DISKUSI AHAD MALAM (BA’DA MAGHRIB)
MESJID AL HUSNA KOMPLEKS DEPKES II
JATIBENING
(13)
Ahad 25 Februari 2007 / 08 Shafar 1428
Materi Diskusi : Akhlak Tercela
Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM
2. Ujub, Sombong, Lemah dan Malas
1. Ujub dan Sombong
Orang Islam harus waspada dari sikab ujub dan sombong. Sifat merasa diri lebih sehingga menjadi takabur. Seringkali nikmat berubah menjadi azab dikarenakan sifat ujub dan sombong. Firman Allah surah Al Hadid ayat 14 yang artinya; ‘…dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong, sehingga datanglah ketetapan Allah. Dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu…..’
Dalam ayat lain Allah berfirman; ‘Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah.’ (Al Infitar (82) ayat 6).
Pada ayat lain lagi Allah berfirman; ‘….Tetapi di peperangan Hunain di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun.’ (At Taubah (9) ayat 25)
Sabda Rasulullah SAW; ‘Ada tiga hal yang membinasakan, yaitu tunduk pada sifat kikir, memperturutkan hawa nafsu dan kagum pada diri sendiri.’ (Riwayat Tabrani).
2. Beberapa contoh akibat ujub dan sombong;
a. Iblis menyombongkan dirinya karena hal kejadiannya. Ia berkata ; Engkau jadikan aku dari api dan manusia dari tanah. Maka Allah mengusir iblis dari rahmat Nya.
b. Kaum ’Ad menyombongkan diri karena kekuatan dan kekuasaannya/ Allah mengazab mereka dengan kehinaan di dunia dan akhirat.
c. Firaun sombong dengan kekuasaannya dan mengaku dirinya Tuhan. Allah menenggelamkannya di laut.
3. Diantara bentuk-bentuk kesombongan adalah sebagai berikut;
a. Dalam ilmu. Merasa bangga dan sombong karena merasa banyak ilmunya dan menganggap enteng kepada orang lain.
b. Dalam hal harta. Merasa sombong karena banyak harta lalu jadi mubazir dan menghambur-hamburkan harta.
c. Dalam hal kemulian. Membangga-banggakan keturunan dan memandang rendah kepada orang lain.
d. Dalam beribadah. Merasa sombong dengan ibadah yang dilakukan dan merasa seolah-olah hanya dia yang pandai dan mampu beribadah dengan baik. Melecehkan orang lain dan menganggap seolah-olah orang lain tidak sebanding dengan dirinya dalam hal ibadah.
4. Cara mengobati penyakit sombong dan ujub adalah dengan banyak mengingat bahwa segala kelebihan yang dipunyai itu pada hakekatnya adalah kepunyaan Allah. Dan Allah dapat mencabutnya kapan saja dikehendakiNya. Sesungguhnya nikmat Allah tidak bisa diukur dengan sesuatu, karena Allah adalah sumber segala karunia dan yang memberi segala kebaikan. Sabda rasulullah SAW; ’Amal seseorang di antara kamu tidak akan menjadikannya selamat. Mereka berkata; Termasuk engkau ya Rasulullah? Beliau menjawab; Ya, termasuk aku juga, bila bukan karena berkat dan rahmat Allah yang dilimpahkannya kepadaku.’ (riwayat Bukhari)
2. Lemah dan Malas
1. Orang Islam tidak boleh lemah dan malas, bahkan harus selalu giat dan bersungguh-sungguh karena lemah dan malas adalah sifat yang tercela, sehingga nabi SAW memohon perlindungan kepada Allah dari kedua hal tersebut. Nabi mengajarkan doa; ’Allahumma innii a’utzubika minal ’ajzi walkasal, waljubni wal harami wal bukhli.’ (Ya Allah, aku berlindung kepada Mu dari lemah dan malas, dari penakut, pikun dan kikir. (muttafaq ’alaihi)).
2. Sabda Rasulullah SAW; ’Bersungguh-sungguhlah kamu dalam mencari sesuatu yang bermanfaat bagimu. Mohonlah perlindungan Allah dan jangan lemah. Bila kamu ditimpa sesuatu jangan berkata; Jika sekiranya aku berbuat begitu, tentu tidak akan begini. Akan tetapi berkatalah; Allah telah mentaqdirkan demikian. Apa yang dikehendakiNya pasti terjadi. Sebab, kata ’jika’ hanya membuat setan mendapat peluang untuk beraksi.’ (Riwayat Muslim).
3. Orang Islam tidak boleh penakut atau hidup terkekang karena ia yakin akan ketetapan-ketetapan Allah (qada dan qadar), dan menyadari apa yang mesti terjadi pada dirinya tidak akan meleset.
4. Beberpa bentuk sifat lemah dan malas.
a. Seseorang mendengar seruan azan dan dia sedang asyik ngobrol, atau mengerjakan hal yang tidak penting, lalu dia tidak mendatangi seruan azan tersebut, tetap dengan keasyikannya sampai akhirnya luput shalat berjamaah.
b. Orang yang mampu nongkrong berjam-jam di warung kopi sampai pekerjaannya terbengkalai.
c. Meninggalkan pekerjaan yang bermanfaat seperti bertani, bertukang, dan berdalih karena sudah tua lalu tidak mau lagi bekerja.
d. Mempunyai kesempatan untuk beribadah haji karena dari segi biaya dan kesehatan dia mampu tapi tidak mau mangerjakannya.
e. Menyadari bahwa tempat tinggalnya kumuh, kotor, tidak terpelihara dan tidak berbuat apa-apa untuk memperbaikinya.
3. Diskusi
1. T. Apakah perbedaan antara ujub dan sombong?
J. Ujub adalah bahasa Arab dan sombong bahasa Indonesia. Artinya lebih kurang sama. Orang yang ujub atau sombong cenderung merasa dirinya ’lebih’ dari orang lain, mungkin dalam hal harta, ilmu ataupun tingkat sosial. Sifat sombong adalah sifat iblis yang merasa dirinya lebih karena diciptakan dari api dan tidak mau menghormati Adam yang diciptakan dari tanah. Kesombongan menggiring seseorang kepada ketakaburan dan akhirnya kepada keingkaran.
2. T. Kenapa orang yang tidak mendatangi panggilan azan dikatakan juga malas? Bukankah dia juga bisa dan boleh shalat sendirian di rumah misalnya?
J. Pembahasan ini tadi adalah tentang malas dan kerugian yang ditimbulkan. Tidak menghargai panggilan azan, untuk bersegera mengerjakan shalat, hanya dikarenakan alasan yang tidak penting jelas menunjukkan ciri-ciri tidak bersungguh-sungguh dalam mematuhi perintah Allah untuk mengerjakan shalat. Di sini juga terlihat adanya sifat kesombongan, tidak menghargai perintah Allah.
3. T. Bolehkah kita bangga dengan keahlian yang kita punyai tanpa bermaksud sombong?
J. Mengetahui bahwa kita ’tahu’ tentang sesuatu tidak apa-apa. Yang tidak boleh adalah membangga-banggakan dengan maksud menyombongkan dan memandang enteng kepada orang lain yang kita anggap tidak ’sehebat’ kita.
4. T. Bolehkah kita memilih-milih teman dalam bergaul? Bolehkah kita merasa tidak senang bergaul dengan seseorang karena kita tidak suka sifatnya?
J. Boleh dan memang seharusnya kita memilih teman untuk bergaul. Tidak bermanfaat bergaul dengan orang yang tidak baik akhlaknya. Tidak suka bergaul dengan seseorang karena kita tahu sifatnya tidak baik malahan dianjurkan. Tapi jangan karena kita benci saja kepada seseorang tanpa alasan. Dalam pergaulan memang adakalanya kita merasa cocok dengan seseorang karena kalau kita berbicara dengannya biasanya nyambung. Tapi ada juga orang lain kalau kita berbicara dengannya sering tidak nyambung. Dalam hal seperti ini kita lebih senang bergaul dengan yang pertama, itu sah-sah saja. Asalkan dengan orang yang kedua kita tidak melecehkannya.
5. T. Bolehkah kita tidak datang ketika kita diundang?
J. Mendatangi undangan itu wajib hukumnya. Tentu saja selama kita yakin bahwa di tempat undangan itu kita terlindung dari hal-hal yang tidak baik. Tidak wajib mendatangi undangan kalau undangan itu kepada kemaksiatan.
6. T. Bagaimana sikap kita kalau misalnya ada anggota keluarga atau orang dekat kita ingin mengerjakan pekerjaan atau amalan yang menurut kita keliru?
J. Berikan penjelasan disertai alasan-alasan dan dalil-dalil yang jelas untuk menjelaskan keyakinan kita. Namun kita juga harus bisa menghargai pendapat dan alasan orang lain itu. Meskipun menurut kita dia itu keliru, dan sudah kita berikan petunjuk serta alasan-alasan untuk menunjukkan bahwa yang dia lakukan itu keliru, tapi dia masih belum bisa menerimanya, biarkan saja dulu. Mungkin kebenaran yang kita fahami memang berbeda, atau mungkin dia belum bisa memahami seperti yang kita fahami. Dalam hal seperti ini kita harus bisa menghormati pula pendapatnya.
Wallahu a’lam
Tuesday, May 5, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment