslim).

Sabda Rasulullah SAW; ‘Takutlah berbuat zalim, karena zalim itu adalah kegelapan di hari kiamat.’ (Riwayat Muslim).

Sabda Rasulullah SAW; ‘Siapa yang berbuat zalim atas sejengkal tanah orang lain, maka ia akan dikalungi dari tujuh puluh jengkal tanah.’ (Muttafaq ‘alaihi).

2. Zalim ada tiga macam;

a. Zalim terhadap Allah. Artinya kufur terhadap Allah. Firman Allah; ‘….Dan orang-orang kafir ialah orang yang zalim.’ (Al Baqarah 254). Dan juga syirik kepada Allah, sebagaimana firman Allah; ‘Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah nyata-nyata kezaliman yang besar.’ (Luqman 13).

b. Zalim kepada sesama manusia dan sesama makhluk. Zalim disini berarti melakukan aniaya atas kehormatan, fisik dan hartanya tanpa hak. Sabda Rasulullah SAW; ‘Barang siapa berbuat zalim kepada saudaranya terhadap kehormatannya atau sesuatu yang lain, maka hendaklah ia meminta dihalalkan dari orang itu sekarang, sebelum datang hari dimana tak ada dinar dan dirham. Jika dia punya amal saleh, akan diambil darinya seharga kezalimannya. Jika kebaikannya tidak ada lagi, maka keburukan orang yang dianiaya akan dipikulkan kepadanya.’ (Riwayat Bukhari).

Pada hadits yang lain beliau bersabda; ‘Siapa yang merampas hak orang Islam dengan sumpahnya, maka Allah mewajibkan dia masuk neraka dan mengharamkannya masuk surga. Seorang laki-laki bertanya, walaupun sedikit ya Rasulullah? Nabi menjawab, walaupun sebatang kayu sugi.’ (Riwayat Muslim).

c. Zalim terhadap diri sendiri. Hal ini dilakukan dengan cara mengotori diri dengan bermacam dosa kejahatan dan keburukan berupa perbuatan maksiat kepada Allah dan Rasul NYa. Allah berfirman; ‘…Mereka tidak menganiaya Kami, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.’ (al A’raf 160)


Dengki

1. Orang Islam tidak boleh mendengki dan tidak menjadikannya akhlak atau sifat pada dirinya. Dengki adalah sifat yang tidak terpuji. Mendengki berarti menentang pembagian yang dikehendaki Allah dari karunia yang diberikanNya untuk makhlukNya. Firman Allah SWT; ’Mengapa mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia. Dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain ... (az Zukhruf 32).

2. Hasad itu ada dua macam;

a. Yang pertama seseorang mengharapkan hilangnya nikmat, baik berupa harta, ilmu, pangkat, kekuasaan dari orang lain dan pindah kepada dirinya.

b. Kedua mengharapakan agar segala nikmat orang lain itu musnah meski dia juga tidak menginginkannya.

Sabda Rasulullah SAW; ‘Jauhilah olehmu dengki, karena dengki itu merusak kebaikan seperti api membakara kayu bakar atau rumput.’ (Riwayat Abu Daud).

Jika dalam fikiran seorang Muslim terlintas rasa dengki, mengingat manusia tidak akan luput dari kekeliruan, hendaklah dia berusaha memerangi perasan itu dan jangan memupuknya. Jika dia kagum atas sesuatu yang dimiliki orang lain hendaklah berkata, Masya Allah, atau La haula wa la quwwata illa billah.

Igtibat

Maksudnya berharap memperoleh nikmat seperti yang dipunyai orang lain tanpa menginginkan agar nikmat itu hilang dari orang lain. Hal yang seperti ini bukan yang disebut dengki. Sabda Rasulullah SAW; ‘Bukanlah hasad atau dengki dalam dua hal; pertama, seseorang yang diberi Allah kekayaan dan digunakannya untuk menegakkan yang hak. Yang kedua orang yang diberi Allah ilmu pengetahuan lalu dia memutuskan perkara dengan hikmat dan mengajarkannya. Hikmat disini maksudnya adalah Al Quran dan sunah Nabi.’


Menipu

1. Menipu artinya mengatakan kebohongan. Mengatakan sesuatu yang tidak benar. Bentuk-bentuk penipuan;

c. Pernyataan seseorang kepada orang lain yang mengatakan yang buruk atau rusak sebagai sesuatu yang baik atau terpuji agar orang yang ditipu terjerumus.
d. Memperlihatkan kepada orang lain tentang yang baik-baik saja padahal didalamnya terdapat keburukan.
e. Memperlihatkan sesuatu berbeda dari hakikat yang terkandung untuk memperdaya orang lain.
f. Sengaja memecah belah orang lain untuk merusak rumah tangga orang lain atau mendapatkan hartanya.
g. Mengkhianati janji atau menipu sesudah berjanji.

2. Orang Islam harus menjauhi penipuan dan pengkhianatan dengan dasar semata-mata takut kepada Allah. Firman Allah; ’Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti orang-orang Mukmin dan Mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.’ (Al Ahzab 58).

3. Sabda Rasulullah SAW; ’Ciri munafik itu ada empat. Bila keempat-empatnya ada pada seseorang maka orang itu benar-benar munafik. Bila satu sifat saja ada pada seseorang maka orang itu punya sifat munafik sampai dia meninggalkannya. Keempat ciri itu adalah, jika dipercaya dia khianat, jika berbicara dia dusta, jika berjanji dia ingkar, dan jika bersumpah dia maksiat.’ (Muttafaq ’alaihi).


Ria

Firman Allah SWT; ’Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dalam shalatnya, orang-orang yang berbuat ria, dan enggan menolong dengan barang yang berguna.’ (Al Ma’un 4 – 7).

Sabda Rasulullah SAW; ’Sesungguhnya yang paling aku takutkan padamu adalah syirik kecil. Mereka bertanya, apakah syirik kecil itu, ya Rasulullah? Nabi menjawab, ialah ria. Allah berfirman, pada hari kiamat tatkala membalas amal hamba-hamba Nya; Pergilah kamu kepada mereka yang kamu berbuat ria di dunia. Maka tunggulah apakah kamu akan memperoleh balasan amal dari mereka.’ (Riwayat Ahmad, Tabrani dan Baihaki).

Ria itu tampak dalam hal-hal sebagai berikut;

a. Seseorang semakin taat bila dipuji dan akan berkurang ketaatannya bahkan ditinggalkannya bila dicela dan diejek.

b. Seseorang mau bersedekah bila dilihat orang lain. Kalau tidak ada yang melihat dia enggan.

c. Rajin beribadah bila bersama orang lain dan malas jika sendirian.

d. Mengatakan yang hak dan kebaikan atau berbuat baik hanya karena menginginkan sesuatu dari orang, bukan karena mengharapkan ridha Allah.


Diskusi


1. T. Bolehkah orang yang dizalimi membalas dengan kezaliman pula kepada orang yang menzaliminya?

J. Orang yang dizalimi, kemudian dia minta keadilan kepada penguasa lalu penguasa menetapkan hukuman kepada yang menzaliminya. Dan hukuman itu secara Islam disebut hukum qisas. Jadi bukan dia langsung mengambil tindakan karena kalau seperti itu dikhawartirkan akan jadi dendam sambung menyambung.

2. T. Apakah kalau kita mengambil sesuatu yang nyaris tidak ada nilainya dari milik orang lain, juga disebut sebagai perbuatan zalim?

J. Ya. Seperti hadits yang kita sebut di atas, walaupun hanya berupa sebuah tusuk gigi, tetap akan dimintakan pertanggungjawabannya.

3. T. Bagaimana dengan orang yang menyogok untuk mendapatkan kebaikan kepada dirinya. Seumpama menyogok petugas pajak agar dikurangi beban pajaknya?

J. Yang menyogok dan yang menerima sogok sama-sama berbuat dosa. Itu termasuk bentuk kezaliman yang seharusnya dicegah.

4. T. Apakah dikatakan dengki juga kalau kita menginginkan kebaikan seperti yang dimiliki orang lain tapi kita tidak berharap agar orang lain itu kehilangan nilai kebaikan itu?

J. Tadi sudah kita sebut yang seperti itu igtibat namanya. Ini dibolehkan, dengan memohon kepada Allah agar kiranya Allah juga memberikan kebaikan seperti yang dipunyai orang lain itu. Tentu saja dengan adab yang sebaik-baiknya dalam meminta kepada Allah. Belum tentu sesuatu yang baik terlihat pada orang lain itu seandainya diberikan kepada kita juga akan baik bagi kita.

5. T. Bagaimana caranya menghilangkan sifat dengki?

J. Pada waktu timbul kesadaran dalam hal kedengkian itu cepat-cepat beristighfar. Jangan dipupuk rasa dengki yang kalau dilakukan demikian pasti akan makin bergelora rasa dengki tersebut dan makin parah akibatnya.

6. T. Bagaimana kalau kita tidak memberitahukan keburukan barang yang kita jual karena khawatir kalau diberi tahu orang tidak jadi mau membelinya?

J. Ini termasuk penipuan. Si pembeli harus diberi tahu sejelas-jelasnya keadaan barang agar jangan sampai dia tertipu. Kalau kita tidak menyampaikannya artinya kita tidak amanah kepadanya. Orang itu mungkin saja tidak akan tahu, tapi Allah Maha tahu bahwa kita sudah menyembunyikan kebenaran.

7. T. Bolehkah kita beramal dilihat orang lain dan berharap agar orang lain meniru dengan beramal pula? Apakah ini termasuk ria?

J. Boleh saja. Seperti bersedekah, boleh dilakukan terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Terang-terangan dengan pengharapan agar orang lain ikut mencontoh beramal pula. Mudah-mudahan yang seperti itu bukan ria.

8. T. Bagaimana kalau kita berdoa atau shalat dalam keadaan mangkel karena ada orang lain beribadah dengan berisik?

J. Kalau memang sangat mengganggu boleh kita sampaikan dengan baik-baik agar orang tersebut dapat menjaga ketertiban juga untuk orang lain. Kalau tidak mempan mungkin dengan cara mendakwahi orang itu karena mungkin dia belum tahu tentang yang dilakukannya. Kalu belum bisa juga perbanyak doa saja, agar orang itu dapat petunjuk



Wallahu a’lam

No comments:

Post a Comment