DISKUSI AHAD MALAM (BA’DA MAGHRIB)
MESJID AL HUSNA KOMPLEKS DEPKES II
JATIBENING
(24)
Ahad 27 Mai 2007 / 11 Jumadil Awal 1428
Materi Diskusi : Adab Niat
Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM
1. Adab Niat
Niat memiliki peranan penting dalam segala kegiatan dan amaliah keagamaan maupun keduniaan, karena semua amal itu tergantung pada niatnya. Suatu amal dipandang baik jika niatnya baik. Begitu pula dengan sah atau tidaknya suatu amal tergantung dari pada niatnya. Maka niat itu penting pada setiap amal perbuatan dan wajib untuk diluruskan.
Firman Allah dalam surat Al Bayyinah (98) ayat 5 yang artinya; ’Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.....’
Dan Firman Allah pula; ’ Katakanlah! Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada Nya.’ (Surat Az Zumar (39) ayat 12).
Berdasarkan hadits Rasulullah SAW; ’Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung pada niatnya.’ (Muttafaq ’alaih).
Dan pada hadits yang lain beliau bersabda; ’Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan hartamu. Allah hanya melihat hatimu.’ Melihat hati artinya melihat kepada niat, karena niat itu sebagai pembangkit dan pendorong untuk beramal. Sabda Rasulullah pula; ’Barangsiapa bercita-cita hendak melakukan satu kebaikan tetapi tidak bisa dilaksanakannya, maka dituliskan baginya satu kebajikan.’ (Riwayat Muslim).
Sabda beliau yang lain; ’Manusia itu ada empat macam yaitu orang yang diberi Allah ilmu dan harta. Lalu ia mengamalkan ilmu yang dimiliki dengan hartanya. Kemudian ada orang berkata; Jika aku diberi Allah seperti yang diberikan kepada orang itu, aku akan berbuat seperti dia. Maka kedua orang itu pahalanya sama. Dan ada orang yang diberi Allah harta tetapi tidak diberi ilmu, lalu harta itu digunakannya untuk maksiat. Kemudian ada seseorang berkata; Seandainya aku diberi kekayaan seperti dia, aku akan berbuat maksiat seperti dia. Kedua orang itu dosanya sama.’ (Riwayat Ibnu Majah).
Orang yang berniat baik mendapat pahala, sedangkan orang yang berniat buruk diberi balasan dosa. Karena segala sesuatu itu tergantung dari niatnya.
Sabda Rasulullah SAW pula; ’Sesungguhnya di Madinah ada sekelompok kaum Mukminin yang tak dapat ikut menuruni lembah, menyusuri jalan untuk berperang, yang membuat orang kafir marah, tidak pula ikut berinfak dan menderita kelaparan, melainkan ikut bersama kita untuk berjuang, padahal mereka di Madinah. Seseorang bertanya kepada Nabi. ’Bagaimana keadaan mereka ya Rasulullah?’ Nabi menjawab; ’Mereka berhalangan. Tapi mereka ikut bersama kita dengan niat yang baik.’ (riwayat Abu Daud dan Bukhari (diringkas)).
Dengan demikian, niat yang baik itu menyebabkan orang yang tidak ikut berperang dan berjuang sama pahalanya dengan orang yang berperang dan berjuang.
Sabda Rasulullah SAW pula; ’Apabila dua orang Muslim berkelahi dengan pedangnya, maka yang membunuh dan yang terbunuh masuk neraka. Nabi ditanya orang. Ya Rasulullah, yang membunuh sudah jelas, tetapi bagaimana ihwalnya yang dibunuh? Nabi bersabda; ’Karena yang dibunuh berniat membunuh lawannya.’ (Muttafaq ’alaih).
Sabda Rasulullah SAW pula; ’Barang siapa mengawini seorang perempuan dengan mahar, tetapi tidak berniat membayar maharnya, maka dia termasuk golongan pezina. Dan barangsiapa berhutang, tetapi tidak berniat untuk membayarnya maka dia termasuk pencuri.’ (Riwayat Ahmad dan Ibnu Majjah).
Dengan niat buruk, yang baik dapat berubah menjadi haram dan terlarang dan sesuatu yang mudah menjadi susah. Semua itu menegaskan betapa sensitif dan betapa besarnya posisi niat dalam hati seorang Muslim. Setiap Muslim dituntut agar berupaya dengan maksimal menjelaskan niat. Jangan sampai melakukan suatu amal dengan niat yang tidak baik, karena niat adalah roh dan tiangnya amal. Amalan tanpa niat hanyalah perbuatan yang ingin agar dilihat orang, yang justru dibenci oleh Allah.
Pahamlah kita bahwa niat itu merupakan rukun dari amal perbuatan dan ibadah. Niat itu bukan hanya diucapkan oleh lidah dan hati saja, tetapi haruslah merupakan dorongan hati untuk melakukan amalan dengan tujuan yang benar yakni mencapai suatu kebajikan atau menolak suatu kemudaratan dan diniatkan semata-mata untuk mencari keridhaan Allah.
Amalan yang jaiz (sesuatu yang boleh dikerjakan tapi tidak mempunyai nilai ibadah) dapat berubah hukumnya berkat niat yang baik sehingga hal itu menjadikan amalan yang akan mendapat pahala dari Allah. Sebaliknya, amal yang baik jika tidak dilandasi niat yang baik sangat mungkin menjadi sia-sia bahkan berubah menjadi kemaksiatan, seperti misalnya berubah menjadi ria dan sombong, ketika kita menginginkan atau berniat agar perbuatan itu dipuji orang.
2. Diskusi
1. T. Ada orang yang berniat memberikan sesuatu atau mengerjakan sesuatu, tapi keburu meninggal. Oleh ahli warisnya sesuatu itu tidak diberikan atau dikerjakan. Bagaimana hukumnya untuk ahli waris itu?
J. Katakan seseorang berniat pergi mengerjakan ibadah haji. Ongkos untuk naik haji itu sudah tersedia. Tapi sebelum melaksanakan niat itu dia meninggal. Jika si ahli waris mengetahui niat orang tersebut sebaiknya dia laksanakan apa yang sudah diniatkan itu. Tapi seandainya si ahli waris sesudah ditinggal mati memerlukan biaya pergi naik haji itu untuk keperluan hidupnya tidaklah mengapa kalau dia menggunakannya untuk itu terlebih dahulu tapi tetap dia harus menyadari bahwa kalau dia mempunyai kemampuan kelak, dia harus menyampaikan niat orang tadi itu.
2. T. Kita sedang mengerjakan sesuatu perbuatan atau amalan. Sebelum itu selesai, karena ada kendala, ada orang lain mengajak melakukan amalan yang lain yang kita tidak atau belum berniat mengerjakannya. Bolehkah kita merubah niat?
J. Pada suatu pagi Rasulullah SAW pulang ke rumah dan bertanya kepada istri beliau, adakah makanan untuk sarapan. Oleh istri beliau dijawab, tidak ada. Sabda beliau, kalau begitu saya berpuasa. Padahal beliau tidak berniat berpuasa sebelumnya dan saat itu sudah pagi. Jadi boleh saja niat itu diganti di tengah jalan selama untuk mengerjakan perbuatan amal.
3. T. Tadi disebutkan bahwa orang yang berniat jahat sudah dihitung berdosa sementara saya pernah mendengar keterangan dari ustad bahwa ada hadits Nabi yang mengatakan bahwa perbuatan baik, baru diniatkan saja sudah dinilai dan ada pahalanya di sisi Allah. Kebalikannya, perbuatan jahat kalau baru diniatkan tapi belum dikerjakan belum dinilai oleh Allah. Jadi mana yang benar?
J. Hadits itu juga pernah saya dengar. Harusnya itulah yang benar, namun keterangan yang mengatakan bahwa kalau seseorang berniat jahat sudah langsung dihitung berdosa maksudnya agar kita memelihara diri dari berniat melakukan perbuatan jahat. Sebab dikhawatirkan nanti, kalau kita berniat berbuat jahat, jangan-jangan setan akan mendorong dan menggiring kita agar segera mengerjakan niat jahat tersebut. Dan kalau itu sampai dilakukan maka jatuhlah kita kepada dosa, dikarenakan niat yang jahat sebelumnya. Dapat dipahami pendapat itu tadi untuk berjaga-jaga dalam memasang niat.
4. T. Tadi disebutkan bahwa kalau ada orang yang sudah berniat mengerjakan haji lalu dia meninggal, ahli warisnya wajib melanjutkan niatnya untuk menghajikannya. Tetapi dikatakan juga boleh saja ahli warisnya menggunakan dulu uang itu untuk keperluan lain. Bukankah lebih baik dia gunakan uang tersebut untuk menunaikan rukun haji bagi dirinya sendiri lalu kemudian membayar badal haji untuk menghajikan keluarganya yang sudah meninggal tersebut?
J. Mengenai badal haji, ada yang berpendapat bahwa boleh kita membayar seseorang di Makkah sana untuk menghajikan orang lain dengan membayarnya. Tapi ada pendapat lain yang mengatakan bahwa yang membadalkan itu mestilah anggota keluarganya sendiri atau ahli warisnya. Sementara untuk membadalkan haji haruslah yang bersangkutan haji untuk dirinya sendiri terlebih dahulu lalu tahun berikutnya baru pergi lagi menghajikan orang yang akan diwakilinya itu. Saya sendiri, sesudah mendapatkan keterangan dari ustad yang lebih faham, menerima kondisi yang terakhir ini, harus ahli waris sendiri yang menggantikan atau membadalkan orang yang sudah meninggal.
5. T. Ada orang yang berniat begini. Kalau usaha saya berhasil maka saya akan beramal begini atau bersedekah sekian. Bagaimana hukumnya?
J. Itu namanya dia bernazar. Membayar sesuai dengan yang diniatkannya itu ketika apa yang diusahakannya berhasil seperti yang diinginkannya wajib hukumnya. Bernazar itu hanya boleh untuk amalan-amalan yang diridhai Allah dan dengan tebusan atau yang dibayarkan juga yang diridhai Allah.
Wallahu a’lam
Thursday, November 26, 2009
Tuesday, November 24, 2009
Diskusi Ahad Malam (23)
DISKUSI AHAD MALAM (BA’DA MAGHRIB)
MESJID AL HUSNA KOMPLEKS DEPKES II
JATIBENING
(23)
Ahad 20 Mai 2007 / 04 Jumadil Awal 1428
Materi Diskusi : Iman Kepada Qada Dan Qadar
Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM
1. Qada Dan Qadar
Orang Islam percaya terhadap terhadap qada dan qadar Allah. Qada adalah ketentuan Allah sejak azali mengenai adanya sesuatu atau tidak adanya sesuatu. Qadar adalah penciptaan Allah terhadap sesuatu dengan cara tertentu dan dalam waktu tertentu. Tidak ada sesuatu yang terjadi di alam ini, bahkan semua perbuatan hamba yang diusahakannya, semua ada dalam ilmu Allah. Dan Allah Maha Adil dalam qada dan qadarnya, Mahabijaksana dalam tindakan dan perencanaan Nya. Kebijaksanaan Allah mengikuti kehendak Nya sehingga segala apa yang dikehendaki Nya pasti terjadi. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari dan dengan izin Allah.
2. Dalil-dalil Nakli
Allah memberitahukan soal qada dan qadar dalam firman Nya; ’Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.’ (Al Qamar (54) ayat 49).
Begitu juga dengan firman Allah ; ’Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami lah khasanahnya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.’ (Al Hijr (15) ayat 21).
Dan pada ayat yang lain, ’Tidak ada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.’ (Al Hadid (57) ayat 22).
Dan firman Allah, ’Katakanlah; Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dia lah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal.’ (At Taubah (9) ayat 51).
Dan firman Allah pula, ’Dan pada sisi Allah lah kunci-kunci semua yang gaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).’ (At An’am (6) ayat 59).
Dan firman Allah, ’Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka.’ (Al Anbiya (21) ayat 101).
Dan juga firman Allah, ’.... Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi petunjuk.....’ (Al A’raf (7) ayat 43).
Rasulullah mengemukakan tentang qada dan qadar Allah dalam hadits beliau; ’Sesungguhnya setiap orang dari kamu diciptakan dalam perut ibunya selama empat puluh hari berupa nutfah, kemudian selama empat puluh hari menjadi ’alaqah. Kemudian selama empat puluh hari pula menjadi mudgah. Kemudian diutuslah kepadanya malaikat untuk meniupkan ruh dan diperintahkan untuk menulis empat kata, yaitu menuliskan tentang rezeki, ajal, amal perbuatannya dan celaka atau bahagianya. Maka demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, jika seseorang daripadamu telah beramal dengan amal ahli surga, sehingga antara dia dengan surga hanya tinggal satu hasta saja, kemudian karena kitab telah mendahuluinya (sebagai ahli neraka), maka iapun masuklah ke dalam neraka, juga seseorang telah beramal dengan amal ahli neraka, hingga antara dia dengan neraka hanya tinggal satu hasta, namun kitab (ketentuan Allah) telah mendahuluinya (sebagai ahli surga), maka ia akan beramal dengan amal ahli surga, maka masuklah dia ke dalam surga.’ (Riwayat Muslim).
Pada hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda; ’Telah berbantah Adam dan Musa. Musa berkata; ’Wahai Adam, engkau nenek moyang kami. Engkau telah mengecewakan kami, engkau telah keluarkan kami dari surga.’ Adam menjawab; ’Engkau Musa, Allah telah memilih kamu untuk memperoleh firman Nya dan Taurat telah diberikan Allah untukmu. Engkau mencela aku atas sesuatu yang Allah takdirkan untukku empat puluh tahun sebelum aku diciptakan.’ Maka menanglah Adam atas Musa.’ (Riwayat Muslim).
Pada hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda; ’Iman adalah percaya kepada Allah, kepada malaikat, kepada kitab-kitab, kepada Rasul-rasul Nya, kepada hari akhir dan beriman kepada baik dan buruknya qadar.’ (Riwayat Ahmad).
Sabda Rasulullah SAW; ’Beramallah kamu sekalian, karena setiap orang dimudahkan terhadap sesuatu yang telah diciptakan untuknya.’ (Riwayat Muslim).
Dan sabda Rasulullah SAW kepada Abdullah bin Qais; ’Wahai Abdullah bin Qais, aku ingin mengajarmu suatu kalimat yang merupakan kekayaan surga, yaitu; Tiada ada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. (Laa haula wa laa quwwata illaa billaah). (Muttafaq ’alaih).
3. Dalil-dalil Akli
a. Sesungguhnya akal tidak menyangkal sesuatu yang bertalian dengan qada dan qadar Allah, dengan hikmah pengaturan Nya. Bahkan akal mengharuskan itu semua, karena adanya bukti-bukti yang nyata di alam ini.
b. Iman kepada Allah dan kepada kekuasaan Nya mengharuskan iman kepada qada dan qadar, hikmah dan kehendak Nya.
c. Bila seorang arsitek ahli bangunan menggambar sebuah gedung di atas sehelai kertas dan merencanakan waktu pelaksanaannya, kemudian melaksanakan pembangunannya, maka rencana tersebut tidak dianggap selesai sebelum gedung itu terlaksana dibangun mulai dari gambar di atas kertas sampai menjelma menjadi bangunan sebuah gedung.
2. Diskusi
1. T. Apa-apa yang akan terjadi terhadap kita sudah tertulis dalam ketetapan Allah. Apakah kita harus menerima saja apa adanya sesuatu yang sudah ditetapkan akan terjadi kepada kita dan kita tidak perlu berusaha apa-apa lagi?
J. Tidak demikian. Ketetapan Allah tentang apa-apa yang akan terjadi kepada diri kita sepanjang yang saya fahami bukanlah sesuatu yang sempit seperti sebuah titik atau sebentuk garis tipis. Melainkan ketetapan-ketetapan Allah itu berada di dalam sebuah bidang yang lentur. Kemungkinan yang akan terjadi terletak di ekstrim paling kiri ke ekstrim paling kanan, yang luas bidangnya hanya Allah saja yang tahu. Kita boleh berusaha untuk mendapatkan yang terbaik, menurut harapan dan pemikiran kita dari kemungkinan-kemungkinan itu. Contohnya, kita menerima dua buah undangan pesta pada waktu yang sama. Kita boleh menentukan ke pesta yang mana kita akan menuju. Kedua-duanya mungkin dituju tapi tidak mungkin sekali dua didapat.
2. T. Orang Jawa mengatakan bahwa pertemuan, jodoh, rejeki, maut itu semua sudah diatur dari sononya. Bolehkah kita mengatakan bahwa jodoh dan rejeki itu masih bisa kita berusaha menggapainya tapi maut hanya Allah saja yang menetapkan. Bagaimana dengan pemikiran seperti itu?
J. Kesemuanya hanya Allah yang menentukan. Namun kita disuruh berusaha dan boleh membuat pilihan. Misalnya jodoh. Mungkin seseorang telah menimang-nimang beberapa orang calon jodoh sebelum menetapkan pilihan dan ketika dia sudah mengambil keputusan maka berlakulah ketetapan Allah kepadanya. Kita biasa menyebut maka berlakulah takdir kepadanya. Tapi sebelumnya dia boleh memilih di antara beberapa kemungkinan yang akan menjadi jodoh itu. Begitu juga dengan maut. Maut itu sudah pasti datangnya. Allah saja yang tahu kapan maut itu akan benar-benar mendatangi kita. Sebelum dia datang, ketika kita sakit, kita masih harus berusaha mencari kesembuhan. Sekali lagi pemahaman saya saat maut itu tidaklah ditetapkan oleh Allah tepat dengan detik dan jamnya sebelum terjadi, sehingga orang masih bisa berusaha untuk hidup lebih lama. Contoh kongkritnya, jika ada orang sakit, harus cuci darah. Kalau dia tidak melakukan perawatan cuci darah, dalam tempo sebulan darah di dalam tubuhnya sudah akan dipenuhi oleh racun yang mengancam jiwanya. Tapi dengan ikhtiar untuk cuci darah, Allah memberikan kesempatan kepadanya untuk hidup lebih lama.
3. T. Manakah yang harus diimani? Yang sudah terjadi atau yang akan datang dan akan terjadi kepada kita?
J. Kita wajib mengimani yang sudah terjadi. Kalau seseorang sudah meninggal, seperti itulah takdir kepadanya dan itulah ketetapan Allah baginya. Tidak boleh kita menyangkal ataupun mengumpat. Tidak boleh mengatakan, seandainya dia tidak ’begitu’ tentu tidak tidak akan terjadi ’begini’. Yang akan datang kita imani bahwa semuanya itu ada di dalam tangan Allah sementara kita wajib berikhtiar untuk mendapatkannya. Posisinya saat ini kita tidak mengetahui, apa yang akan terjadi itu, bagaimana dia akan terjadi, kapan dia akan terjadi. Tidak boleh pula kita meramal-ramalkannya.
4. T. Bagaimana dengan ucapan; ’Dia bisa jadi seperti itu kan karena pertolonganku. Kalau tidak aku tolong tidaklah dia akan seperti sekarang ini.’ Bolehkah kita berkata demikian ketika faktanya memang dia kita tolong dulu?
J. Tidak baik perkataan seperti itu. Apa yang sudah terjadi dengan seseorang itu sudah merupakan ketetapan Allah, sudah merupakan takdir yang wajib diimani. Kebetulan Allah menggunakan diri kita sebagai media untuk orang itu seperti itu. Kalaupun tidak melalui kita, kalau Allah berkehendak, Allah bisa menjadikan siapa saja sebagai penyebab pertolongan kepadanya.
5. T. Dimanakah terjadinya dialog antara Nabi Adam dan Nabi Musa seperti diceritakan dalam hadits tadi?
J. Hanya Allah saja yang tahu dimana terjadinya. Tapi Nabi Muhammad mengisahkan demikian, maka kita imani saja.
Wallahu a’lam
MESJID AL HUSNA KOMPLEKS DEPKES II
JATIBENING
(23)
Ahad 20 Mai 2007 / 04 Jumadil Awal 1428
Materi Diskusi : Iman Kepada Qada Dan Qadar
Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM
1. Qada Dan Qadar
Orang Islam percaya terhadap terhadap qada dan qadar Allah. Qada adalah ketentuan Allah sejak azali mengenai adanya sesuatu atau tidak adanya sesuatu. Qadar adalah penciptaan Allah terhadap sesuatu dengan cara tertentu dan dalam waktu tertentu. Tidak ada sesuatu yang terjadi di alam ini, bahkan semua perbuatan hamba yang diusahakannya, semua ada dalam ilmu Allah. Dan Allah Maha Adil dalam qada dan qadarnya, Mahabijaksana dalam tindakan dan perencanaan Nya. Kebijaksanaan Allah mengikuti kehendak Nya sehingga segala apa yang dikehendaki Nya pasti terjadi. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari dan dengan izin Allah.
2. Dalil-dalil Nakli
Allah memberitahukan soal qada dan qadar dalam firman Nya; ’Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.’ (Al Qamar (54) ayat 49).
Begitu juga dengan firman Allah ; ’Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami lah khasanahnya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.’ (Al Hijr (15) ayat 21).
Dan pada ayat yang lain, ’Tidak ada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.’ (Al Hadid (57) ayat 22).
Dan firman Allah, ’Katakanlah; Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dia lah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal.’ (At Taubah (9) ayat 51).
Dan firman Allah pula, ’Dan pada sisi Allah lah kunci-kunci semua yang gaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).’ (At An’am (6) ayat 59).
Dan firman Allah, ’Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka.’ (Al Anbiya (21) ayat 101).
Dan juga firman Allah, ’.... Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi petunjuk.....’ (Al A’raf (7) ayat 43).
Rasulullah mengemukakan tentang qada dan qadar Allah dalam hadits beliau; ’Sesungguhnya setiap orang dari kamu diciptakan dalam perut ibunya selama empat puluh hari berupa nutfah, kemudian selama empat puluh hari menjadi ’alaqah. Kemudian selama empat puluh hari pula menjadi mudgah. Kemudian diutuslah kepadanya malaikat untuk meniupkan ruh dan diperintahkan untuk menulis empat kata, yaitu menuliskan tentang rezeki, ajal, amal perbuatannya dan celaka atau bahagianya. Maka demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, jika seseorang daripadamu telah beramal dengan amal ahli surga, sehingga antara dia dengan surga hanya tinggal satu hasta saja, kemudian karena kitab telah mendahuluinya (sebagai ahli neraka), maka iapun masuklah ke dalam neraka, juga seseorang telah beramal dengan amal ahli neraka, hingga antara dia dengan neraka hanya tinggal satu hasta, namun kitab (ketentuan Allah) telah mendahuluinya (sebagai ahli surga), maka ia akan beramal dengan amal ahli surga, maka masuklah dia ke dalam surga.’ (Riwayat Muslim).
Pada hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda; ’Telah berbantah Adam dan Musa. Musa berkata; ’Wahai Adam, engkau nenek moyang kami. Engkau telah mengecewakan kami, engkau telah keluarkan kami dari surga.’ Adam menjawab; ’Engkau Musa, Allah telah memilih kamu untuk memperoleh firman Nya dan Taurat telah diberikan Allah untukmu. Engkau mencela aku atas sesuatu yang Allah takdirkan untukku empat puluh tahun sebelum aku diciptakan.’ Maka menanglah Adam atas Musa.’ (Riwayat Muslim).
Pada hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda; ’Iman adalah percaya kepada Allah, kepada malaikat, kepada kitab-kitab, kepada Rasul-rasul Nya, kepada hari akhir dan beriman kepada baik dan buruknya qadar.’ (Riwayat Ahmad).
Sabda Rasulullah SAW; ’Beramallah kamu sekalian, karena setiap orang dimudahkan terhadap sesuatu yang telah diciptakan untuknya.’ (Riwayat Muslim).
Dan sabda Rasulullah SAW kepada Abdullah bin Qais; ’Wahai Abdullah bin Qais, aku ingin mengajarmu suatu kalimat yang merupakan kekayaan surga, yaitu; Tiada ada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. (Laa haula wa laa quwwata illaa billaah). (Muttafaq ’alaih).
3. Dalil-dalil Akli
a. Sesungguhnya akal tidak menyangkal sesuatu yang bertalian dengan qada dan qadar Allah, dengan hikmah pengaturan Nya. Bahkan akal mengharuskan itu semua, karena adanya bukti-bukti yang nyata di alam ini.
b. Iman kepada Allah dan kepada kekuasaan Nya mengharuskan iman kepada qada dan qadar, hikmah dan kehendak Nya.
c. Bila seorang arsitek ahli bangunan menggambar sebuah gedung di atas sehelai kertas dan merencanakan waktu pelaksanaannya, kemudian melaksanakan pembangunannya, maka rencana tersebut tidak dianggap selesai sebelum gedung itu terlaksana dibangun mulai dari gambar di atas kertas sampai menjelma menjadi bangunan sebuah gedung.
2. Diskusi
1. T. Apa-apa yang akan terjadi terhadap kita sudah tertulis dalam ketetapan Allah. Apakah kita harus menerima saja apa adanya sesuatu yang sudah ditetapkan akan terjadi kepada kita dan kita tidak perlu berusaha apa-apa lagi?
J. Tidak demikian. Ketetapan Allah tentang apa-apa yang akan terjadi kepada diri kita sepanjang yang saya fahami bukanlah sesuatu yang sempit seperti sebuah titik atau sebentuk garis tipis. Melainkan ketetapan-ketetapan Allah itu berada di dalam sebuah bidang yang lentur. Kemungkinan yang akan terjadi terletak di ekstrim paling kiri ke ekstrim paling kanan, yang luas bidangnya hanya Allah saja yang tahu. Kita boleh berusaha untuk mendapatkan yang terbaik, menurut harapan dan pemikiran kita dari kemungkinan-kemungkinan itu. Contohnya, kita menerima dua buah undangan pesta pada waktu yang sama. Kita boleh menentukan ke pesta yang mana kita akan menuju. Kedua-duanya mungkin dituju tapi tidak mungkin sekali dua didapat.
2. T. Orang Jawa mengatakan bahwa pertemuan, jodoh, rejeki, maut itu semua sudah diatur dari sononya. Bolehkah kita mengatakan bahwa jodoh dan rejeki itu masih bisa kita berusaha menggapainya tapi maut hanya Allah saja yang menetapkan. Bagaimana dengan pemikiran seperti itu?
J. Kesemuanya hanya Allah yang menentukan. Namun kita disuruh berusaha dan boleh membuat pilihan. Misalnya jodoh. Mungkin seseorang telah menimang-nimang beberapa orang calon jodoh sebelum menetapkan pilihan dan ketika dia sudah mengambil keputusan maka berlakulah ketetapan Allah kepadanya. Kita biasa menyebut maka berlakulah takdir kepadanya. Tapi sebelumnya dia boleh memilih di antara beberapa kemungkinan yang akan menjadi jodoh itu. Begitu juga dengan maut. Maut itu sudah pasti datangnya. Allah saja yang tahu kapan maut itu akan benar-benar mendatangi kita. Sebelum dia datang, ketika kita sakit, kita masih harus berusaha mencari kesembuhan. Sekali lagi pemahaman saya saat maut itu tidaklah ditetapkan oleh Allah tepat dengan detik dan jamnya sebelum terjadi, sehingga orang masih bisa berusaha untuk hidup lebih lama. Contoh kongkritnya, jika ada orang sakit, harus cuci darah. Kalau dia tidak melakukan perawatan cuci darah, dalam tempo sebulan darah di dalam tubuhnya sudah akan dipenuhi oleh racun yang mengancam jiwanya. Tapi dengan ikhtiar untuk cuci darah, Allah memberikan kesempatan kepadanya untuk hidup lebih lama.
3. T. Manakah yang harus diimani? Yang sudah terjadi atau yang akan datang dan akan terjadi kepada kita?
J. Kita wajib mengimani yang sudah terjadi. Kalau seseorang sudah meninggal, seperti itulah takdir kepadanya dan itulah ketetapan Allah baginya. Tidak boleh kita menyangkal ataupun mengumpat. Tidak boleh mengatakan, seandainya dia tidak ’begitu’ tentu tidak tidak akan terjadi ’begini’. Yang akan datang kita imani bahwa semuanya itu ada di dalam tangan Allah sementara kita wajib berikhtiar untuk mendapatkannya. Posisinya saat ini kita tidak mengetahui, apa yang akan terjadi itu, bagaimana dia akan terjadi, kapan dia akan terjadi. Tidak boleh pula kita meramal-ramalkannya.
4. T. Bagaimana dengan ucapan; ’Dia bisa jadi seperti itu kan karena pertolonganku. Kalau tidak aku tolong tidaklah dia akan seperti sekarang ini.’ Bolehkah kita berkata demikian ketika faktanya memang dia kita tolong dulu?
J. Tidak baik perkataan seperti itu. Apa yang sudah terjadi dengan seseorang itu sudah merupakan ketetapan Allah, sudah merupakan takdir yang wajib diimani. Kebetulan Allah menggunakan diri kita sebagai media untuk orang itu seperti itu. Kalaupun tidak melalui kita, kalau Allah berkehendak, Allah bisa menjadikan siapa saja sebagai penyebab pertolongan kepadanya.
5. T. Dimanakah terjadinya dialog antara Nabi Adam dan Nabi Musa seperti diceritakan dalam hadits tadi?
J. Hanya Allah saja yang tahu dimana terjadinya. Tapi Nabi Muhammad mengisahkan demikian, maka kita imani saja.
Wallahu a’lam
Monday, November 23, 2009
Diskusi Ahad Malam (22)
DISKUSI AHAD MALAM (BA’DA MAGHRIB)
MESJID AL HUSNA KOMPLEKS DEPKES II
JATIBENING
(22)
Ahad 13 Mai 2007 / 26 Rabiul Akhir 1428
Materi Diskusi : Tauhid Dalam Ibadah
Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM
1. Tauhid
Orang Islam harus percaya terhadap keuluhiyahan Allah (ke Tuhan an (illaah) Allah) dan percaya pula terhadap kerububiyahan Nya (ke Pemeliharaan (rabb) Allah) atas seluruh alam semesta. Sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah dan tidak ada pemelihara selain Dia. Seluruh ibadah haruslah hanya bagi Nya semata seperti yang disyariatkan bagi hamba-hamba Nya, sebagaimana seluruh perbuatan dan pengabdian juga hanya diperuntukkan bagi Allah semata. Jika memohon sesuatu maka permohonan itu haruslah kepada Nya, jika meminta tolong, permintaan itu hanya kepada Nya. Semua amal/perbuatan batin seperti takut, berharap, minta tolong, cinta, mengagungkan , bertawakal hanyalah kepada Allah. Begitu pula dengan amal lahir seperti shalat, zakat, puasa haji dan jihad, semua itu hanyalah bagi Allah.
2. Dalil-dalil Nakli
Allah memerintahkan agar kita bertauhid dalam beribadah seperti disebutkan dalam firman Nya; ’....tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku.....’ (Surat Thaha (20) ayat 14).
Begitu juga dengan firman Allah ; ’Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui.’ (Al Baqarah (2) ayat 21 – 22).
Dan pada ayat yang lain, ’Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah....’ (Surat Muhammad (47) ayat 19).
Allah memberitahukan tentang keharusan mengesakan Allah dalam beribadah. Firman Allah; ’Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada setiap umat (untuk menyerukan); Sembahlah Allah, dan jauhilah thagut itu....’ (Surat An Nahl (16) ayat 36.
Dan firman Nya; ’Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.’ (Surat Al Anbiya’ (21) ayat 25)
Dan firman Allah; ’Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba Nya (yaitu), peringatkanlah olehmu sekalian bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kalian bertakwa kepada Ku.’ (Surat An Nahl (16) ayat 2).
Rasulullah mengemukakan soal tauhid dalam ibadah. Sabda beliau kepada Mu’az tatkala ia diutus ke Yaman; ’Hendaklah yang pertama engkau serukan kepada mereka adalah mengesakan Allah.’ (Muttafaq ’alaih).
Pada hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda kepada Abdullah bin Abbas ; ’Apabila kamu meminta, memintalah kepada Allah. Dan bila minta tolong, minta tolonglah kepada Allah.’
Pada hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda; ’Sesuatu yang paling aku takutkan padamu adalah syirik kecil. Mereka bertanya; Syirik yang bagaimana itu ya Rasulullah? Sabda beliau; Ialah ria. Allah berfirman pada hari kiamat tatkala manusia dibalas amalnya; Pergilah kepada orang yang kamu berbuat ria di dunia. Dan perhatikanlah, apakah kamu memperoleh pahala dari mereka.’ (Riwayat Ahmad).
Sabda Rasulullah SAW; ’Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah, musyriklah dia.’ (Riwayat Tirmizi).
Dan sabda Rasulullah SAW pula; ’Bukankah mereka menghalalkan bagimu apa yang diharamkan Allah lalu kamu menghalalkannya. Dan mereka mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, lalu kamu mengharamkannya pula. Mereka menjawab benar. Nabi bersabda; Itulah ibadah kepada mereka.’ Hadits ini diucapkan Nabi SAW kepada Adi bin Hatim tatkala membaca firman Allah; ’Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahibnya sebagai tuhan selain Allah....’ (At Taubah (9) ayat 31. Adi berkata; Ya Rasulullah, kami tidak beribadah seperti mereka.’ (Riwayat Tirmizi).
Sabda Rasulullah SAW; ’Azimat, tangkal dan jampi-jampi adalah syirik.’ (Riwayat Ahmad dan Abu Daud).
3. Dalil-dalil Akli
a. Hanya Allah sendiri yang menciptakan, memberi rezeki, mengatur dan merencanakan. Maka manusia wajib beribadah hanya kepada Allah saja. Tidak ada sekutu bagi Allah dalam hal ibadah.
b. Semua makhluk dipelihara oleh Allah dan mereka (makhluk itu) membutuhkan Nya. Mereka tidak layak beribadah kepada selain Allah.
c. Apapun yang dimintai perlindungan, diseru, dimintai pertolongan selain Allah tidak mampu mengabulkan seruan , memberi pertolongan dan menolong tanpa seizin Allah.
2. Diskusi
1. T. Bagaimana hukumnya memakai ayat Al Quran yang dibungkus sebagai azimat?
J. Seperti dijelaskan oleh hadits Rasulullah di atas, perbuatan itu termasuk syirik.
2. T. Bagaimana kalau kita mengamalkan dan membaca ayat al Quran dan meyakini bahwa dengan bacaan itu kita mempunyai keistimewaan misalnya tidak bisa dilihat orang?
J. Keyakinan seperti itu juga cenderung keliru. Ayat-ayat al Quran bukanlah merupakan jampi-jampi untuk mengelabui pandangan orang lain. Kalau memang ada perlunya kita tidak terlihat oleh orang lain maka lebih baik kita mohonkan langsung kepada Allah agar kiranya Allah melindungi kita dari pandangan orang. Lalu sesudah bermohon itu kita membaca ayat al Quran itu boleh-boleh saja. Seandainya kita memang jadi tidak terlihat oleh orang lain mudah-mudahan itu berkat doa kita dikabulkan Allah bukan karena kita membaca ayat al Qurannya.
3. T. Ada orang yang meletakkan tulisan ayat Kursiy di dinding dengan harapan dengan adanya ayat tersebut diletakkan seperti itu, maka rumah itu akan terlindung dari malapetaka. Bagaimana dengan keyakinan seperti ini?
J. Keyakinan seperti ini keliru. Yang akan melindungi siapa saja dari malapetaka tidak ada selain Allah. Tulisan ayat Kursiy itu tidak mempunyai kemampuan untuk melindungi.
4. T. Bolehkah kita memasang foto atau lukisan orang shaleh untuk mengingat jasanya? Bagaimana pula dengan memajang patung-patung sebagai hiasan?
J. Ada hadits Rasulullah yang mengatakan bahwa orang yang melukis makhluk hidup itu nanti di akhirat akan disuruh Allah memberi nyawa kepada lukisannya itu. Dan ada hadits yang lain yang mengatakan bahwa malaikat rahmat tidak mau masuk kedalam rumah yang didalamnya ada lukisan makhluk hidup. Foto, yang mungkin diperlukan boleh saja dimiliki tapi sebaiknya tidak untuk dipajang sehubungan dengan keterangan bahwa malaikat rahmat tidak mau memasuki rumah yang di dalamnya ada lukisan. Begitu juga dengan patung-patung, tidak ada perlunya dijadikan hiasan bagi orang-orang beriman karena sangat mungkin mengganggu kepada nilai keimanan. Bagaimana nanti kalau suatu ketika shalat padahal di lemari di hadapannya ada patung. Tentu tidak baik yang demikian.
5. T. Ada orang yang punya kemampuan supra natural misalnya dia mampu menerbangkan makhluk-makhluk yang seram bentuknya seperti leak. Bagaimana hukumnya mempercayai yang demikian?
J. Itu adalah perbuatan sihir dan seharusnya kita minta perlindungan kepada Allah dari hal-hal yang seperti itu. Ilmu sihir itu ada. Bahkan seorang nabi seperti Nabi Musa juga bisa dikelabui mata beliau oleh sihir ketika anak buah Firaun melemparkan tali yang lalu terlihat seperti ular. (Baca Surat Thaha (20) ayat 66 – 67 – 68). Bahwa ada orang yang berkemampuan ilmu sihir itu adalah fakta. Dan ketika kita berdekatan dengan hal seperti itu secara tidak kita harapkan segeralah minta perlindungan kepada Allah.
6. T. Bolehkah kita mempercayai ramalan bintang? Atau yang sekarang disebut sebagai fengshui? Bagaimana pula dengan ramalan cuaca?
J. Ramalan bintang atau fengshui itu tidak ada dasarnya dan hanyalah rekaan saja. Mempercayai yang seperti itu syirik. Berbeda dengan ramalan cuaca yang memperhatikan keadaan panas bumi, pengaruhnya terhadap arah angin, terhadap penguapan, terhadap cuaca itu masih bisa difahami sebatas sebuah perkiraan.
7. K. Fengshui itu dilakukan dengan mempelajari posisi rumah secara statistik yang kemudian menyimpulkan bahwa rumah dengan posisi seperti ’ini’ punya kebiasaan seperti ’demikian’. Jadi ada unsur ilmiahnya juga.
J. Perbandingan secara statistik untuk kejadian yang sudah berlalu boleh saja, tapi bukan untuk meramalkan apa yang akan terjadi di waktu mendatang. Meramalkan yang akan terjadi untuk masa mendatang itu yang syirik hukumnya.
Wallahu a’lam
MESJID AL HUSNA KOMPLEKS DEPKES II
JATIBENING
(22)
Ahad 13 Mai 2007 / 26 Rabiul Akhir 1428
Materi Diskusi : Tauhid Dalam Ibadah
Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM
1. Tauhid
Orang Islam harus percaya terhadap keuluhiyahan Allah (ke Tuhan an (illaah) Allah) dan percaya pula terhadap kerububiyahan Nya (ke Pemeliharaan (rabb) Allah) atas seluruh alam semesta. Sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah dan tidak ada pemelihara selain Dia. Seluruh ibadah haruslah hanya bagi Nya semata seperti yang disyariatkan bagi hamba-hamba Nya, sebagaimana seluruh perbuatan dan pengabdian juga hanya diperuntukkan bagi Allah semata. Jika memohon sesuatu maka permohonan itu haruslah kepada Nya, jika meminta tolong, permintaan itu hanya kepada Nya. Semua amal/perbuatan batin seperti takut, berharap, minta tolong, cinta, mengagungkan , bertawakal hanyalah kepada Allah. Begitu pula dengan amal lahir seperti shalat, zakat, puasa haji dan jihad, semua itu hanyalah bagi Allah.
2. Dalil-dalil Nakli
Allah memerintahkan agar kita bertauhid dalam beribadah seperti disebutkan dalam firman Nya; ’....tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku.....’ (Surat Thaha (20) ayat 14).
Begitu juga dengan firman Allah ; ’Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui.’ (Al Baqarah (2) ayat 21 – 22).
Dan pada ayat yang lain, ’Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah....’ (Surat Muhammad (47) ayat 19).
Allah memberitahukan tentang keharusan mengesakan Allah dalam beribadah. Firman Allah; ’Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada setiap umat (untuk menyerukan); Sembahlah Allah, dan jauhilah thagut itu....’ (Surat An Nahl (16) ayat 36.
Dan firman Nya; ’Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.’ (Surat Al Anbiya’ (21) ayat 25)
Dan firman Allah; ’Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba Nya (yaitu), peringatkanlah olehmu sekalian bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kalian bertakwa kepada Ku.’ (Surat An Nahl (16) ayat 2).
Rasulullah mengemukakan soal tauhid dalam ibadah. Sabda beliau kepada Mu’az tatkala ia diutus ke Yaman; ’Hendaklah yang pertama engkau serukan kepada mereka adalah mengesakan Allah.’ (Muttafaq ’alaih).
Pada hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda kepada Abdullah bin Abbas ; ’Apabila kamu meminta, memintalah kepada Allah. Dan bila minta tolong, minta tolonglah kepada Allah.’
Pada hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda; ’Sesuatu yang paling aku takutkan padamu adalah syirik kecil. Mereka bertanya; Syirik yang bagaimana itu ya Rasulullah? Sabda beliau; Ialah ria. Allah berfirman pada hari kiamat tatkala manusia dibalas amalnya; Pergilah kepada orang yang kamu berbuat ria di dunia. Dan perhatikanlah, apakah kamu memperoleh pahala dari mereka.’ (Riwayat Ahmad).
Sabda Rasulullah SAW; ’Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah, musyriklah dia.’ (Riwayat Tirmizi).
Dan sabda Rasulullah SAW pula; ’Bukankah mereka menghalalkan bagimu apa yang diharamkan Allah lalu kamu menghalalkannya. Dan mereka mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, lalu kamu mengharamkannya pula. Mereka menjawab benar. Nabi bersabda; Itulah ibadah kepada mereka.’ Hadits ini diucapkan Nabi SAW kepada Adi bin Hatim tatkala membaca firman Allah; ’Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahibnya sebagai tuhan selain Allah....’ (At Taubah (9) ayat 31. Adi berkata; Ya Rasulullah, kami tidak beribadah seperti mereka.’ (Riwayat Tirmizi).
Sabda Rasulullah SAW; ’Azimat, tangkal dan jampi-jampi adalah syirik.’ (Riwayat Ahmad dan Abu Daud).
3. Dalil-dalil Akli
a. Hanya Allah sendiri yang menciptakan, memberi rezeki, mengatur dan merencanakan. Maka manusia wajib beribadah hanya kepada Allah saja. Tidak ada sekutu bagi Allah dalam hal ibadah.
b. Semua makhluk dipelihara oleh Allah dan mereka (makhluk itu) membutuhkan Nya. Mereka tidak layak beribadah kepada selain Allah.
c. Apapun yang dimintai perlindungan, diseru, dimintai pertolongan selain Allah tidak mampu mengabulkan seruan , memberi pertolongan dan menolong tanpa seizin Allah.
2. Diskusi
1. T. Bagaimana hukumnya memakai ayat Al Quran yang dibungkus sebagai azimat?
J. Seperti dijelaskan oleh hadits Rasulullah di atas, perbuatan itu termasuk syirik.
2. T. Bagaimana kalau kita mengamalkan dan membaca ayat al Quran dan meyakini bahwa dengan bacaan itu kita mempunyai keistimewaan misalnya tidak bisa dilihat orang?
J. Keyakinan seperti itu juga cenderung keliru. Ayat-ayat al Quran bukanlah merupakan jampi-jampi untuk mengelabui pandangan orang lain. Kalau memang ada perlunya kita tidak terlihat oleh orang lain maka lebih baik kita mohonkan langsung kepada Allah agar kiranya Allah melindungi kita dari pandangan orang. Lalu sesudah bermohon itu kita membaca ayat al Quran itu boleh-boleh saja. Seandainya kita memang jadi tidak terlihat oleh orang lain mudah-mudahan itu berkat doa kita dikabulkan Allah bukan karena kita membaca ayat al Qurannya.
3. T. Ada orang yang meletakkan tulisan ayat Kursiy di dinding dengan harapan dengan adanya ayat tersebut diletakkan seperti itu, maka rumah itu akan terlindung dari malapetaka. Bagaimana dengan keyakinan seperti ini?
J. Keyakinan seperti ini keliru. Yang akan melindungi siapa saja dari malapetaka tidak ada selain Allah. Tulisan ayat Kursiy itu tidak mempunyai kemampuan untuk melindungi.
4. T. Bolehkah kita memasang foto atau lukisan orang shaleh untuk mengingat jasanya? Bagaimana pula dengan memajang patung-patung sebagai hiasan?
J. Ada hadits Rasulullah yang mengatakan bahwa orang yang melukis makhluk hidup itu nanti di akhirat akan disuruh Allah memberi nyawa kepada lukisannya itu. Dan ada hadits yang lain yang mengatakan bahwa malaikat rahmat tidak mau masuk kedalam rumah yang didalamnya ada lukisan makhluk hidup. Foto, yang mungkin diperlukan boleh saja dimiliki tapi sebaiknya tidak untuk dipajang sehubungan dengan keterangan bahwa malaikat rahmat tidak mau memasuki rumah yang di dalamnya ada lukisan. Begitu juga dengan patung-patung, tidak ada perlunya dijadikan hiasan bagi orang-orang beriman karena sangat mungkin mengganggu kepada nilai keimanan. Bagaimana nanti kalau suatu ketika shalat padahal di lemari di hadapannya ada patung. Tentu tidak baik yang demikian.
5. T. Ada orang yang punya kemampuan supra natural misalnya dia mampu menerbangkan makhluk-makhluk yang seram bentuknya seperti leak. Bagaimana hukumnya mempercayai yang demikian?
J. Itu adalah perbuatan sihir dan seharusnya kita minta perlindungan kepada Allah dari hal-hal yang seperti itu. Ilmu sihir itu ada. Bahkan seorang nabi seperti Nabi Musa juga bisa dikelabui mata beliau oleh sihir ketika anak buah Firaun melemparkan tali yang lalu terlihat seperti ular. (Baca Surat Thaha (20) ayat 66 – 67 – 68). Bahwa ada orang yang berkemampuan ilmu sihir itu adalah fakta. Dan ketika kita berdekatan dengan hal seperti itu secara tidak kita harapkan segeralah minta perlindungan kepada Allah.
6. T. Bolehkah kita mempercayai ramalan bintang? Atau yang sekarang disebut sebagai fengshui? Bagaimana pula dengan ramalan cuaca?
J. Ramalan bintang atau fengshui itu tidak ada dasarnya dan hanyalah rekaan saja. Mempercayai yang seperti itu syirik. Berbeda dengan ramalan cuaca yang memperhatikan keadaan panas bumi, pengaruhnya terhadap arah angin, terhadap penguapan, terhadap cuaca itu masih bisa difahami sebatas sebuah perkiraan.
7. K. Fengshui itu dilakukan dengan mempelajari posisi rumah secara statistik yang kemudian menyimpulkan bahwa rumah dengan posisi seperti ’ini’ punya kebiasaan seperti ’demikian’. Jadi ada unsur ilmiahnya juga.
J. Perbandingan secara statistik untuk kejadian yang sudah berlalu boleh saja, tapi bukan untuk meramalkan apa yang akan terjadi di waktu mendatang. Meramalkan yang akan terjadi untuk masa mendatang itu yang syirik hukumnya.
Wallahu a’lam
Subscribe to:
Posts (Atom)