Wednesday, December 2, 2009

Diskusi Ahad Malam (25)

DISKUSI AHAD MALAM (BA’DA MAGHRIB)
MESJID AL HUSNA KOMPLEKS DEPKES II
JATIBENING

(25)

Ahad 8 Juli 2007 / 24 Jumadil Akhir 1428

Materi Diskusi : Adab Kepada Allah

Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM

1. Adab Kepada Allah

Sebagai orang yang beriman kita harus menyadari bahwa nikmat dan anugerah Allah kepada kita umat manusia tidak terhitung banyaknya. Karenanya kita wajib bersyukur dan memuji Allah atas segala nikmat dan karunia tersebut baik dengan kata-kata maupun dengan tindakan dan perbuatan. Cara bersyukur itu merupakan adab kepada Allah, sementara kalau kita kufur dan mengingkari nikmat Nya bukan merupakan adab kepada Allah.

Firman Allah dalam surat Al Nahl (16) ayat 53 yang artinya; ’Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah lah (datangnya).....’

Dan Firman Allah pula; ’Karena itu ingatlah kamu kepada Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat Ku).’ (Surat Al Baqarah (2) ayat 152).

Kita wajib meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui dan Dia selalu memperhatikan segala tingkah laku kita. Dengan demikian seharusnya hati kita senantiasa takut kepada Allah dan berusaha mengagungkan Nya. Kita harusnya malu berbuat maksiat karena kita tahu bahwa Allah pasti melihat kemaksiatan yang kita lakukan. Demikian itulah adab kita kepada Allah.

Firman Allah dalam surat Nuh (71) ayat 13-14 yang artinya; ’Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian.’

Firman Allah dalam surat An Nahl (16) ayat 19 yang artinya; ’Dan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan.’

Firman Allah dalam surat Yunus (10) ayat 61 yang artinya; ’Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarah (atom) di bumi ataupun di langit....’

Kita wajib mengetahui dan menerima bahwa Allah menguasai diri kita dan kitapun sadar bahwa kita tidak dapat melarikan diri ataupun menyelamatkan diri dari ketentuan Nya. Jadi kita harus berserah diri dan bertawakal kepada Allah semata. Seperti itulah adab kita terhadap Allah.

Tidaklah dianggap beradab bila seorang Muslim putus asa dari rahmat Allah yang meliputi segala sesuatu. Tidak pula patut kita berputus asa dari kebaikan Nya yang telah dilimpahkan Nya kepada seluruh makhluk Nya.

Firman Allah yang artinya ’....dan rahmat Ku meliputi segala sesuatu....’ (Surat Al A’raf (7) ayat 156).

Dan firman Allah pula ’...janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah....’ (Surat Yusuf (12) ayat 87).

Siksaan Allah sangat keras dan Allah sangat cepat perhitungannya jika manusia tidak beriman kepada Nya. Oleh sebab itu kita harus senantiasa memelihara iman dan taqwa kita kepada Allah. Begitulah adab dan etika kepada Allah. Sungguh dipandang tidak beradab oleh orang berakal, jika seorang hamba yang lemah dan tak berdaya berbuat maksiat dan zalim kepada Allah Yang Mahamulia, Maha Kuasa dan Maha Kuat.

Firman Allah dalam surat ar Ra’d (13) ayat 11; ’....Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.’

Dan firman Allah, ’Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras.’ (Surat Al Buruj (85) ayat 2).

Demikian pula, dianggap tidak beradab, bila seseorang yang beriman dan bertakwa kepada Allah tapi dia menyangka bahwa Allah tidak akan memberi balasan pahala atas amal baiknya atau menyangka bahwa Allah tidak akan menerima ketaatan dan ibadahnya. Kita harus berkeyakinan bahwa mudah-mudahan Allah akan membalas amal ibadah kita dengan pahala berlipat ganda sesuai dengan yang dijanjikan Allah.

Firman Allah, ’Barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.’ (Surat An Nur (24) ayat 52).

Pada bagian lain Allah berfirman, ’Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.’ (Surat An Nahl (16) ayat 97).

Firman Allah dalam surat Al An’am (6) ayat 160, ’Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; barangsiapa yang membawa perbuatan jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatan, sedang mereka tidak sedikitpun dianiaya.’

Sebagai kesimpulan orang Islam harus bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah kepadanya dan merasa malu terhadap Allah tatkala mempunyai kecenderungan untuk berbuat maksiat, lalu bertobat kepada Nya dan bertawakal serta mengharapkan rahmat Nya. Takut akan azab yang mungkin ditimpakan Nya dan berprasangka baik bahwa Allah akan menepati janji Nya. Sadar bahwa Dia akan menghukum dan melaksanakan ancaman Nya terhadap orang-orang yang dikehendaki Nya diantara hamba-hamba Nya. Yang demikian itu adalah adab terhadap Allah.


Ahad 15 Juli 2007 / 1 Rajab 1428

Materi Diskusi : Adab Terhadap Al Quran

Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM

1. Adab Terhadap Al Quran

Sebagai orang Islam kita percaya terhadap kesucian, kemuliaan dan keutamaan firman Allah yaitu al Quran. Kita percaya bahwa al Quran itu adalah firman Allah yang tidak terdapat kebatilan di dalamnya. Barangsiapa berkata dengan al Quran maka benarlah perkataannya itu, barangsiapa memutuskan perkara dengan al Quran maka adillah keputusan itu. Ahli al Quran adalah kekasih Allah. Orang yang berpegang teguh pada al Quran akan selamat dan orang yang mengingkarinya akan merugi.

Sabda Rasulullah SAW; ’Bacalah olehmu al Quran, karena ia akan datang pada hari kiamat memberi pertolongan kepada yang membacanya.’ (Riwayat Muslim).

Sabda beliau pula; ’Sebaik-baik kamu adalah yang belajar dan mengajarkan al Quran.’ (Riwayat Bukhari).

Hadits yang lain; ’Ahli Quran adalah keluarga Allah dan orang pilihan Nya.’ (Riwayat Ibnu Majah).

Sabda beliau yang lain; ’Sesungguhnya hati itu bisa berkarat seperti besi.’ Rasulullah ditanya bagaimana cara membersihkannya? Beliau menjawab; ’ Dengan membaca al Quran dan mengingat mati.’

Pada suatu saat datang kepada Rasulullah seorang musuhnya yang paling keras. Ia berkata; ’Hai Muhammad coba bacakan Quran untukku.’ Lalu Nabi SAW membacanya; ’Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan...’ (Surah An Nahl (16) ayat 90).
Belum lagi selesai beliau membacanya, musuh tadi meminta beliau mengulangi bacaannya karena dia kagum pada keindahan kata-katanya, keluhuran maknanya, karena ungkapan yang mempesona dan karena daya tariknya yang sangat kuat. Lalu diapun berucap; ’Demi Allah, sungguh Quran itu nikmat rasanya dan indah bahasanya, ibarat pohon yang berdaun rindang dan berbuah lebat. Tidak mungkin ini ucapan manusia.’ Musuh itu adalah Walid bin Mughirah dan serta merta dia masuk Islam.

Hendaklah kita menghalalkan yang dihalalkan al Quran dan mengharamkan yang diharamkannya, serta mengindahkan etika juga berakhlak dengan akhlak al Quran.

Adab seorang Muslim terhadap,al Quran;

Dibaca dalam keadan suci, menghadap kiblat, duduk dengan sopan dan tenang.
Dibaca dengantartil dan tidak terlalu cepat.
Dibaca dengan khusyuk, dihayati. Menangis atau bahkan pura-pura menangis.
Dibaca dengan membaguskan suara.
Dibaca dengan suara lembut dan tidak nyaring.
Hendaklah direnungi artinya.
Jangan membaca Quran dengan melalaikan apa yang dibaca.
Hendaklah orang yang membaca al Quran memiliki sifat seperti keluarga Allah dan kekasih Nya. Sebagaimana Ibnu Masud berkata; ’Seharusnya orang yang membaca Quran itu menghayatinya pada saat orang tidur di malam hari, saat orang bersenang-senang di siang hari. Ia menangis di saat orang lain tertawa. Ia menjauhkan diri dari dosa tatkala orang lain melakukannya.’

Muhammad bin Ka’ab berkata; ’Kita mengenal orang yang suka membaca al Quran dari warna kulitnya yang kekuning-kuningan yang menandakan dia banyak bangun malam dan shalat tahajud.’

Zunnun mendendangkan syairnya; ’Quran dengan janji-janji dan ancamannya mencegah orang untuk memejamkan matanya di malam hari. Mereka mengerti akan kebesaran Allah dari kata-katanya, yang menyebabkan hamba sahaya merendahkan diri dan tunduk.’


Ahad 22 Juli 2007 / 8 Rajab 1428

Materi Diskusi : Adab Kepada Rasulullah

Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM


1. Adab Kepada rasulullah

Kita wajib bersikap sopan dan hormat kepada Rasulullah.

a. Allah telah mewajibkan setiap Mukmin laki-laki maupun perempuan untuk hormat kepada Rasulullah. Firman Allah dalam surat Al Hujurat (49) ayat 1; ’Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mendahului Allah dan rasul Nya....’

Firman Allah pula dalam surat Al Hujurat ayat 2-5; ’Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain, supaya tidak hapus pahala amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari. Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar. Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamarmu kebanyakan mereka tidak mengerti. Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka, sesungguhnya itu adalah lebih baik bagi mereka...’

Firman Allah yang lain; Sesungguhnya yang sebenar-benar orang Mukmin ialah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam suatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad), mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul Nya. Maka bila mereka meminta izin kepadamu karena suatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki diantara mereka.... (an Nur (24) ayat 62).

b. SesungguhnyaAllah mewajibkan orang-orang beriman untuk taat dan cinta kepada Rasulullah. Firman Allah; ’....maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.’ (An Nur (24) ayat 63).

Firman Allah; ’Katakanlah! jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihimu dan mengampuni dosa-dosamu...’ (Ali Imran (3) ayat 31).

c. Allah menjadikan Nabi sebagai pemimpin dan hakim. Firman Allah; ’Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu.’ (An Nisaa’ (4) ayat 105).

Firman Allah pula; ’Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sehingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.’ (An Nisaa’ (4) ayat 65).

d. Allah mewajibkan orang beriman mencintai Rasulullah. Hal ini dikemukan Nabi dalam hadits beliau; ’Demi zat yang jiwaku dalam kekuasaan Nya. Tidaklah sempurna iman seseorang dari kamu sebelum aku lebih ia cintai dari anaknya, bapaknya dan manusia semuanya.’ (Muttafaq ’alaihi).

e. Allah secara khusus telah menganugerahkan fisik dan budipekerti yang baik kepada Rasulullah, sebagaimana Allah juga telah menjadikan beliau sebagai makhluk Nya yang paling sempurna jiwa dan kepribadiannya. Maka kepada orang seperti beliau mengapa kita tidak bersikap sopan.

Hal-hal lain yang harus diketahui dari cara beradab kepada Rasulullah adalah;

a. Hendaklah taat kepada nabi dan mengikuti jejak langkah beliau dalam segala urusan dunia dan agama.
b. Menjadikan beliau orang yang paling dicintai, dihormati dan dimuliakan.
c. Mengikuti orang yang diangkat menjadi wali oleh beliau dan menganggap musuh orang yang dimusuhinya.
d. Mengagungkan dan menghormati nama Nabi SAW ketika disebut dengan membaca sallalahu ’alaihi wa sallam. Kemudian memuliakan dan mengakui kelebihan serta keutamaan beliau.
e. Membenarkan segala yang dibawa oleh Nabi SAW baik soal agama maupun soal dunia dan soal-soal gaib dalam kehidupan dunia dan akhirat.
f. Menghidupkan dan memasyarakatkan sunnah Nabi SAW dan ajaran beliau. Menyampaikan seruan beliau dan melaksanakan wasiat beliau.
g. Merendahkan suara dekat kuburan beliau.
h. Mencintai orang-orang saleh dan para pengikutnya yang mencintai Nabi SAW kemudian membenci dan memusuhi golongan orang fasik yang membenci Nabi SAW.

Sebagai orang Islam seyogianya kita selalu bersungguh-sungguh melaksanakan sikap di atas dan memeliharanya secara sempurna.


******


2. Diskusi

1. T. Kita wajib bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Ada orang yang mampu berderma, Bagaimana hukumnya untuk ahli waris itu?

J. Katakan seseorang berniat pergi mengerjakan ibadah haji. Ongkos untuk naik haji itu sudah tersedia. Tapi sebelum melaksanakan niat itu dia meninggal. Jika si ahli waris mengetahui niat orang tersebut sebaiknya dia laksanakan apa yang sudah diniatkan itu. Tapi seandainya si ahli waris sesudah ditinggal mati memerlukan biaya pergi naik haji itu untuk keperluan hidupnya tidaklah mengapa kalau dia menggunakannya untuk itu terlebih dahulu tapi tetap dia harus menyadari bahwa kalau dia mempunyai kemampuan kelak, dia harus menyampaikan niat orang tadi itu.

2. T. Kita sedang mengerjakan sesuatu perbuatan atau amalan. Sebelum itu selesai, karena ada kendala, ada orang lain mengajak melakukan amalan yang lain yang kita tidak atau belum berniat mengerjakannya. Bolehkah kita merubah niat?

J. Pada suatu pagi Rasulullah SAW pulang ke rumah dan bertanya kepada istri beliau, adakah makanan untuk sarapan. Oleh istri beliau dijawab, tidak ada. Sabda beliau, kalau begitu saya berpuasa. Padahal beliau tidak berniat berpuasa sebelumnya dan saat itu sudah pagi. Jadi boleh saja niat itu diganti di tengah jalan selama untuk mengerjakan perbuatan amal.

3. T. Tadi disebutkan bahwa orang yang berniat jahat sudah dihitung berdosa sementara saya pernah mendengar keterangan dari ustad bahwa ada hadits Nabi yang mengatakan bahwa perbuatan baik, baru diniatkan saja sudah dinilai dan ada pahalanya di sisi Allah. Kebalikannya, perbuatan jahat kalau baru diniatkan tapi belum dikerjakan belum dinilai oleh Allah. Jadi mana yang benar?

J. Hadits itu juga pernah saya dengar. Harusnya itulah yang benar, namun keterangan yang mengatakan bahwa kalau seseorang berniat jahat sudah langsung dihitung berdosa maksudnya agar kita memelihara diri dari berniat melakukan perbuatan jahat. Sebab dikhawatirkan nanti, kalau kita berniat berbuat jahat, jangan-jangan setan akan mendorong dan menggiring kita agar segera mengerjakan niat jahat tersebut. Dan kalau itu sampai dilakukan maka jatuhlah kita kepada dosa, dikarenakan niat yang jahat sebelumnya. Dapat dipahami pendapat itu tadi untuk berjaga-jaga dalam memasang niat.


4. T. Tadi disebutkan bahwa kalau ada orang yang sudah berniat mengerjakan haji lalu dia meninggal, ahli warisnya wajib melanjutkan niatnya untuk menghajikannya. Tetapi dikatakan juga boleh saja ahli warisnya menggunakan dulu uang itu untuk keperluan lain. Bukankah lebih baik dia gunakan uang tersebut untuk menunaikan rukun haji bagi dirinya sendiri lalu kemudian membayar badal haji untuk menghajikan keluarganya yang sudah meninggal tersebut?

J. Mengenai badal haji, ada yang berpendapat bahwa boleh kita membayar seseorang di Makkah sana untuk menghajikan orang lain dengan membayarnya. Tapi ada pendapat lain yang mengatakan bahwa yang membadalkan itu mestilah anggota keluarganya sendiri atau ahli warisnya. Sementara untuk membadalkan haji haruslah yang bersangkutan haji untuk dirinya sendiri terlebih dahulu lalu tahun berikutnya baru pergi lagi menghajikan orang yang akan diwakilinya itu. Saya sendiri, sesudah mendapatkan keterangan dari ustad yang lebih faham, menerima kondisi yang terakhir ini, harus ahli waris sendiri yang menggantikan atau membadalkan orang yang sudah meninggal.

5. T. Ada orang yang berniat begini. Kalau usaha saya berhasil maka saya akan beramal begini atau bersedekah sekian. Bagaimana hukumnya?

J. Itu namanya dia bernazar. Membayar sesuai dengan yang diniatkannya itu ketika apa yang diusahakannya berhasil seperti yang diinginkannya wajib hukumnya. Bernazar itu hanya boleh untuk amalan-amalan yang diridhai Allah dan dengan tebusan atau yang dibayarkan juga yang diridhai Allah.

Wallahu a’lam