Wednesday, May 20, 2009

Diskusi Ahad Malam (17)

DISKUSI AHAD MALAM (BA’DA MAGHRIB)
MESJID AL HUSNA KOMPLEKS DEPKES II
JATIBENING

(17)

Ahad 8 April 2007 / 21 Rabiul Awal 1428


Materi Diskusi : Wali-wali Allah dan Keramatnya

Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM



1. Wali-wali Allah

Orang Islam percaya bahwa Allah mempunyai para wali (para penolong) dari hamba-hamba Nya, yang ikhlas beribadah kepada Nya. Allah jadikan mereka orang yang selalu taat dan mereka menjadi mulia karena cintanya kepada Allah. Mereka dijadikan orang-orang yang memperoleh kemuliaan dari Allah, sehingga Allah menjadi penolong mereka. Mereka, para wali Allah itu mencintai Allah serta mengagungkan Nya, mentaati perintah Nya serta menyerukan perintah itu. Mereka menjauhkan diri dari larangan Allah dan menyuruh orang untuk menjauhi larangan tersebut.

Mereka mencintai dan membenci karena Allah. Jika mereka meminta kepada Allah, maka Allah memberi mereka. Bila mereka minta tolong kepada Allah maka Allah menolong mereka, begitupun ketika mereka minta perlindungan kepada Allah maka Allah melindungi mereka. Mereka adalah golongan orang beriman, bertakwa, mulia dan memperoleh kegembiraan di dunia dan akhirat.

Setiap Mukmin yang bertakwa adalah wali Allah, meskipun tingkatan mereka berbeda-beda dalam keimanan dan ketakwaan. Semakin tinggi kadar iman dan takwa seseorang maka derajatnya semakin tinggi disisi Allah. Di atas mereka adalah para rasul dan nabi. Di bawah mereka adalah orang-orang Mukmin. Di antara mereka ada yang mendapat ’karamah’ atau keramat dari Allah.

Di antara keramat yang terbesar adalah istiqamah dalam menunaikan segala perintah Allah dan dalam menjauhi semua larangan Nya.

Allah memberitahukan mengenai wali-waliNya dan kemulian mereka.

Firman Allah; ’Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.’ (Surat Yunus (10) ayat 62-64).

Pada ayat lain, firman Allah; ’Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).... (Surat Al Baqarah (2) ayat 257).

Firman Allah dalam Surat Ali Imran (3) ayat 37 yang artinya; ’... Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata; ’Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?’ Maryam menjawab; ’Makanan itu dari sisi Allah.’...).

Surat Maryam (19) ayat 24-26 yang artinya; Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah; ’Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu....’

Sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadits qudsi; ’Siapa yang memusuhi kekasih Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya. Dan pendekatan yang paling Aku sukai dari hamba Ku ialah dengan mengerjakan segala yang Aku wajibkan dan hamba Ku senantiasa mendekatkan diri kepada Ku dengan ibadah-ibadah sunah sehingga Aku menyukainya. Apabila Aku telah menyayanginya, maka Aku lah yang menjadi pendengaran dan penglihatannya, dan menjadi tangan yang digunakannya serta kaki yang dipakainya berjalan. Dan apabla dia memohon kepada Ku pasti Aku kabulkan dan jika berlindung kepada Ku pasti Aku lindungi.’ (Riwayat Bukhari.)


2. Diskusi

1. T. Disebutkan ada ’keramat’ dari orang saleh yang bisa mendatangkan makanan dalam jumlah banyak. Bagaimana menjelaskan bahwa itu bukan perbuatan sihir?

J. Karamah atau ’keramat’ sudah kita bahas, diberikan Allah kepada hamba Nya yang ahli ibadah. Yang senantiasa mematuhi perintah Allah dan senantiasa menjauhi larangan Allah. Orang yang memperoleh karamah bukan orang yang sombong dan ria. Inilah ciri-ciri yang dapat kita lihat. Kalau karamah atau kelebihan itu terdapat pada seorang ahli ibadah, yang taat kepada perintah Allah, yang meninggalkan larangan-larangan Allah, tidak ria dan tidak sombong, kita boleh percaya bahwa itu adalah kelebihan yang dianugerahkan Allah kepadanya dan bukan sihir.

2. T. Dalam mendatangkan pertolongan itu, misalnya mendatangkan bantuan atau makanan dalam jumlah banyak dalam suatu perjamuan, apakah yang menolong orang itu jin atau malaikat?

J. Wallahu a’lam siapa yang menolong mengadakannya. Seperti contoh hal yang terjadi kepada Siti Maryam dalam ayat yang kita sebutkan dalam surat Ali Imran ayat 37 tadi, tidak dirinci melalui siap pertolongan atau hidangan makanan itu didatangkan Allah. Maryam hanya menyebut dalam ayat itu, bahwa makanan itu datang dari sisi Allah.

3. K. Karamah ini kelihatannya masih terjadi sampai saat ini. Saya mendengar cerita tentang seorang wanita yang membangun mesjid berkubah emas di Depok yang kononnya mendapatkan limpahan reseki yang sangat banyak dari Allah karena suatu amalan khusus.

J. Saya juga mendengar cerita yang sama dari seorang ustad. Kabarnya keistimewaan wanita itu, sejak dia memulai usahanya, ketika usaha itu masih sangat biasa-biasa saja, dia menginfaqkan setengah dari keuntungannya langsung dan itu tetap dilakukannya sampai sekarang. Konon dia sudah menghajikan banyak sekali karyawannya dan terakhir adalah yang disebutkan itu tadi, dia membangun komplek mesjid yang sangat megah.

Namun perlu kita ingat bahwa mendapat karamah atau keutamaan itu hendaknya bukan tujuan tetapi berupa hasil sampingan dari ketaatan kita. Jadi tidak tepat kalau kita rajin beribadah karena ingin mempunyai ke keramatan atau keistimewaan yang terlihat oleh orang banyak, karena kalau cita-citanya seperti itu dikhawatirkan kita akan jatuh kepada sifat ria dan takabur atau paling tidak jadi sombong di tengah-tengah manusia di hadapan Allah.

4. T. Ada juga orang yang mempunyai kelebihan itu dan mengakui bahwa dia dibantu oleh jin. Bahkan dia bisa berkomunikasi dengan jin dan minta tolong kepada jin. Apakah ini termasuk karamah juga?

J. Rasulullah SAW mengingatkan kita, sebagai umat beliau agar jangan berurusan dengan jin karena kita akan rugi. Karena kita tidak bisa melihat wujud mereka. Kita beriman kepada keterangan Allah tentang keberadaan jin tapi sebaiknya kita tidak berurusan dengan mereka. Orang yang mendapatkan pertolongan jin dikhawatirkan akan diminta oleh jin balasan dari pertolongannya itu, dan yang lebih mengkhawatirkan kalau jin itu menggiring kita kepada kemusyrikan. Pertolongan yang diakui datangnya dari jin tadi sulit untuk difahami sebagai suatu karamah karena kita tidak tahu atas dasar apa jin itu memberi pertolongan.

5. T. Bagaimana dengan anak-anak yang mempunyai kemampuan melihat makhluk halus yang mungkin saja jin? Apakah bisa disebut bahwa kanak-kanak itu memperoleh karamah?

J. Kalau tadi kita memahami bahwa karamah itu dimiliki seseorang yang sangat baik ibadahnya dan ketaatannya kepada Allah, maka keistimewaan kanak-kanak yang mampu melihat makhluk ’halus’ tidaklah termasuk kedalam golongan karamah tetapi suatu kelebihan yang diberikan Allah saja kepada kanak-kanak itu. Sekali lagi karamah adalah ’keutamaan’ yang diberikan Allah kepada hamba Nya yang sangat taat dan patuh kepada Nya. Allah sering menunjukkan ke Maha Kuasa an Nya dengan menciptakan seseorang yang sangat pintar, sangat kuat, sangat cantik dan sebagainya meskipun mereka bukan orang yang beriman kepada Allah. Begitu juga Allah mampu menciptakan hamba yang mempunyai indera ke enam dan dapat melihat hal-hal yang tidak dapat dilihat orang biasa. Hal ini bukanlah karamah atau keutamaan yang berdasarkan kedekatan hamba itu kepada Allah karena kebaikan ibadahnya dan ketaatannya, melainkan suatu pemberian Allah untuk jadi pelajaran kepada orang-orang beriman yang mengamatinya.

6. T. Bagaimana pula dengan orang yang juga mempunyai kemampuan supra natural tapi dia bukan orang ahli ibadah? Misalnya orang yang mampu berjalan di atas air karena kesaktiannya?

J. Yang seperti ini jelas bukan karamah namanya (karena dia bukan seorang ahli ibadah). Jadi mungkin saja itu berupa sihir, atau mungkin dia mendapatkan atas pertolongan jin dengan persahabatannya dengan jin, yang tentu ada balasannya pula kepada jin tersebut.


Wallahu a’lam

No comments:

Post a Comment