DISKUSI AHAD MALAM (BA’DA MAGHRIB)
MESJID AL HUSNA KOMPLEKS DEPKES II
JATIBENING
(21)
Ahad 13 Mai 2007 / 26 Rabiul Akhir 1428
Materi Diskusi : Tauhid Dalam Ibadah
Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM
1. Tauhid
Orang Islam harus percaya terhadap keuluhiyahan Allah (ke Tuhan an (illaah) Allah) dan percaya pula terhadap kerububiyahan Nya (ke Pemeliharaan (rabb) Allah) atas seluruh alam semesta. Sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah dan tidak ada pemelihara selain Dia. Seluruh ibadah haruslah hanya bagi Nya semata seperti yang disyariatkan bagi hamba-hamba Nya, sebagaimana seluruh perbuatan dan pengabdian juga hanya diperuntukkan bagi Allah semata. Jika memohon sesuatu maka permohonan itu haruslah kepada Nya, jika meminta tolong, permintaan itu hanya kepada Nya. Semua amal/perbuatan batin seperti takut, berharap, minta tolong, cinta, mengagungkan , bertawakal hanyalah kepada Allah. Begitu pula dengan amal lahir seperti shalat, zakat, puasa haji dan jihad, semua itu hanyalah bagi Allah.
2. Dalil-dalil Nakli
Allah memerintahkan agar kita bertauhid dalam beribadah seperti disebutkan dalam firman Nya; ’....tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku.....’ (Surat Thaha (20) ayat 14).
Begitu juga dengan firman Allah ; ’Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui.’ (Al Baqarah (2) ayat 21 – 22).
Dan pada ayat yang lain, ’Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah....’ (Surat Muhammad (47) ayat 19).
Allah memberitahukan tentang keharusan mengesakan Allah dalam beribadah. Firman Allah; ’Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada setiap umat (untuk menyerukan); Sembahlah Allah, dan jauhilah thagut itu....’ (Surat An Nahl (16) ayat 36.
Dan firman Nya; ’Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.’ (Surat Al Anbiya’ (21) ayat 25)
Dan firman Allah; ’Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba Nya (yaitu), peringatkanlah olehmu sekalian bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kalian bertakwa kepada Ku.’ (Surat An Nahl (16) ayat 2).
Rasulullah mengemukakan soal tauhid dalam ibadah. Sabda beliau kepada Mu’az tatkala ia diutus ke Yaman; ’Hendaklah yang pertama engkau serukan kepada mereka adalah mengesakan Allah.’ (Muttafaq ’alaih).
Pada hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda kepada Abdullah bin Abbas ; ’Apabila kamu meminta, memintalah kepada Allah. Dan bila minta tolong, minta tolonglah kepada Allah.’
Pada hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda; ’Sesuatu yang paling aku takutkan padamu adalah syirik kecil. Mereka bertanya; Syirik yang bagaimana itu ya Rasulullah? Sabda beliau; Ialah ria. Allah berfirman pada hari kiamat tatkala manusia dibalas amalnya; Pergilah kepada orang yang kamu berbuat ria di dunia. Dan perhatikanlah, apakah kamu memperoleh pahala dari mereka.’ (Riwayat Ahmad).
Sabda Rasulullah SAW; ’Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah, musyriklah dia.’ (Riwayat Tirmizi).
Dan sabda Rasulullah SAW pula; ’Bukankah mereka menghalalkan bagimu apa yang diharamkan Allah lalu kamu menghalalkannya. Dan mereka mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, lalu kamu mengharamkannya pula. Mereka menjawab benar. Nabi bersabda; Itulah ibadah kepada mereka.’ Hadits ini diucapkan Nabi SAW kepada Adi bin Hatim tatkala membaca firman Allah; ’Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahibnya sebagai tuhan selain Allah....’ (At Taubah (9) ayat 31. Adi berkata; Ya Rasulullah, kami tidak beribadah seperti mereka.’ (Riwayat Tirmizi).
Sabda Rasulullah SAW; ’Azimat, tangkal dan jampi-jampi adalah syirik.’ (Riwayat Ahmad dan Abu Daud).
3. Dalil-dalil Akli
a. Hanya Allah sendiri yang menciptakan, memberi rezeki, mengatur dan merencanakan. Maka manusia wajib beribadah hanya kepada Allah saja. Tidak ada sekutu bagi Allah dalam hal ibadah.
b. Semua makhluk dipelihara oleh Allah dan mereka (makhluk itu) membutuhkan Nya. Mereka tidak layak beribadah kepada selain Allah.
c. Apapun yang dimintai perlindungan, diseru, dimintai pertolongan selain Allah tidak mampu mengabulkan seruan , memberi pertolongan dan menolong tanpa seizin Allah.
2. Diskusi
1. T. Bagaimana hukumnya memakai ayat Al Quran yang dibungkus sebagai azimat?
J. Seperti dijelaskan oleh hadits Rasulullah di atas, perbuatan itu termasuk syirik.
2. T. Bagaimana kalau kita mengamalkan dan membaca ayat al Quran dan meyakini bahwa dengan bacaan itu kita mempunyai keistimewaan misalnya tidak bisa dilihat orang?
J. Keyakinan seperti itu juga cenderung keliru. Ayat-ayat al Quran bukanlah merupakan jampi-jampi untuk mengelabui pandangan orang lain. Kalau memang ada perlunya kita tidak terlihat oleh orang lain maka lebih baik kita mohonkan langsung kepada Allah agar kiranya Allah melindungi kita dari pandangan orang. Lalu sesudah bermohon itu kita membaca ayat al Quran itu boleh-boleh saja. Seandainya kita memang jadi tidak terlihat oleh orang lain mudah-mudahan itu berkat doa kita dikabulkan Allah bukan karena kita membaca ayat al Qurannya.
3. T. Ada orang yang meletakkan tulisan ayat Kursiy di dinding dengan harapan dengan adanya ayat tersebut diletakkan seperti itu, maka rumah itu akan terlindung dari malapetaka. Bagaimana dengan keyakinan seperti ini?
J. Keyakinan seperti ini keliru. Yang akan melindungi siapa saja dari malapetaka tidak ada selain Allah. Tulisan ayat Kursiy itu tidak mempunyai kemampuan untuk melindungi.
4. T. Bolehkah kita memasang foto atau lukisan orang shaleh untuk mengingat jasanya? Bagaimana pula dengan memajang patung-patung sebagai hiasan?
J. Ada hadits Rasulullah yang mengatakan bahwa orang yang melukis makhluk hidup itu nanti di akhirat akan disuruh Allah memberi nyawa kepada lukisannya itu. Dan ada hadits yang lain yang mengatakan bahwa malaikat rahmat tidak mau masuk kedalam rumah yang didalamnya ada lukisan makhluk hidup. Foto, yang mungkin diperlukan boleh saja dimiliki tapi sebaiknya tidak untuk dipajang sehubungan dengan keterangan bahwa malaikat rahmat tidak mau memasuki rumah yang di dalamnya ada lukisan. Begitu juga dengan patung-patung, tidak ada perlunya dijadikan hiasan bagi orang-orang beriman karena sangat mungkin mengganggu kepada nilai keimanan. Bagaimana nanti kalau suatu ketika shalat padahal di lemari di hadapannya ada patung. Tentu tidak baik yang demikian.
5. T. Ada orang yang punya kemampuan supra natural misalnya dia mampu menerbangkan makhluk-makhluk yang seram bentuknya seperti leak. Bagaimana hukumnya mempercayai yang demikian?
J. Itu adalah perbuatan sihir dan seharusnya kita minta perlindungan kepada Allah dari hal-hal yang seperti itu. Ilmu sihir itu ada. Bahkan seorang nabi seperti Nabi Musa juga bisa dikelabui mata beliau oleh sihir ketika anak buah Firaun melemparkan tali yang lalu terlihat seperti ular. (Baca Surat Thaha (20) ayat 66 – 67 – 68). Bahwa ada orang yang berkemampuan ilmu sihir itu adalah fakta. Dan ketika kita berdekatan dengan hal seperti itu secara tidak kita harapkan segeralah minta perlindungan kepada Allah.
6. T. Bolehkah kita mempercayai ramalan bintang? Atau yang sekarang disebut sebagai fengshui? Bagaimana pula dengan ramalan cuaca?
J. Ramalan bintang atau fengshui itu tidak ada dasarnya dan hanyalah rekaan saja. Mempercayai yang seperti itu syirik. Berbeda dengan ramalan cuaca yang memperhatikan keadaan panas bumi, pengaruhnya terhadap arah angin, terhadap penguapan, terhadap cuaca itu masih bisa difahami sebatas sebuah perkiraan.
7. K. Fengshui itu dilakukan dengan mempelajari posisi rumah secara statistik yang kemudian menyimpulkan bahwa rumah dengan posisi seperti ’ini’ punya kebiasaan seperti ’demikian’. Jadi ada unsur ilmiahnya juga.
J. Perbandingan secara statistik untuk kejadian yang sudah berlalu boleh saja, tapi bukan untuk meramalkan apa yang akan terjadi di waktu mendatang. Meramalkan yang akan terjadi untuk masa mendatang itu yang syirik hukumnya.
Wallahu a’lam
Thursday, May 21, 2009
Diskusi Ahad Malam (19 & 20)
DISKUSI AHAD MALAM (BA’DA MAGHRIB)
MESJID AL HUSNA KOMPLEKS DEPKES II
JATIBENING
(19 & 20)
Ahad 22 - 29 April 2007 / 05 - 12 Rabiul Akhir 1428
Materi Diskusi : Iman terhadap Kewajiban Amar Makruf Nahi Mungkar
Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM
1. Kewajiban Amar Makruf Dan Nahi Mungkar
Setiap orang Islam yang beriman wajib menegakkan amar makruf dan mencegah nahi mungkar. Kewajiban ini jatuh kepada setiap Muslim yang mukalaf, yang artinya mereka yang mengetahui serta menyaksikan soal makruf ditinggalkan atau kemungkaran dikerjakan, sementara dia mempunyai kesanggupan untuk memerintah atau mengubahnya dengan tangan atau lidahnya.
Kewajiban tersebut merupakan kewajiban agama yang terbesar sesudah iman kepada Allah, sehingga Allah berfirman dalam al Quran dengan menyebutkannya dengan disertai iman kepada Nya. Firman Allah dalam surat Ali Imran (3) ayat 110; ’Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan oleh manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.....’
Dalil-dalil nakli;
a. Allah memerintahkan amar makruf nahi mungkar itu dengan firmannya: ’Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kewajiban, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung.’ (Surat Ali Imran (3) ayat 104).
b. Allah memberitahukan kepada para penolong dan para wali Nya bahwa mereka pasti akan menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Firman Allah Ta’ala; ’Yaitu orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat makruf dan mencegah dari perbuatan-perbuatan yang mungkar....’ (Surat Al Hajj (22) ayat 41)
c. Firman Allah yang menyatakan kesalahan Bani Israil; ’Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amal buruklah yang selalu mereka perbuat itu.’ (Surat Al Maidah (5) ayat 78-79).
d. Rasulullah menyuruh kita untuk beramar makruf nahi mungkar. Sabda beliau dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim; ’Barangsiapa yang melihat suatu yang mungkar, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya. Kalau tidak bisa dengan tangannya, maka dengan lisannya. Kalau tidak bisa dengan lisannya, maka wajib dengan hatinya (membencinya) dan hal itu termasuk iman yang paling lemah.’
e. Pada hadits yang lain beliau bersabda; ’Kamu benar-benar harus menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Kalau tidak, Allah akan menurunkan siksa kepadamu, kemudian kamu berdoa, maka doamu tidak diterima’ (Riwayat Tirmizi).
f. Hadits yang lain dimana Rasulullah bersabda; ’Bila suatu kaum mengerjakan maksiat, padahal di antara mereka ada yang mampu untuk mengingkari perbuatan tersebut namun tidak dilakukannya, Allah akan membuat azab merata untuk semuanya.’
Dalil-dalil Akli
a. Berdasarkan pengalaman dan penglihatan telah terbukti bahwa penyakit bila dibiarkan dan tidak diobati akan menjadi parah menyerang tubuh. Demikian pula perbuatan mungkar, bila dibiarkan tidak diberantas akan menjadi terbiasa dihadapan orang. Orang besar akan melakukannya begitu pula orang-orang kecil.
b. Dapat pula kita buktikan bila rumah dibiarkan, tidak dibersihkan dan tidak diurus secara baik, maka rumah itu akan tidak bisa ditempati lagi karena berbau busuk, udaranya pengap, banyak bakteri dan bibit penyakit. Demikian pula halnya dengan masyarakat orang yang beriman, bila kemungkaran dan kejahatan dibiarkan dan tidak diberantas sementara yang makruf tidak ditegakkan, maka jiwa masyarakatnya akan kotor. Mereka tidak akan mengenal lagi apa yang makruf dan acuh tak acuh terhadap kemungkaran.
c. Menurut penelitian, diketahui bahwa jiwa manusia cenderung dan suka kepada keburukan dan apabila mereka sudah terbiasa dengan keburukan maka yang buruk itu dianggapnya baik dan watak mereka berubah menjadi buruk. Demikian pula halnya dengan amar makruf nahi mungkar. Hal yang makruf bila dibiarkan dan tidak ditegakkan suatu saat orang akan terbiasa meninggalkannya. Bahkan ironisnya orang yang menegakkan yang makruf akan dipandang masyarakat yang sakit itu sebagai perbuatan mungkar. Karena itulah Allah dan Rasulnya memerintahkan dan mewajibkan kepada kaum Muslimin untuk senantiasa beramar makruf dan nahi mungkar guna melestarikan kesucian dan kebaikan hidup, serta untuk menjaga kemuliaan martabat mereka di antara bangsa-bangsa di muka bumi.
2. Adab dan tatakrama Amar Makruf Nahi Mungkar
Hendaknya setiap orang mengetahui hakikat yang diperintahkan bahwa sesuatu itu benar merupakan hal yang makruf berdasarkan hukum syariat. Dan benar-benar yang makruf itu sudah tidak dikerjakan orang. Demikian juga harus diketahui hakikat perbuatan mungkar yang dilarang dan mesti diberantas, dan nyata bahwa perbuatan maksiat itu diharamkan dan bertentangan dengan syarak.
Hendaknya yang melaksanakan amar makruf nahi mungkar itu adalah orang yang saleh dan tidak pernah meninggalkan perintah Allah dan tidak suka berbuat maksiat. Dengan kata lain dia sudah terlebih dahulu memberi contoh. Hal ini sejalan dengan firman Allah di dalam surat As Saaf ayat 2 dan 3 yang artinya; ’Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.’
Hendaklah yang menyeru kepada amar makruf nahi mungkar itu orang yang berakhlak mulia dan penyabar, menyuruh dengan lemah lembut dan melarang secara halus. Ia tidak boleh emosi jika apa yang dilarangnya tetap dikerjakan orang dan tidak marah ketika apa yang disuruhnya tidak dikerjakan orang. Ia harus penyabar, pemaaf dan berlapang dada.
Untuk mengenal kemungkaran janganlah menggunakan cara memata-matai, karena cara yang demikian itu tidak layak dipergunakan. Seperti misalnya mengintai orang di dalam rumahnya, memaksa membuka pakaian orang untuk mengetahui apa yang dibawanya maupun membuka tutup bejana untuk mengetahui apa isinya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al Hujurat (49) ayat 12 yang artinya; ’....dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang....’
Hendaklah yang menyeru kepada amar makruf itu memberi contoh. Begitupun menjelaskan yang dimaksud dengan kemungkaran itu dengan juga menunjukkan contohnya.
Hendaklah amar makruf nahi mungkar itu dilakukan dengan keterangan yang jelas. Kalau ada ayat al Qurannya jelaskan begitupun kalau ada hadits Rasulullah yang menjelaskan juga harus disampaikan. Sampaikan dengan lemah lembut terlebih dahulu. Namun pada saatnya juga diperlukan ketegasan dan sikap yang berani, namun tetap dalam koridor yang benar bukan bersifat anarkis. Tidak boleh kita memerangi kemungkaran dengan cara berlebihan ibarat mau membunuh seekor tikus lalu lumbung dibakar.
3. Diskusi
1. T. Apakah termasuk kemungkaran kalau kita berurusan dengan penjabat pemerintah lalu kita menyogok mereka?
J. Itu termasuk kemungkaran. Yang menyogok dan yang menerima sogok sama-sama dimurkai oleh Allah.
2. T. Apakah termasuk menyogok ketika kita mengurus KTP di kantor kelurahan lalu petugas tersebut memungut biaya yang tidak ada kwitansinya alias tidak bisa dipertanggungjawabkan?
J. Hal ini bisa termasuk kepada kemungkaran jika tidak dijelaskan. Kita boleh bertanya uang apa yang kita bayarkan itu secara baik-baik. Kalau nyata-nyata itu merupakan pungutan liar tentu kita juga boleh memprotes dan malahan sebaiknya menasihati petugas itu secara baik-baik agar jangan membebani masyarakat dengan pungutan yang tidak jelas yang juga tidak halal baginya. Tapi seandainya dia menjelaskan, misalnya bahwa dia yang adalah pegawai honorer di kantor itu lalu meminta keikhlasan kita secara baik-baik agar membayar uang lelahnya dan kita ikhlas pula memberikannya, yang demikian itu tentu tidak termasuk kemungkaran.
3. T. Mana yang lebih utama, mengajak amar makruf atau mencegah nahi mungkar?
J. Kedua-duanya harus sejalan dan sama-sama perlu dikerjakan. Memang amar makruf biasanya jauh lebih mudah mengerjakannya dibandingkan dengan nahi mungkar. Orang yang berbuat kemungkaran itu biasanya sudah mengetahui bahwa perbuatan itu salah, sehingga dia merasa perlu mengadakan pendukung atau tukang pukul untuk mengawal kemungkaran tersebut, sehingga untuk menentangnya jadi tidak mudah. Namun tetap saja nahi mungkar itu harus diusahakan.
4. T. Ada suatu bentuk kemungkaran, katakanlah di kompleks kita ini yang kalau dicegah perorangan mungkin bisa menimbulkan pertengkaran. Bagaimana mengatasinya?
J. Kalau pencegahan nahi mungkar itu dikerjakan secara frontal atau langsung secara pribadi, dikhawatirkan akan menimbulkan kemudharatan misalnya pertengkaran, pencegahan itu dapat kita lakukan melalui perangkat RW misalnya. Kita laporkan secara baik-baik kepada Ketua RW agar dia mencari penyelesaian atau memberikan tegoran kepada yang berbuat kemungkaran tersebut.
5. T. Bolehkah kita dalam bernahi mungkar itu melakukan perusakan karena tahu sesuatu itu tempat maksiat, misalnya dengan membakar rumah yang kita ketahui digunakan sebagai tempat pelacuran misalnya?
J. Secara perorangan atau kelompok seharusnya kita tidak melakukan yang seperti itu. Itu adalah tugas penyelenggara negara untuk memusnahkannya kalau memang perlu untuk dimusnahkan. Bahkan kalau kita tidak taktis, kita bisa jadi korban fitnah, justru kita yang dilaporkan telah merusak hak milik orang. Juga sangat tidak tepat kalau kita merusakkan benda yang tidak ada keterkaitannya langsung dengan kemaksiatan. Misalnya kita mau mencegah kemungkaran atau kemaksiatan di tempat pelacuran lalu semua bangunan disana bahkan kendaraan yang terparkir disana dirusak, ini jelas tidak baik.
6. T. Bagaimana kalau dalam hal seperti itu petugas negara tidak perduli bahkan seolah-olah membiarkan dan melindungi. Apa yang harus kita perbuat?
J. Mendesak kepada pemerintah secara berkesinambungan dan sungguh-sungguh sampai kebatilan itu dihentikan. Tapi itu tadi, kita juga harus taktis, jangan terpancing masuk jebakan yang akhirnya kita diangap sebagai pembuat onar.
7. T. Seandainya tanggapan dari aparat terlalu lama atau bahkan sama sekali tidak ada tanggapan, bolehkah kita mengerahkan massa untuk mengawal tempat kemaksiatan itu untuk mencegah agar penikmat kemaksiatan tidak bisa datang ke sana?
J. Boleh-boleh saja sebagai bentuk pencegahan secara bersama-sama, selama tidak terpancing kepada berbuat keributan dan anarkis.
Wallahu a’lam
MESJID AL HUSNA KOMPLEKS DEPKES II
JATIBENING
(19 & 20)
Ahad 22 - 29 April 2007 / 05 - 12 Rabiul Akhir 1428
Materi Diskusi : Iman terhadap Kewajiban Amar Makruf Nahi Mungkar
Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM
1. Kewajiban Amar Makruf Dan Nahi Mungkar
Setiap orang Islam yang beriman wajib menegakkan amar makruf dan mencegah nahi mungkar. Kewajiban ini jatuh kepada setiap Muslim yang mukalaf, yang artinya mereka yang mengetahui serta menyaksikan soal makruf ditinggalkan atau kemungkaran dikerjakan, sementara dia mempunyai kesanggupan untuk memerintah atau mengubahnya dengan tangan atau lidahnya.
Kewajiban tersebut merupakan kewajiban agama yang terbesar sesudah iman kepada Allah, sehingga Allah berfirman dalam al Quran dengan menyebutkannya dengan disertai iman kepada Nya. Firman Allah dalam surat Ali Imran (3) ayat 110; ’Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan oleh manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.....’
Dalil-dalil nakli;
a. Allah memerintahkan amar makruf nahi mungkar itu dengan firmannya: ’Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kewajiban, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung.’ (Surat Ali Imran (3) ayat 104).
b. Allah memberitahukan kepada para penolong dan para wali Nya bahwa mereka pasti akan menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Firman Allah Ta’ala; ’Yaitu orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat makruf dan mencegah dari perbuatan-perbuatan yang mungkar....’ (Surat Al Hajj (22) ayat 41)
c. Firman Allah yang menyatakan kesalahan Bani Israil; ’Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amal buruklah yang selalu mereka perbuat itu.’ (Surat Al Maidah (5) ayat 78-79).
d. Rasulullah menyuruh kita untuk beramar makruf nahi mungkar. Sabda beliau dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim; ’Barangsiapa yang melihat suatu yang mungkar, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya. Kalau tidak bisa dengan tangannya, maka dengan lisannya. Kalau tidak bisa dengan lisannya, maka wajib dengan hatinya (membencinya) dan hal itu termasuk iman yang paling lemah.’
e. Pada hadits yang lain beliau bersabda; ’Kamu benar-benar harus menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Kalau tidak, Allah akan menurunkan siksa kepadamu, kemudian kamu berdoa, maka doamu tidak diterima’ (Riwayat Tirmizi).
f. Hadits yang lain dimana Rasulullah bersabda; ’Bila suatu kaum mengerjakan maksiat, padahal di antara mereka ada yang mampu untuk mengingkari perbuatan tersebut namun tidak dilakukannya, Allah akan membuat azab merata untuk semuanya.’
Dalil-dalil Akli
a. Berdasarkan pengalaman dan penglihatan telah terbukti bahwa penyakit bila dibiarkan dan tidak diobati akan menjadi parah menyerang tubuh. Demikian pula perbuatan mungkar, bila dibiarkan tidak diberantas akan menjadi terbiasa dihadapan orang. Orang besar akan melakukannya begitu pula orang-orang kecil.
b. Dapat pula kita buktikan bila rumah dibiarkan, tidak dibersihkan dan tidak diurus secara baik, maka rumah itu akan tidak bisa ditempati lagi karena berbau busuk, udaranya pengap, banyak bakteri dan bibit penyakit. Demikian pula halnya dengan masyarakat orang yang beriman, bila kemungkaran dan kejahatan dibiarkan dan tidak diberantas sementara yang makruf tidak ditegakkan, maka jiwa masyarakatnya akan kotor. Mereka tidak akan mengenal lagi apa yang makruf dan acuh tak acuh terhadap kemungkaran.
c. Menurut penelitian, diketahui bahwa jiwa manusia cenderung dan suka kepada keburukan dan apabila mereka sudah terbiasa dengan keburukan maka yang buruk itu dianggapnya baik dan watak mereka berubah menjadi buruk. Demikian pula halnya dengan amar makruf nahi mungkar. Hal yang makruf bila dibiarkan dan tidak ditegakkan suatu saat orang akan terbiasa meninggalkannya. Bahkan ironisnya orang yang menegakkan yang makruf akan dipandang masyarakat yang sakit itu sebagai perbuatan mungkar. Karena itulah Allah dan Rasulnya memerintahkan dan mewajibkan kepada kaum Muslimin untuk senantiasa beramar makruf dan nahi mungkar guna melestarikan kesucian dan kebaikan hidup, serta untuk menjaga kemuliaan martabat mereka di antara bangsa-bangsa di muka bumi.
2. Adab dan tatakrama Amar Makruf Nahi Mungkar
Hendaknya setiap orang mengetahui hakikat yang diperintahkan bahwa sesuatu itu benar merupakan hal yang makruf berdasarkan hukum syariat. Dan benar-benar yang makruf itu sudah tidak dikerjakan orang. Demikian juga harus diketahui hakikat perbuatan mungkar yang dilarang dan mesti diberantas, dan nyata bahwa perbuatan maksiat itu diharamkan dan bertentangan dengan syarak.
Hendaknya yang melaksanakan amar makruf nahi mungkar itu adalah orang yang saleh dan tidak pernah meninggalkan perintah Allah dan tidak suka berbuat maksiat. Dengan kata lain dia sudah terlebih dahulu memberi contoh. Hal ini sejalan dengan firman Allah di dalam surat As Saaf ayat 2 dan 3 yang artinya; ’Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.’
Hendaklah yang menyeru kepada amar makruf nahi mungkar itu orang yang berakhlak mulia dan penyabar, menyuruh dengan lemah lembut dan melarang secara halus. Ia tidak boleh emosi jika apa yang dilarangnya tetap dikerjakan orang dan tidak marah ketika apa yang disuruhnya tidak dikerjakan orang. Ia harus penyabar, pemaaf dan berlapang dada.
Untuk mengenal kemungkaran janganlah menggunakan cara memata-matai, karena cara yang demikian itu tidak layak dipergunakan. Seperti misalnya mengintai orang di dalam rumahnya, memaksa membuka pakaian orang untuk mengetahui apa yang dibawanya maupun membuka tutup bejana untuk mengetahui apa isinya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al Hujurat (49) ayat 12 yang artinya; ’....dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang....’
Hendaklah yang menyeru kepada amar makruf itu memberi contoh. Begitupun menjelaskan yang dimaksud dengan kemungkaran itu dengan juga menunjukkan contohnya.
Hendaklah amar makruf nahi mungkar itu dilakukan dengan keterangan yang jelas. Kalau ada ayat al Qurannya jelaskan begitupun kalau ada hadits Rasulullah yang menjelaskan juga harus disampaikan. Sampaikan dengan lemah lembut terlebih dahulu. Namun pada saatnya juga diperlukan ketegasan dan sikap yang berani, namun tetap dalam koridor yang benar bukan bersifat anarkis. Tidak boleh kita memerangi kemungkaran dengan cara berlebihan ibarat mau membunuh seekor tikus lalu lumbung dibakar.
3. Diskusi
1. T. Apakah termasuk kemungkaran kalau kita berurusan dengan penjabat pemerintah lalu kita menyogok mereka?
J. Itu termasuk kemungkaran. Yang menyogok dan yang menerima sogok sama-sama dimurkai oleh Allah.
2. T. Apakah termasuk menyogok ketika kita mengurus KTP di kantor kelurahan lalu petugas tersebut memungut biaya yang tidak ada kwitansinya alias tidak bisa dipertanggungjawabkan?
J. Hal ini bisa termasuk kepada kemungkaran jika tidak dijelaskan. Kita boleh bertanya uang apa yang kita bayarkan itu secara baik-baik. Kalau nyata-nyata itu merupakan pungutan liar tentu kita juga boleh memprotes dan malahan sebaiknya menasihati petugas itu secara baik-baik agar jangan membebani masyarakat dengan pungutan yang tidak jelas yang juga tidak halal baginya. Tapi seandainya dia menjelaskan, misalnya bahwa dia yang adalah pegawai honorer di kantor itu lalu meminta keikhlasan kita secara baik-baik agar membayar uang lelahnya dan kita ikhlas pula memberikannya, yang demikian itu tentu tidak termasuk kemungkaran.
3. T. Mana yang lebih utama, mengajak amar makruf atau mencegah nahi mungkar?
J. Kedua-duanya harus sejalan dan sama-sama perlu dikerjakan. Memang amar makruf biasanya jauh lebih mudah mengerjakannya dibandingkan dengan nahi mungkar. Orang yang berbuat kemungkaran itu biasanya sudah mengetahui bahwa perbuatan itu salah, sehingga dia merasa perlu mengadakan pendukung atau tukang pukul untuk mengawal kemungkaran tersebut, sehingga untuk menentangnya jadi tidak mudah. Namun tetap saja nahi mungkar itu harus diusahakan.
4. T. Ada suatu bentuk kemungkaran, katakanlah di kompleks kita ini yang kalau dicegah perorangan mungkin bisa menimbulkan pertengkaran. Bagaimana mengatasinya?
J. Kalau pencegahan nahi mungkar itu dikerjakan secara frontal atau langsung secara pribadi, dikhawatirkan akan menimbulkan kemudharatan misalnya pertengkaran, pencegahan itu dapat kita lakukan melalui perangkat RW misalnya. Kita laporkan secara baik-baik kepada Ketua RW agar dia mencari penyelesaian atau memberikan tegoran kepada yang berbuat kemungkaran tersebut.
5. T. Bolehkah kita dalam bernahi mungkar itu melakukan perusakan karena tahu sesuatu itu tempat maksiat, misalnya dengan membakar rumah yang kita ketahui digunakan sebagai tempat pelacuran misalnya?
J. Secara perorangan atau kelompok seharusnya kita tidak melakukan yang seperti itu. Itu adalah tugas penyelenggara negara untuk memusnahkannya kalau memang perlu untuk dimusnahkan. Bahkan kalau kita tidak taktis, kita bisa jadi korban fitnah, justru kita yang dilaporkan telah merusak hak milik orang. Juga sangat tidak tepat kalau kita merusakkan benda yang tidak ada keterkaitannya langsung dengan kemaksiatan. Misalnya kita mau mencegah kemungkaran atau kemaksiatan di tempat pelacuran lalu semua bangunan disana bahkan kendaraan yang terparkir disana dirusak, ini jelas tidak baik.
6. T. Bagaimana kalau dalam hal seperti itu petugas negara tidak perduli bahkan seolah-olah membiarkan dan melindungi. Apa yang harus kita perbuat?
J. Mendesak kepada pemerintah secara berkesinambungan dan sungguh-sungguh sampai kebatilan itu dihentikan. Tapi itu tadi, kita juga harus taktis, jangan terpancing masuk jebakan yang akhirnya kita diangap sebagai pembuat onar.
7. T. Seandainya tanggapan dari aparat terlalu lama atau bahkan sama sekali tidak ada tanggapan, bolehkah kita mengerahkan massa untuk mengawal tempat kemaksiatan itu untuk mencegah agar penikmat kemaksiatan tidak bisa datang ke sana?
J. Boleh-boleh saja sebagai bentuk pencegahan secara bersama-sama, selama tidak terpancing kepada berbuat keributan dan anarkis.
Wallahu a’lam
Wednesday, May 20, 2009
Diskusi Ahad Malam (18)
DISKUSI AHAD MALAM (BA’DA MAGHRIB)
MESJID AL HUSNA KOMPLEKS DEPKES II
JATIBENING
(18)
Ahad 15 April 2007 / 28 Rabiul Awal 1428
Materi Diskusi : Wali-wali Setan dan Kesesatannya
Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM
1. Wali-wali Setan
Orang Islam juga percaya bahwa setan memiliki penolong dari kalangan manusia. Setan menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah. Setan menggoda agar manusia melakukan yang buruk dan menganjurkan kebatilan kepada manusia. Akhirnya mereka buta dan tuli terhadap kebenaran tapi taat dan patuh kepada perintah setan. Setan mendorong mereka kepada kejahatan dan menarik hati mereka kepada kerusakan dengan memanipulasi yang buruk sehingga tampak seolah-olah baik, sampai mereka menganggapnya baik dan menyulap yang makruf sehingga tampak mungkar.
Para penolong setan itu menjadi musuh para wali Allah dengan menyatakan perang kepadanya. Para wali Allah menjadi penolong Allah dan wali setan memusuhi Allah.
Meskipun para wali setan memiliki beberapa keajaiban seperti mampu terbang di udara, mampu berjalan di atas air tapi itu hanyalah merupakan reka perdaya (istidraj) dari Allah bagi mereka yang memusuhi Nya atau bisa juga merupakan pertolongan setan bagi mereka.
Allah memberitahukan mengenai hal para penolong setan itu dengan firman Nya.
Firman Allah; ’.......Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindung mereka adalah thagut (setan), yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.’ (Surat Al Baqarah (2) ayat 257).
Pada ayat lain, firman Allah; ’............ Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu, jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.’.... (Surat Al An’am (6) ayat 121).
Firman Allah dalam Surat Al An’am (6) ayat 128 yang artinya; ’Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya, (dan Allah berfirman); ’Hai golongan jin (setan), sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia.’ Lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia; ’Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang Engkau tentukan bagi kami.’ Allah berfirman; ’Neraka itulah tempat diammu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)..... ’
Firman Allah pula dalam surat Az Zukhruf (43) ayat 36-37; Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), Kami adakan baginya setan menjadi teman akrab (yang menyesatkannya). Dan sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.’
Sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadits; ’Apa yang kamu katakan dahulu terhadap kejadian semacam itu di jaman jahiliyah?’ (keadian bintang jatuh). Mereka menjawab; ’Kami mengatakan, ada kematian seorang besar atau kelahirannya.’ Nabi bersabda; ’Bintang itu dilemparkan bukan karena matinya seseorang atau hidupnya seseorang. Tetapi Tuhan jika memutuskan suatu perkara, bertasbihlah para malaikat pemikul ’Arsy. Kemudian bertasbih pula penduduk langit mengikuti mereka. Kemudian diikuti pula oleh yang lainnya sehingga sampailah suara tasbih itu ke seluruh penduduk langit. Lalu penduduk langit bertanya kepada malaikat pemikul ’Arsy; ’Apa yang difirmankan Tuhan kita?’ Maka malaikat itu memberitahu mereka. Kemudian penduduk langit mencari berita itu, hingga berita itu sampai kepada penduduk langit dunia. Dan setan-setanpun mendengarnya, lalu mereka dilempari. Kemudian berita itu disampaikannya kepada pelindungnya. Maka berita yang mereka sampaikan itu benar jika sesuai dengan aslinya, namun mereka selalu menambah-nambahinya.’ (Riwayat Muslim dan Ahmad).
Ketika ditanya tentang kahin (tukang ramal) Rasulullah SAW menjawab dalam sabdanya; ’Mereka itu tidaklah benar’. Orang-orang berkata: ’Benar, tapi mereka mengatakan sesuatu kepada kami kadang-kadang benar.’ Nabi bersabda: ’Kalau ada kata-kata yang benar, itu berasal dari jin yang mencuri dengar, lalu disampaikan ke telinga pelindungnya. Sesudah itu mereka membumbuinya dengan seribu kebohongan.’ (Riwayat Bukhari.)
Sabda Rasulullah SAW pula; ’Sesungguhnya setan itu bisa masuk kedalam aliran darah anak cucu Adam. Maka persempitlah jalannya dengan puasa.’ (Riwayat Muslim).
Ratusan ribu manusia melihat dan menyaksikan tingkah laku setan yang ganjil di setiap waktu dan tempat, sebagaimana hal itu tampak dalam perilaku para pendukungnya. Di antara mereka itu ada yang diberi oleh setan makanan dan minuman, ada yang dipenuhi dan dicukupi kebutuhannya, ada yang diajak bicara tentang yang gaib dan hal-hal yang bersifat gaib, ada yang dibuat kebal terhadap senjata. Berbagai perilaku setan yang kotor itu sampai berhasil masuk dan menodai hati dan jiwa anak Adam dikarenakan oleh sikap anak Adam yang mau terpedaya, mau melakukan berbagai kejahatan dan kerusakan, perbuatan-perbuatan dosa dan sebagainya yang diperintahkan oleh setan kepada mereka.
2. Diskusi
1. T. Pada waktu shalat isya, ketika itu suasana sepi, saya merasa ada orang lain ikut shalat di belakang saya. Tapi setelah selesai shalat saya lihat tidak ada siapa-siapa. Apakah itu hanya halusinasi saja atau memang ada ’seseorang’ ikut shalat di belakang?
J. Bukan tidak mungkin ada seseorang yang memang ikut shalat di belakang. Mungkin saja memang ada orang lain. Tapi kalau yang dimaksud apakah mungkin ada makhluk lain yang ikut shalat, katakanlah misalnya jin, itupun juga mungkin saja sebab jin memang ada yang beriman seperti kita. Bahkan di majelis kita saat ini mungkin saja mereka hadir tapi kita tidak dapat melihat kehadiran mereka.
2. T. Kalau kita berada dekat tempat-tempat tertentu, misalnya di tempat yang oleh sementara orang disebut angker lalu bulu tengkuk kita berdiri, apakah itu normal? Bagaimana caranya mengusir rasa takut ketika berada di tempat seperti itu?
J. Sebagai manusia sangat wajar kita mempunyai rasa takut. Namun hendaknya rasa takut itu jangan sampai mendorong kita kepada perbuatan yang tidak benar. Misalnya karena takut dengan tempat angker, lalu kata orang kita harus menyerahkan sajen ke tempat tersebut, dan kita lakukan demikian. Ini adalah cara takut yang salah. Kalau kita di dera rasa takut sebaiknya dibawa berzikir mengingat Allah, karena tidak ada daya dan kekuatan pada siapapun kecuali dengan izin Allah.
3. T. Ada tempat-tempat angker yang adakalanya menelan korban, seperti laut di sebelah selatan Jawa yang katanya dihuni oleh Nyi Roro Kidul. Apakah jatuhnya korban itu bisa dipercayai sebagai korban Nyi Roro Kidul atau kebetulan saja?
J. Korban dalam bentuk kecelakaan bisa saja terjadi dimana-mana termasuk di laut selatan pulau Jawa. Apakah itu korban dari Nyi Roro Kidul? Apakah Nyi Roro Kidul itu benar-benar ada? Bisa saja dia memang ada dan dari golongan jin, tapi kita tidak usah berurusan dengannya, karena berurusan dengan bangsa jin seperti sabda Rasulullah banyak ruginya bagi kita manusia. Cukuplah kita meminta perlindungan kepada Allah dari gangguan jin dan sebangsanya. Dan kita tidak boleh mempercayai keberadaan Nyi Roro Kidul untuk kemudian mematuhi aturan-aturannya seperti memberikan sesajen, melakukan ritual-ritual tertentu seperti mengirimkan sesajen ke laut selatan. Perbuatan seperti ini termasuk ke dalam tipu daya wali setan dan pengikutnya dan termasuk perbuatan syirik.
4. T. Bagaimana dengan keberadaan hantu dan makhluk halus lainnya? Kadang-kadang konon terlihat seperti makhluk mengerikan seperti leak yang mampu terbang dan bentuknya menakutkan ?
J. Itupun termasuk tipu daya setan dan ilmu-ilmu sihir (ilmu hitam). Ilmu sihir seperti itu sudah ada sejak jaman nabi-nabi. Nabi Musa terpengaruh oleh sihir anak buah Firaun yang melempar tali dan berubah menjadi ular. Timbul rasa takut di hati beliau. Tapi Allah mengingatkan beliau agar tidak usah takut dan memerintahkan nabi Musa melemparkan tongkatnya yang kemudian berubah menjadi ular yang lebih besar dan menelan ular hasil sihir anak buah Firaun tersebut. Kita sekali lagi mesti senantiasa memohon perlindungan kepada Allah agar terhindar dari pengaruh ilmu hitam atau ilmu sihir itu.
5. T. Tapi bolehkah kita mempercayai bahwa ada orang yang mempunyai kemapuan sihir atau ilmu hitam?
J. Boleh percaya bahwa memang ada orang yang punya kemampuan seperti itu. Dan tidak boleh pula kita takabur mengatakan bahwa ilmu sihir orang itu tidak akan mempan kepada kita karena kita seorang yang ahli ibadah misalnya. Cukuplah kita menghindar dari berurusan dengan orang-orang yang punya ilmu sihir atau ilmu hitam itu dan berserah diri kepada Allah.
6. T. Apakah ramalan bintang termasuk perbuatan wali setan?
J. Ya, ramalan bintang itu termasuk perbuatan sesat.
Wallahu a’lam
MESJID AL HUSNA KOMPLEKS DEPKES II
JATIBENING
(18)
Ahad 15 April 2007 / 28 Rabiul Awal 1428
Materi Diskusi : Wali-wali Setan dan Kesesatannya
Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM
1. Wali-wali Setan
Orang Islam juga percaya bahwa setan memiliki penolong dari kalangan manusia. Setan menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah. Setan menggoda agar manusia melakukan yang buruk dan menganjurkan kebatilan kepada manusia. Akhirnya mereka buta dan tuli terhadap kebenaran tapi taat dan patuh kepada perintah setan. Setan mendorong mereka kepada kejahatan dan menarik hati mereka kepada kerusakan dengan memanipulasi yang buruk sehingga tampak seolah-olah baik, sampai mereka menganggapnya baik dan menyulap yang makruf sehingga tampak mungkar.
Para penolong setan itu menjadi musuh para wali Allah dengan menyatakan perang kepadanya. Para wali Allah menjadi penolong Allah dan wali setan memusuhi Allah.
Meskipun para wali setan memiliki beberapa keajaiban seperti mampu terbang di udara, mampu berjalan di atas air tapi itu hanyalah merupakan reka perdaya (istidraj) dari Allah bagi mereka yang memusuhi Nya atau bisa juga merupakan pertolongan setan bagi mereka.
Allah memberitahukan mengenai hal para penolong setan itu dengan firman Nya.
Firman Allah; ’.......Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindung mereka adalah thagut (setan), yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.’ (Surat Al Baqarah (2) ayat 257).
Pada ayat lain, firman Allah; ’............ Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu, jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.’.... (Surat Al An’am (6) ayat 121).
Firman Allah dalam Surat Al An’am (6) ayat 128 yang artinya; ’Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya, (dan Allah berfirman); ’Hai golongan jin (setan), sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia.’ Lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia; ’Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang Engkau tentukan bagi kami.’ Allah berfirman; ’Neraka itulah tempat diammu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)..... ’
Firman Allah pula dalam surat Az Zukhruf (43) ayat 36-37; Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), Kami adakan baginya setan menjadi teman akrab (yang menyesatkannya). Dan sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.’
Sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadits; ’Apa yang kamu katakan dahulu terhadap kejadian semacam itu di jaman jahiliyah?’ (keadian bintang jatuh). Mereka menjawab; ’Kami mengatakan, ada kematian seorang besar atau kelahirannya.’ Nabi bersabda; ’Bintang itu dilemparkan bukan karena matinya seseorang atau hidupnya seseorang. Tetapi Tuhan jika memutuskan suatu perkara, bertasbihlah para malaikat pemikul ’Arsy. Kemudian bertasbih pula penduduk langit mengikuti mereka. Kemudian diikuti pula oleh yang lainnya sehingga sampailah suara tasbih itu ke seluruh penduduk langit. Lalu penduduk langit bertanya kepada malaikat pemikul ’Arsy; ’Apa yang difirmankan Tuhan kita?’ Maka malaikat itu memberitahu mereka. Kemudian penduduk langit mencari berita itu, hingga berita itu sampai kepada penduduk langit dunia. Dan setan-setanpun mendengarnya, lalu mereka dilempari. Kemudian berita itu disampaikannya kepada pelindungnya. Maka berita yang mereka sampaikan itu benar jika sesuai dengan aslinya, namun mereka selalu menambah-nambahinya.’ (Riwayat Muslim dan Ahmad).
Ketika ditanya tentang kahin (tukang ramal) Rasulullah SAW menjawab dalam sabdanya; ’Mereka itu tidaklah benar’. Orang-orang berkata: ’Benar, tapi mereka mengatakan sesuatu kepada kami kadang-kadang benar.’ Nabi bersabda: ’Kalau ada kata-kata yang benar, itu berasal dari jin yang mencuri dengar, lalu disampaikan ke telinga pelindungnya. Sesudah itu mereka membumbuinya dengan seribu kebohongan.’ (Riwayat Bukhari.)
Sabda Rasulullah SAW pula; ’Sesungguhnya setan itu bisa masuk kedalam aliran darah anak cucu Adam. Maka persempitlah jalannya dengan puasa.’ (Riwayat Muslim).
Ratusan ribu manusia melihat dan menyaksikan tingkah laku setan yang ganjil di setiap waktu dan tempat, sebagaimana hal itu tampak dalam perilaku para pendukungnya. Di antara mereka itu ada yang diberi oleh setan makanan dan minuman, ada yang dipenuhi dan dicukupi kebutuhannya, ada yang diajak bicara tentang yang gaib dan hal-hal yang bersifat gaib, ada yang dibuat kebal terhadap senjata. Berbagai perilaku setan yang kotor itu sampai berhasil masuk dan menodai hati dan jiwa anak Adam dikarenakan oleh sikap anak Adam yang mau terpedaya, mau melakukan berbagai kejahatan dan kerusakan, perbuatan-perbuatan dosa dan sebagainya yang diperintahkan oleh setan kepada mereka.
2. Diskusi
1. T. Pada waktu shalat isya, ketika itu suasana sepi, saya merasa ada orang lain ikut shalat di belakang saya. Tapi setelah selesai shalat saya lihat tidak ada siapa-siapa. Apakah itu hanya halusinasi saja atau memang ada ’seseorang’ ikut shalat di belakang?
J. Bukan tidak mungkin ada seseorang yang memang ikut shalat di belakang. Mungkin saja memang ada orang lain. Tapi kalau yang dimaksud apakah mungkin ada makhluk lain yang ikut shalat, katakanlah misalnya jin, itupun juga mungkin saja sebab jin memang ada yang beriman seperti kita. Bahkan di majelis kita saat ini mungkin saja mereka hadir tapi kita tidak dapat melihat kehadiran mereka.
2. T. Kalau kita berada dekat tempat-tempat tertentu, misalnya di tempat yang oleh sementara orang disebut angker lalu bulu tengkuk kita berdiri, apakah itu normal? Bagaimana caranya mengusir rasa takut ketika berada di tempat seperti itu?
J. Sebagai manusia sangat wajar kita mempunyai rasa takut. Namun hendaknya rasa takut itu jangan sampai mendorong kita kepada perbuatan yang tidak benar. Misalnya karena takut dengan tempat angker, lalu kata orang kita harus menyerahkan sajen ke tempat tersebut, dan kita lakukan demikian. Ini adalah cara takut yang salah. Kalau kita di dera rasa takut sebaiknya dibawa berzikir mengingat Allah, karena tidak ada daya dan kekuatan pada siapapun kecuali dengan izin Allah.
3. T. Ada tempat-tempat angker yang adakalanya menelan korban, seperti laut di sebelah selatan Jawa yang katanya dihuni oleh Nyi Roro Kidul. Apakah jatuhnya korban itu bisa dipercayai sebagai korban Nyi Roro Kidul atau kebetulan saja?
J. Korban dalam bentuk kecelakaan bisa saja terjadi dimana-mana termasuk di laut selatan pulau Jawa. Apakah itu korban dari Nyi Roro Kidul? Apakah Nyi Roro Kidul itu benar-benar ada? Bisa saja dia memang ada dan dari golongan jin, tapi kita tidak usah berurusan dengannya, karena berurusan dengan bangsa jin seperti sabda Rasulullah banyak ruginya bagi kita manusia. Cukuplah kita meminta perlindungan kepada Allah dari gangguan jin dan sebangsanya. Dan kita tidak boleh mempercayai keberadaan Nyi Roro Kidul untuk kemudian mematuhi aturan-aturannya seperti memberikan sesajen, melakukan ritual-ritual tertentu seperti mengirimkan sesajen ke laut selatan. Perbuatan seperti ini termasuk ke dalam tipu daya wali setan dan pengikutnya dan termasuk perbuatan syirik.
4. T. Bagaimana dengan keberadaan hantu dan makhluk halus lainnya? Kadang-kadang konon terlihat seperti makhluk mengerikan seperti leak yang mampu terbang dan bentuknya menakutkan ?
J. Itupun termasuk tipu daya setan dan ilmu-ilmu sihir (ilmu hitam). Ilmu sihir seperti itu sudah ada sejak jaman nabi-nabi. Nabi Musa terpengaruh oleh sihir anak buah Firaun yang melempar tali dan berubah menjadi ular. Timbul rasa takut di hati beliau. Tapi Allah mengingatkan beliau agar tidak usah takut dan memerintahkan nabi Musa melemparkan tongkatnya yang kemudian berubah menjadi ular yang lebih besar dan menelan ular hasil sihir anak buah Firaun tersebut. Kita sekali lagi mesti senantiasa memohon perlindungan kepada Allah agar terhindar dari pengaruh ilmu hitam atau ilmu sihir itu.
5. T. Tapi bolehkah kita mempercayai bahwa ada orang yang mempunyai kemapuan sihir atau ilmu hitam?
J. Boleh percaya bahwa memang ada orang yang punya kemampuan seperti itu. Dan tidak boleh pula kita takabur mengatakan bahwa ilmu sihir orang itu tidak akan mempan kepada kita karena kita seorang yang ahli ibadah misalnya. Cukuplah kita menghindar dari berurusan dengan orang-orang yang punya ilmu sihir atau ilmu hitam itu dan berserah diri kepada Allah.
6. T. Apakah ramalan bintang termasuk perbuatan wali setan?
J. Ya, ramalan bintang itu termasuk perbuatan sesat.
Wallahu a’lam
Diskusi Ahad Malam (17)
DISKUSI AHAD MALAM (BA’DA MAGHRIB)
MESJID AL HUSNA KOMPLEKS DEPKES II
JATIBENING
(17)
Ahad 8 April 2007 / 21 Rabiul Awal 1428
Materi Diskusi : Wali-wali Allah dan Keramatnya
Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM
1. Wali-wali Allah
Orang Islam percaya bahwa Allah mempunyai para wali (para penolong) dari hamba-hamba Nya, yang ikhlas beribadah kepada Nya. Allah jadikan mereka orang yang selalu taat dan mereka menjadi mulia karena cintanya kepada Allah. Mereka dijadikan orang-orang yang memperoleh kemuliaan dari Allah, sehingga Allah menjadi penolong mereka. Mereka, para wali Allah itu mencintai Allah serta mengagungkan Nya, mentaati perintah Nya serta menyerukan perintah itu. Mereka menjauhkan diri dari larangan Allah dan menyuruh orang untuk menjauhi larangan tersebut.
Mereka mencintai dan membenci karena Allah. Jika mereka meminta kepada Allah, maka Allah memberi mereka. Bila mereka minta tolong kepada Allah maka Allah menolong mereka, begitupun ketika mereka minta perlindungan kepada Allah maka Allah melindungi mereka. Mereka adalah golongan orang beriman, bertakwa, mulia dan memperoleh kegembiraan di dunia dan akhirat.
Setiap Mukmin yang bertakwa adalah wali Allah, meskipun tingkatan mereka berbeda-beda dalam keimanan dan ketakwaan. Semakin tinggi kadar iman dan takwa seseorang maka derajatnya semakin tinggi disisi Allah. Di atas mereka adalah para rasul dan nabi. Di bawah mereka adalah orang-orang Mukmin. Di antara mereka ada yang mendapat ’karamah’ atau keramat dari Allah.
Di antara keramat yang terbesar adalah istiqamah dalam menunaikan segala perintah Allah dan dalam menjauhi semua larangan Nya.
Allah memberitahukan mengenai wali-waliNya dan kemulian mereka.
Firman Allah; ’Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.’ (Surat Yunus (10) ayat 62-64).
Pada ayat lain, firman Allah; ’Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).... (Surat Al Baqarah (2) ayat 257).
Firman Allah dalam Surat Ali Imran (3) ayat 37 yang artinya; ’... Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata; ’Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?’ Maryam menjawab; ’Makanan itu dari sisi Allah.’...).
Surat Maryam (19) ayat 24-26 yang artinya; Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah; ’Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu....’
Sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadits qudsi; ’Siapa yang memusuhi kekasih Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya. Dan pendekatan yang paling Aku sukai dari hamba Ku ialah dengan mengerjakan segala yang Aku wajibkan dan hamba Ku senantiasa mendekatkan diri kepada Ku dengan ibadah-ibadah sunah sehingga Aku menyukainya. Apabila Aku telah menyayanginya, maka Aku lah yang menjadi pendengaran dan penglihatannya, dan menjadi tangan yang digunakannya serta kaki yang dipakainya berjalan. Dan apabla dia memohon kepada Ku pasti Aku kabulkan dan jika berlindung kepada Ku pasti Aku lindungi.’ (Riwayat Bukhari.)
2. Diskusi
1. T. Disebutkan ada ’keramat’ dari orang saleh yang bisa mendatangkan makanan dalam jumlah banyak. Bagaimana menjelaskan bahwa itu bukan perbuatan sihir?
J. Karamah atau ’keramat’ sudah kita bahas, diberikan Allah kepada hamba Nya yang ahli ibadah. Yang senantiasa mematuhi perintah Allah dan senantiasa menjauhi larangan Allah. Orang yang memperoleh karamah bukan orang yang sombong dan ria. Inilah ciri-ciri yang dapat kita lihat. Kalau karamah atau kelebihan itu terdapat pada seorang ahli ibadah, yang taat kepada perintah Allah, yang meninggalkan larangan-larangan Allah, tidak ria dan tidak sombong, kita boleh percaya bahwa itu adalah kelebihan yang dianugerahkan Allah kepadanya dan bukan sihir.
2. T. Dalam mendatangkan pertolongan itu, misalnya mendatangkan bantuan atau makanan dalam jumlah banyak dalam suatu perjamuan, apakah yang menolong orang itu jin atau malaikat?
J. Wallahu a’lam siapa yang menolong mengadakannya. Seperti contoh hal yang terjadi kepada Siti Maryam dalam ayat yang kita sebutkan dalam surat Ali Imran ayat 37 tadi, tidak dirinci melalui siap pertolongan atau hidangan makanan itu didatangkan Allah. Maryam hanya menyebut dalam ayat itu, bahwa makanan itu datang dari sisi Allah.
3. K. Karamah ini kelihatannya masih terjadi sampai saat ini. Saya mendengar cerita tentang seorang wanita yang membangun mesjid berkubah emas di Depok yang kononnya mendapatkan limpahan reseki yang sangat banyak dari Allah karena suatu amalan khusus.
J. Saya juga mendengar cerita yang sama dari seorang ustad. Kabarnya keistimewaan wanita itu, sejak dia memulai usahanya, ketika usaha itu masih sangat biasa-biasa saja, dia menginfaqkan setengah dari keuntungannya langsung dan itu tetap dilakukannya sampai sekarang. Konon dia sudah menghajikan banyak sekali karyawannya dan terakhir adalah yang disebutkan itu tadi, dia membangun komplek mesjid yang sangat megah.
Namun perlu kita ingat bahwa mendapat karamah atau keutamaan itu hendaknya bukan tujuan tetapi berupa hasil sampingan dari ketaatan kita. Jadi tidak tepat kalau kita rajin beribadah karena ingin mempunyai ke keramatan atau keistimewaan yang terlihat oleh orang banyak, karena kalau cita-citanya seperti itu dikhawatirkan kita akan jatuh kepada sifat ria dan takabur atau paling tidak jadi sombong di tengah-tengah manusia di hadapan Allah.
4. T. Ada juga orang yang mempunyai kelebihan itu dan mengakui bahwa dia dibantu oleh jin. Bahkan dia bisa berkomunikasi dengan jin dan minta tolong kepada jin. Apakah ini termasuk karamah juga?
J. Rasulullah SAW mengingatkan kita, sebagai umat beliau agar jangan berurusan dengan jin karena kita akan rugi. Karena kita tidak bisa melihat wujud mereka. Kita beriman kepada keterangan Allah tentang keberadaan jin tapi sebaiknya kita tidak berurusan dengan mereka. Orang yang mendapatkan pertolongan jin dikhawatirkan akan diminta oleh jin balasan dari pertolongannya itu, dan yang lebih mengkhawatirkan kalau jin itu menggiring kita kepada kemusyrikan. Pertolongan yang diakui datangnya dari jin tadi sulit untuk difahami sebagai suatu karamah karena kita tidak tahu atas dasar apa jin itu memberi pertolongan.
5. T. Bagaimana dengan anak-anak yang mempunyai kemampuan melihat makhluk halus yang mungkin saja jin? Apakah bisa disebut bahwa kanak-kanak itu memperoleh karamah?
J. Kalau tadi kita memahami bahwa karamah itu dimiliki seseorang yang sangat baik ibadahnya dan ketaatannya kepada Allah, maka keistimewaan kanak-kanak yang mampu melihat makhluk ’halus’ tidaklah termasuk kedalam golongan karamah tetapi suatu kelebihan yang diberikan Allah saja kepada kanak-kanak itu. Sekali lagi karamah adalah ’keutamaan’ yang diberikan Allah kepada hamba Nya yang sangat taat dan patuh kepada Nya. Allah sering menunjukkan ke Maha Kuasa an Nya dengan menciptakan seseorang yang sangat pintar, sangat kuat, sangat cantik dan sebagainya meskipun mereka bukan orang yang beriman kepada Allah. Begitu juga Allah mampu menciptakan hamba yang mempunyai indera ke enam dan dapat melihat hal-hal yang tidak dapat dilihat orang biasa. Hal ini bukanlah karamah atau keutamaan yang berdasarkan kedekatan hamba itu kepada Allah karena kebaikan ibadahnya dan ketaatannya, melainkan suatu pemberian Allah untuk jadi pelajaran kepada orang-orang beriman yang mengamatinya.
6. T. Bagaimana pula dengan orang yang juga mempunyai kemampuan supra natural tapi dia bukan orang ahli ibadah? Misalnya orang yang mampu berjalan di atas air karena kesaktiannya?
J. Yang seperti ini jelas bukan karamah namanya (karena dia bukan seorang ahli ibadah). Jadi mungkin saja itu berupa sihir, atau mungkin dia mendapatkan atas pertolongan jin dengan persahabatannya dengan jin, yang tentu ada balasannya pula kepada jin tersebut.
Wallahu a’lam
MESJID AL HUSNA KOMPLEKS DEPKES II
JATIBENING
(17)
Ahad 8 April 2007 / 21 Rabiul Awal 1428
Materi Diskusi : Wali-wali Allah dan Keramatnya
Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM
1. Wali-wali Allah
Orang Islam percaya bahwa Allah mempunyai para wali (para penolong) dari hamba-hamba Nya, yang ikhlas beribadah kepada Nya. Allah jadikan mereka orang yang selalu taat dan mereka menjadi mulia karena cintanya kepada Allah. Mereka dijadikan orang-orang yang memperoleh kemuliaan dari Allah, sehingga Allah menjadi penolong mereka. Mereka, para wali Allah itu mencintai Allah serta mengagungkan Nya, mentaati perintah Nya serta menyerukan perintah itu. Mereka menjauhkan diri dari larangan Allah dan menyuruh orang untuk menjauhi larangan tersebut.
Mereka mencintai dan membenci karena Allah. Jika mereka meminta kepada Allah, maka Allah memberi mereka. Bila mereka minta tolong kepada Allah maka Allah menolong mereka, begitupun ketika mereka minta perlindungan kepada Allah maka Allah melindungi mereka. Mereka adalah golongan orang beriman, bertakwa, mulia dan memperoleh kegembiraan di dunia dan akhirat.
Setiap Mukmin yang bertakwa adalah wali Allah, meskipun tingkatan mereka berbeda-beda dalam keimanan dan ketakwaan. Semakin tinggi kadar iman dan takwa seseorang maka derajatnya semakin tinggi disisi Allah. Di atas mereka adalah para rasul dan nabi. Di bawah mereka adalah orang-orang Mukmin. Di antara mereka ada yang mendapat ’karamah’ atau keramat dari Allah.
Di antara keramat yang terbesar adalah istiqamah dalam menunaikan segala perintah Allah dan dalam menjauhi semua larangan Nya.
Allah memberitahukan mengenai wali-waliNya dan kemulian mereka.
Firman Allah; ’Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.’ (Surat Yunus (10) ayat 62-64).
Pada ayat lain, firman Allah; ’Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).... (Surat Al Baqarah (2) ayat 257).
Firman Allah dalam Surat Ali Imran (3) ayat 37 yang artinya; ’... Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata; ’Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?’ Maryam menjawab; ’Makanan itu dari sisi Allah.’...).
Surat Maryam (19) ayat 24-26 yang artinya; Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah; ’Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu....’
Sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadits qudsi; ’Siapa yang memusuhi kekasih Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya. Dan pendekatan yang paling Aku sukai dari hamba Ku ialah dengan mengerjakan segala yang Aku wajibkan dan hamba Ku senantiasa mendekatkan diri kepada Ku dengan ibadah-ibadah sunah sehingga Aku menyukainya. Apabila Aku telah menyayanginya, maka Aku lah yang menjadi pendengaran dan penglihatannya, dan menjadi tangan yang digunakannya serta kaki yang dipakainya berjalan. Dan apabla dia memohon kepada Ku pasti Aku kabulkan dan jika berlindung kepada Ku pasti Aku lindungi.’ (Riwayat Bukhari.)
2. Diskusi
1. T. Disebutkan ada ’keramat’ dari orang saleh yang bisa mendatangkan makanan dalam jumlah banyak. Bagaimana menjelaskan bahwa itu bukan perbuatan sihir?
J. Karamah atau ’keramat’ sudah kita bahas, diberikan Allah kepada hamba Nya yang ahli ibadah. Yang senantiasa mematuhi perintah Allah dan senantiasa menjauhi larangan Allah. Orang yang memperoleh karamah bukan orang yang sombong dan ria. Inilah ciri-ciri yang dapat kita lihat. Kalau karamah atau kelebihan itu terdapat pada seorang ahli ibadah, yang taat kepada perintah Allah, yang meninggalkan larangan-larangan Allah, tidak ria dan tidak sombong, kita boleh percaya bahwa itu adalah kelebihan yang dianugerahkan Allah kepadanya dan bukan sihir.
2. T. Dalam mendatangkan pertolongan itu, misalnya mendatangkan bantuan atau makanan dalam jumlah banyak dalam suatu perjamuan, apakah yang menolong orang itu jin atau malaikat?
J. Wallahu a’lam siapa yang menolong mengadakannya. Seperti contoh hal yang terjadi kepada Siti Maryam dalam ayat yang kita sebutkan dalam surat Ali Imran ayat 37 tadi, tidak dirinci melalui siap pertolongan atau hidangan makanan itu didatangkan Allah. Maryam hanya menyebut dalam ayat itu, bahwa makanan itu datang dari sisi Allah.
3. K. Karamah ini kelihatannya masih terjadi sampai saat ini. Saya mendengar cerita tentang seorang wanita yang membangun mesjid berkubah emas di Depok yang kononnya mendapatkan limpahan reseki yang sangat banyak dari Allah karena suatu amalan khusus.
J. Saya juga mendengar cerita yang sama dari seorang ustad. Kabarnya keistimewaan wanita itu, sejak dia memulai usahanya, ketika usaha itu masih sangat biasa-biasa saja, dia menginfaqkan setengah dari keuntungannya langsung dan itu tetap dilakukannya sampai sekarang. Konon dia sudah menghajikan banyak sekali karyawannya dan terakhir adalah yang disebutkan itu tadi, dia membangun komplek mesjid yang sangat megah.
Namun perlu kita ingat bahwa mendapat karamah atau keutamaan itu hendaknya bukan tujuan tetapi berupa hasil sampingan dari ketaatan kita. Jadi tidak tepat kalau kita rajin beribadah karena ingin mempunyai ke keramatan atau keistimewaan yang terlihat oleh orang banyak, karena kalau cita-citanya seperti itu dikhawatirkan kita akan jatuh kepada sifat ria dan takabur atau paling tidak jadi sombong di tengah-tengah manusia di hadapan Allah.
4. T. Ada juga orang yang mempunyai kelebihan itu dan mengakui bahwa dia dibantu oleh jin. Bahkan dia bisa berkomunikasi dengan jin dan minta tolong kepada jin. Apakah ini termasuk karamah juga?
J. Rasulullah SAW mengingatkan kita, sebagai umat beliau agar jangan berurusan dengan jin karena kita akan rugi. Karena kita tidak bisa melihat wujud mereka. Kita beriman kepada keterangan Allah tentang keberadaan jin tapi sebaiknya kita tidak berurusan dengan mereka. Orang yang mendapatkan pertolongan jin dikhawatirkan akan diminta oleh jin balasan dari pertolongannya itu, dan yang lebih mengkhawatirkan kalau jin itu menggiring kita kepada kemusyrikan. Pertolongan yang diakui datangnya dari jin tadi sulit untuk difahami sebagai suatu karamah karena kita tidak tahu atas dasar apa jin itu memberi pertolongan.
5. T. Bagaimana dengan anak-anak yang mempunyai kemampuan melihat makhluk halus yang mungkin saja jin? Apakah bisa disebut bahwa kanak-kanak itu memperoleh karamah?
J. Kalau tadi kita memahami bahwa karamah itu dimiliki seseorang yang sangat baik ibadahnya dan ketaatannya kepada Allah, maka keistimewaan kanak-kanak yang mampu melihat makhluk ’halus’ tidaklah termasuk kedalam golongan karamah tetapi suatu kelebihan yang diberikan Allah saja kepada kanak-kanak itu. Sekali lagi karamah adalah ’keutamaan’ yang diberikan Allah kepada hamba Nya yang sangat taat dan patuh kepada Nya. Allah sering menunjukkan ke Maha Kuasa an Nya dengan menciptakan seseorang yang sangat pintar, sangat kuat, sangat cantik dan sebagainya meskipun mereka bukan orang yang beriman kepada Allah. Begitu juga Allah mampu menciptakan hamba yang mempunyai indera ke enam dan dapat melihat hal-hal yang tidak dapat dilihat orang biasa. Hal ini bukanlah karamah atau keutamaan yang berdasarkan kedekatan hamba itu kepada Allah karena kebaikan ibadahnya dan ketaatannya, melainkan suatu pemberian Allah untuk jadi pelajaran kepada orang-orang beriman yang mengamatinya.
6. T. Bagaimana pula dengan orang yang juga mempunyai kemampuan supra natural tapi dia bukan orang ahli ibadah? Misalnya orang yang mampu berjalan di atas air karena kesaktiannya?
J. Yang seperti ini jelas bukan karamah namanya (karena dia bukan seorang ahli ibadah). Jadi mungkin saja itu berupa sihir, atau mungkin dia mendapatkan atas pertolongan jin dengan persahabatannya dengan jin, yang tentu ada balasannya pula kepada jin tersebut.
Wallahu a’lam
Diskusi Ahad Malam (16)
DISKUSI AHAD MALAM (BA’DA MAGHRIB)
MESJID AL HUSNA KOMPLEKS DEPKES II
JATIBENING
(16)
Ahad 1 April 2007 / 14 Rabiul Awal 1428
Materi Diskusi : Wasilah (bagian ke 2)
Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM
1. Wasilah (lanjutan)
Sudah dijelaskan hadits Rasulullah SAW yang mengingatkan bahwa sedekat-dekat hamba kepada Tuhannya adalah pada saat dia bersujud sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim.
Ada hadits Rasulullah SAW yang lain yang berbunyi; ’Hamba memohon kepada Mu ya Allah dengan semua nama yang telah Engkau berikan bagi Mu, atau Engkau turunkan nama itu dalam kitab Mu. Atau Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhluk Mu. Atau Engkau tentukan nama itu dalam ilmu gaib di sisi Mu. Ya Allah jadikanlah Quran penyubur hatiku, sinar di dadaku, pelipur kesedihanku dan menghilangkan kesusahanku.’ (Hadits riwayat Ahmad).
Sabda beliau yang lain; ’Seorang hamba telah meminta dengan asma Allah Yang Maha Agung, sehingga apa yang dimintanya diberi dan doanya dikabulkan.’
Quran telah menjelaskan bahwa para nabi telah bertawassul kepada Allah dengan menyebut asma dan sifat-sifat Nya, dan dengan iman dan amal saleh, dan tidak pernah bertawassul selain dengan cara-cara tersebut. Hal itu dapat kita simak sebagai berikut.
Nabi Yusuf berkata dalam doa tawassulnya:
’Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takbir mimpi. Ya Tuhan Pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan akhirat, waftakanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.’ (Surat Yusuf (12) ayat 101).
Nabi Yunus berdoa sebagai berikut (Surat Al Anbiya’ (21) ayat 87)
’...Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.’
Nabi Musa pula berdoa (Surat Al Qasas (28) ayat 16 dan di suarat Al Mukmin (40) ayat 27);
’Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku.......’
’Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku’
Doa nabi Ibrahim dan nabi Ismail (surat Al Baqarah (2) ayat 127);
’...Ya Tuhan kami, terimalah daripada kami amalan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’
Doa nabi Adam (Surat Al A’raf (7) ayat 23);
’Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.’
Dalil-dalil Akli
a. Karena Allah Maha Kaya dan hamba itu miskin, maka keadaan itu mengharuskan hamba yang miskin bertawassul kepada Tuhan Yang Maha Kaya. Agar si hamba yang miskin dan lemah itu selamat dari segala rasa takut dan memperoleh segala yang diinginkan dan diharapkannya.
b. Si hamba tidak mengetahui apa yang diinginkan Tuhannya dan apa yang tidak disenangi Nya, baik perbuatan maupun perkataan. Hal itu menyebabkan wasilah harus dilaksanakan berdasar apa yang disyariatkan Allah dan yang diterangkan oleh Rasul Nya yang berupa ucapan-ucapan yang baik dan bermacam amal saleh atau menjauhi serta meninggalkan ucapan kata-kata yang buruk dan amal perbuatan yang mungkar.
c. Karena kemegahan dan kebesaran manusia itu bukan hasil usahanya dan bukan hasil jerih payahnya, maka hal itu mengharuskan manusia yang lain hanya bertawassul kepada Allah semata, tidak boleh kepada selain Allah. Karena kemegahan orang lain tidak bisa dipergunakan untuk mendekatkan seseorang hamba kepada Allah dan bertawassul melalui kemegahan orang lain itu. Maka mendekatkan diri dan tawassul kepada Allah yang memiliki kemegahan, kebesaran dan keagungan hanyalah dengan amal yang ikhlas dan memohon ridha Nya.
2. Diskusi
1. T. Dalam berdoa kepada Allah ketika sujud karena pada saat sujud itu adalah sedekat-dekat hamba kepada Allah, ada yang berpendapat kita boleh berdoa apa saja termasuk dalam bahasa kita sendiri asal dikerjakan di dalam hati. Bagaimana dengan pendapat yang seperti ini, apakah dapat dibenarkan?
J. Kalau yang dimaksud sujud dalam shalat, saya tetap berpendapat bahwa sebaiknya kita membaca apa-apa yang sudah ada tuntunannya saja karena khawatir shalat kita bisa menjadi berkurang nilainya atau bahkan batal kalau kita mencampur bacaan shalat dengan bacaan dalam bahasa kita sendiri walau itu di dalam hati, tapi disengajakan. Dengan membaca permohonan ampun kepada Allah berulang-ulang (’Allahumaghfirli (ketika kita membaca ’Subhanaka Llahuma rabbana wa bihamdika Allahumaghfirli’ dalam sujud)), mudah-mudahan menjadikan diri kita semakin dekat kepada Allah dan sesudah selesai shalat baru kita sampaikan permohonan atau doa kita dalam bahasa ibu kita secara langsung. Wallahu a’lam.
2. T. Bagaimana kalau ketika sujud di luar shalat?
J. Kalau yang demikian tidak ada halangan karena tidak ada resiko shalat menjadi terganggu atau menjadi batal. Misalnya dalam sujud syukur kepada Allah, sesudah bersyukur dengan nikmat Allah yang baru kita peroleh lalu kita, dalam keadaan sujud, memohon lagi hal-hal yang lain, itu insya Allah boleh-boleh saja dilakukan.
3. K. Salah seorang yang terkurung dalam gua bertawassul dengan amalannya mengembalikan ternak berikut anak-anaknya padahal yang dia terima pada awalnya hanya sepasang ternak, kedengarannya sangat istimewa sekali yang rasa-rasanya tidak ada atau sulit ada orang yang mampu melakukannya. Seandainya dia bagi dua hasilnya rasanya lebih umum dan mudah kita mengerti?
J. Justru disana keistimewaan orang tersebut. Dan boleh jadi juga, dia memang tidak terlalu banyak direpotkan oleh ternak yang dia jaga itu karena hewan itu boleh jadi mengurus dirinya sendiri untuk mencari makannya. kalau dia ingin berdoa, dimana sajapun bisa dan tidak mesti di kuburan itu.
4. T. Apakah tidak ria namanya kalau kita dalam berdoa kepada Allah lalu menyebutkan keindahan amalan kita atau katakanlah menyebut-nyebut suatu amalan kita dihadapan Allah?
J. Kalau kita melakukannya dengan adab yang benar dengan merendahkan diri di hadapan Allah misalnya dengan mengatakan, ’Ya Allah seandainya Engkau berkenan dengan amalan hamba (kita sebutkan amalan apa), yang hamba lakukan semata-mata mengharapkan ridha Engkau ya Allah, maka hamba memohon kepada Mu ya Allah kiranya Engkau berkenan mengabulkan permohonan hamba (kita sebutkan apa hajat dan keinginan kita). Dengan cara seperti ini insya Allah bukan ria sifatnya. Tentu berbeda kalau adab kita keliru misalnya dengan mengatakan, ’Ya Allah saya sudah menyumbang sangat banyak atau bersedekah sangat banyak oleh karena itu kabulkanlah doa saya.’ Karena sumbangan sebesar apapun atau sedekah sebanyak apapun kalau dikerjakan bukan untuk mendapatkan ridha Allah dan Allah tidak ridha dengannya tentulah tidak akan menjadikan diri kita dekat untuk memohon kepada Allah.
5. T. Bolehkah kita bertawassul dengan amalan yang kita lakukan dengan harta hasil korupsi. Misalnya dengan mengingat amalan berderma kemana-mana tapi derma itu dengan uang hasil korupsi?
J. Allah itu Maha Baik dan menerima amalan-amalan yang baik-baik saja. Jadi hendaknya kita tidak mencampuradukkan antara amalan yang jahat dengan amalan yang baik. Berbuat korupsi adalah perbuatan dosa. Harta yang didapat dengan berbuat korupsi adalah harta yang tidak halal. Berderma dengan harta yang tidak halal tidak akan jadi ibadah yang baik. Bertawassul dengan amal ibadah yang tidak suci saya khawatir justru akan mengundang murka Allah.
6. T. Kembali ke masalah sujud dalam shalat. Bagaimana hukumnya kalau kita melamakan sujud yang terakhir ketika shalat berjamaah sementara imam sudah bangkit dari sujud?
J. Imam itu diadakan untuk diikuti. Ketika dia takbir makmum harus ikut takbir. Ketika dia rukuk makmum harus ikut rukuk begitu seterusnya. Begitu pula ketika imam sudah bangkit dari sujud hendaknya makmum juga segera bangkit dari sujud karena kalau tidak dikhawatirkan dia tidak lagi mengikuti imam ayau mufaraqah (memisahkan diri) alias keluar dari berjamaah.
7. T. Bagaimana dengan imam yang tergesa-gesa yang bahkan bacaan alfatihahnya saja dalam satu kali tarikan nafas. Apakah makmum juga harus tetap mengikutinya?
J. Imam itu harus amanah. Dia harus baik ibadah shalatnya (tuma’ninah). Kalau imamnya tidak tuma’ninah boleh ditegur di luar shalat. Di dalam shalat kalau masih mungkin diikuti dengan tidak merusak rukun shalat harus diikuti. Tapi kalau sudah merusak rukun shalat, misalnya bacaan alfatihah kita tidak dapat diselesaikan dengan baik imam sudah rukuk, boleh kita mufaraqah.
Wallahu a’lam
MESJID AL HUSNA KOMPLEKS DEPKES II
JATIBENING
(16)
Ahad 1 April 2007 / 14 Rabiul Awal 1428
Materi Diskusi : Wasilah (bagian ke 2)
Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM
1. Wasilah (lanjutan)
Sudah dijelaskan hadits Rasulullah SAW yang mengingatkan bahwa sedekat-dekat hamba kepada Tuhannya adalah pada saat dia bersujud sesuai dengan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim.
Ada hadits Rasulullah SAW yang lain yang berbunyi; ’Hamba memohon kepada Mu ya Allah dengan semua nama yang telah Engkau berikan bagi Mu, atau Engkau turunkan nama itu dalam kitab Mu. Atau Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhluk Mu. Atau Engkau tentukan nama itu dalam ilmu gaib di sisi Mu. Ya Allah jadikanlah Quran penyubur hatiku, sinar di dadaku, pelipur kesedihanku dan menghilangkan kesusahanku.’ (Hadits riwayat Ahmad).
Sabda beliau yang lain; ’Seorang hamba telah meminta dengan asma Allah Yang Maha Agung, sehingga apa yang dimintanya diberi dan doanya dikabulkan.’
Quran telah menjelaskan bahwa para nabi telah bertawassul kepada Allah dengan menyebut asma dan sifat-sifat Nya, dan dengan iman dan amal saleh, dan tidak pernah bertawassul selain dengan cara-cara tersebut. Hal itu dapat kita simak sebagai berikut.
Nabi Yusuf berkata dalam doa tawassulnya:
’Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebagian takbir mimpi. Ya Tuhan Pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan akhirat, waftakanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh.’ (Surat Yusuf (12) ayat 101).
Nabi Yunus berdoa sebagai berikut (Surat Al Anbiya’ (21) ayat 87)
’...Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.’
Nabi Musa pula berdoa (Surat Al Qasas (28) ayat 16 dan di suarat Al Mukmin (40) ayat 27);
’Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku.......’
’Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku’
Doa nabi Ibrahim dan nabi Ismail (surat Al Baqarah (2) ayat 127);
’...Ya Tuhan kami, terimalah daripada kami amalan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’
Doa nabi Adam (Surat Al A’raf (7) ayat 23);
’Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.’
Dalil-dalil Akli
a. Karena Allah Maha Kaya dan hamba itu miskin, maka keadaan itu mengharuskan hamba yang miskin bertawassul kepada Tuhan Yang Maha Kaya. Agar si hamba yang miskin dan lemah itu selamat dari segala rasa takut dan memperoleh segala yang diinginkan dan diharapkannya.
b. Si hamba tidak mengetahui apa yang diinginkan Tuhannya dan apa yang tidak disenangi Nya, baik perbuatan maupun perkataan. Hal itu menyebabkan wasilah harus dilaksanakan berdasar apa yang disyariatkan Allah dan yang diterangkan oleh Rasul Nya yang berupa ucapan-ucapan yang baik dan bermacam amal saleh atau menjauhi serta meninggalkan ucapan kata-kata yang buruk dan amal perbuatan yang mungkar.
c. Karena kemegahan dan kebesaran manusia itu bukan hasil usahanya dan bukan hasil jerih payahnya, maka hal itu mengharuskan manusia yang lain hanya bertawassul kepada Allah semata, tidak boleh kepada selain Allah. Karena kemegahan orang lain tidak bisa dipergunakan untuk mendekatkan seseorang hamba kepada Allah dan bertawassul melalui kemegahan orang lain itu. Maka mendekatkan diri dan tawassul kepada Allah yang memiliki kemegahan, kebesaran dan keagungan hanyalah dengan amal yang ikhlas dan memohon ridha Nya.
2. Diskusi
1. T. Dalam berdoa kepada Allah ketika sujud karena pada saat sujud itu adalah sedekat-dekat hamba kepada Allah, ada yang berpendapat kita boleh berdoa apa saja termasuk dalam bahasa kita sendiri asal dikerjakan di dalam hati. Bagaimana dengan pendapat yang seperti ini, apakah dapat dibenarkan?
J. Kalau yang dimaksud sujud dalam shalat, saya tetap berpendapat bahwa sebaiknya kita membaca apa-apa yang sudah ada tuntunannya saja karena khawatir shalat kita bisa menjadi berkurang nilainya atau bahkan batal kalau kita mencampur bacaan shalat dengan bacaan dalam bahasa kita sendiri walau itu di dalam hati, tapi disengajakan. Dengan membaca permohonan ampun kepada Allah berulang-ulang (’Allahumaghfirli (ketika kita membaca ’Subhanaka Llahuma rabbana wa bihamdika Allahumaghfirli’ dalam sujud)), mudah-mudahan menjadikan diri kita semakin dekat kepada Allah dan sesudah selesai shalat baru kita sampaikan permohonan atau doa kita dalam bahasa ibu kita secara langsung. Wallahu a’lam.
2. T. Bagaimana kalau ketika sujud di luar shalat?
J. Kalau yang demikian tidak ada halangan karena tidak ada resiko shalat menjadi terganggu atau menjadi batal. Misalnya dalam sujud syukur kepada Allah, sesudah bersyukur dengan nikmat Allah yang baru kita peroleh lalu kita, dalam keadaan sujud, memohon lagi hal-hal yang lain, itu insya Allah boleh-boleh saja dilakukan.
3. K. Salah seorang yang terkurung dalam gua bertawassul dengan amalannya mengembalikan ternak berikut anak-anaknya padahal yang dia terima pada awalnya hanya sepasang ternak, kedengarannya sangat istimewa sekali yang rasa-rasanya tidak ada atau sulit ada orang yang mampu melakukannya. Seandainya dia bagi dua hasilnya rasanya lebih umum dan mudah kita mengerti?
J. Justru disana keistimewaan orang tersebut. Dan boleh jadi juga, dia memang tidak terlalu banyak direpotkan oleh ternak yang dia jaga itu karena hewan itu boleh jadi mengurus dirinya sendiri untuk mencari makannya. kalau dia ingin berdoa, dimana sajapun bisa dan tidak mesti di kuburan itu.
4. T. Apakah tidak ria namanya kalau kita dalam berdoa kepada Allah lalu menyebutkan keindahan amalan kita atau katakanlah menyebut-nyebut suatu amalan kita dihadapan Allah?
J. Kalau kita melakukannya dengan adab yang benar dengan merendahkan diri di hadapan Allah misalnya dengan mengatakan, ’Ya Allah seandainya Engkau berkenan dengan amalan hamba (kita sebutkan amalan apa), yang hamba lakukan semata-mata mengharapkan ridha Engkau ya Allah, maka hamba memohon kepada Mu ya Allah kiranya Engkau berkenan mengabulkan permohonan hamba (kita sebutkan apa hajat dan keinginan kita). Dengan cara seperti ini insya Allah bukan ria sifatnya. Tentu berbeda kalau adab kita keliru misalnya dengan mengatakan, ’Ya Allah saya sudah menyumbang sangat banyak atau bersedekah sangat banyak oleh karena itu kabulkanlah doa saya.’ Karena sumbangan sebesar apapun atau sedekah sebanyak apapun kalau dikerjakan bukan untuk mendapatkan ridha Allah dan Allah tidak ridha dengannya tentulah tidak akan menjadikan diri kita dekat untuk memohon kepada Allah.
5. T. Bolehkah kita bertawassul dengan amalan yang kita lakukan dengan harta hasil korupsi. Misalnya dengan mengingat amalan berderma kemana-mana tapi derma itu dengan uang hasil korupsi?
J. Allah itu Maha Baik dan menerima amalan-amalan yang baik-baik saja. Jadi hendaknya kita tidak mencampuradukkan antara amalan yang jahat dengan amalan yang baik. Berbuat korupsi adalah perbuatan dosa. Harta yang didapat dengan berbuat korupsi adalah harta yang tidak halal. Berderma dengan harta yang tidak halal tidak akan jadi ibadah yang baik. Bertawassul dengan amal ibadah yang tidak suci saya khawatir justru akan mengundang murka Allah.
6. T. Kembali ke masalah sujud dalam shalat. Bagaimana hukumnya kalau kita melamakan sujud yang terakhir ketika shalat berjamaah sementara imam sudah bangkit dari sujud?
J. Imam itu diadakan untuk diikuti. Ketika dia takbir makmum harus ikut takbir. Ketika dia rukuk makmum harus ikut rukuk begitu seterusnya. Begitu pula ketika imam sudah bangkit dari sujud hendaknya makmum juga segera bangkit dari sujud karena kalau tidak dikhawatirkan dia tidak lagi mengikuti imam ayau mufaraqah (memisahkan diri) alias keluar dari berjamaah.
7. T. Bagaimana dengan imam yang tergesa-gesa yang bahkan bacaan alfatihahnya saja dalam satu kali tarikan nafas. Apakah makmum juga harus tetap mengikutinya?
J. Imam itu harus amanah. Dia harus baik ibadah shalatnya (tuma’ninah). Kalau imamnya tidak tuma’ninah boleh ditegur di luar shalat. Di dalam shalat kalau masih mungkin diikuti dengan tidak merusak rukun shalat harus diikuti. Tapi kalau sudah merusak rukun shalat, misalnya bacaan alfatihah kita tidak dapat diselesaikan dengan baik imam sudah rukuk, boleh kita mufaraqah.
Wallahu a’lam
Tuesday, May 19, 2009
Pengajian Buya Abidin (3)
TAKLIM BUYA ABIDIN (3)
OBROLAN AGAMA DI LEPAU RENDAH
Pagi ini suasana Lepau Rendah agak berbeda dari biasanya. Baru mulai ramai sesudah selesai shalat subuh di mesjid. Mak Marah, Malin Ameh, Sutan Mantari, Malin Deman dan Mangkuto Labiah datang berbarengan. Di dalam lepau sudah ada Bagindo Baro yang sedang berbincang-bincang dengan Sati Bandaro pemilik lepau. Ketika kelima orang itu masuk, Bagindo Baro menyambut mereka dengan pertanyaan.
‘Darimana ini datang berombongan pagi-pagi begini? Dari melayat ? Ada warga yang meninggal ?’ tanyanya.
‘Bukan. Kami dari shalat. Dari mesjid,’ jawab Malin Ameh.
‘Ondeh mandeh...... Sudah salah sangka aku kiranya. Rupanya para ustad ini baru kembali dari mesjid. Oi Sati! Bergegaslah. Cepat buatkan kopi untuk ustad-ustad kita ini. Ck..ck..ck... Bukan main. Benar-benar banyak kemajuan orang kampung kita ini sejak diceramahi Buya Abidin rupanya. Wahai ustad, naiklah ke mimbar, dekat podium ini. Berilah kami sedikit ceramah. Kuliah subuhlah untuk kami,’ Bagindo Baro mencerocos dengan cemoohan yang asli.
‘Kok terlihat aneh benar oleh Bagindo kami datang dari shalat ?’ tanya Sutan Mantari tersenyum.
‘Bukannya aku memandang aneh. Kenapa pula mesti aneh. Bukankah itu berarti kemajuan? Sesudah kaji didengar tentu diamalkan. Bukankah begitu Marah?’
‘Betul,’ jawab mak Marah pendek.
‘Jadi main domino tentu tidak boleh lagi kita sekarang? Bukankah itu dosa ?’
‘Masak subuh buta begini mau main domino. Becanda Bagindo,’ jawab Sutan Mantari.
‘Bukan. Maksudku, nanti sorepun. Tentu tidak ada lagi kawan berdomino. Kamu sendiri bagaimana Deman? Kamu juga tidak mau lagi main domino? Huh, betul-betul hebat pengaruh pengajian si Abidin. Jadi orang beriman semua penduduk negeri ini,’ Bagindo Baro terus menyerocos.
‘Harusnya kita bersyukur kalau semua masyarakat kampung ini benar-benar sudah beriman. Hei, Sati. Mana kopi untukku? Kok, lama amat?’ Mak Marah mengalihkan pembicaraan.
‘Benar, Sati. Buruan! Cepatlah buatkan kopi untuk ustad ini! Biar dapat pahala. Sambil menunggu kopi datang Marah, cobalah jelaskan apa saja isi pengajian inyiak Abidin itu. Siapa tahu, nanti aku juga ingin menjadi orang yang beriman. Mau pula aku ikut menghampir ke mesjid seperti para buya ini. Bukankah begitu Sati ? he..he..he..,’ ujar Bagindo Baro masih dalam cemooh yang kental.
‘Kaji inyiak Abidin itu sebenarnya tidak ada yang sulit. Bagiku yang menggetarkan hatiku benar adalah uraian tentang hidup yang hanya sementara, dan nanti akan berhenti ketika datang kematian. Umurku sudah lima puluh tahun, rasanya sudah lebih dari separo jalan yang aku lalui. Entah nanti, entah besok tentulah aku akan mati. Hal ini cukup menjadikan aku takut. Takut dengan perkara yang harus kuhadapi sesudah mati.’
‘Iya...iya....Benar itu. Oleh karenanya jadi rajin kita shalat. Mudah-mudahan sedang shalat itu nanti kita mati. Begitu rupanya, Marah?’
‘Bukan pula aku berkeinginan mati sedang mengerjakan shalat. Aku tidak tahu entah dengan cara apa aku akan mati. Harapanku, mudah-mudahan aku mati dalam keadaan beriman yang sesungguhnya.’
‘Iya..iya... Benar sekali. Hidup berakal, mati beriman. Begitu bukan? Iya..iya...’
‘Bagindo Baro! Hentikanlah mencemooh. Capek pula orang mendengar cemooh berkepanjangan begitu. Cobalah dengar kaji mak Marah ini baik-baik,’ Sati Bandaro pemilik lepau menimpali. Entah bersungguh-sungguh, entah cemooh pula.
‘Cobalah teruskan Marah!’ pinta Bagindo Baro.
‘Bagindo tidak yakin dengan kedatangan kematian itu. Begitu agaknya, bukan?’
‘Yakin. Kenapa tidak? Setiap saat kita melihat orang mati. Satu per satu orang yang kita kenal sudah pada mati. Kenapa aku mesti tidak yakin? Aku pasti yakin.’
‘Lalu, bahwa ketika sesudah mati, mayat kita dimasukkan ke dalam kubur, lalu akan datang malaikat menanyai kita? Adakah Bagindo yakin yang demikian?’
‘Wah! Kalau yang itu entahlah. Belum ada orang kembali dari kematian. Belum ada yang bercerita tentang itu. Tapi taruhlah hal itu benar. Lalu bagaimana ?’
‘Bagaimana ? Kalau malaikat itu bertanya, apa yang akan Bagindo jawab ?’
‘Entahlah. Tapi begini saja. Kalau kita tahu jawabannya, kita jawab. Kalau kita tidak tahu, katakan tidak tahu. Kita katakan baik-baik. ‘Maaf, engku malaikat, tidak jelas bagi hamba yang engku tanyakan.’ Jawab saja serupa itu.’
Orang selepau tertawa mendengar ocehan Bagindo Baro.
‘Baiklah. Sesudah itu nanti di hari kiamat semua kita akan dikeluarkan dari kubur masing-masing. Semua berkumpul di Padang Mahsyar nama tempatnya. Apakah Bagindo percaya tentang hal ini?’ lanjut mak Marah.
‘Itupun entahlah. Namun, katakan pulalah betul. Betapa akan ramainya umat disitu pada masa itu. Sebab semua orang yang sudah mati akan berkumpul di Padang Mahsyar itu. Disana nanti akan aku cari Marah. Kemana Marah pergi aku ikuti. Masuk Marah ke dalam surga aku akan ikut berebut masuk. Tapi kalau ke neraka tentu aku tidak mau ikut,’ jawab Bagindo Baro.
‘Disana itu nanti, menurut cerita inyiak Abidin, kata al Quran, semua kita akan ditanyai di pengadilan Allah. Segala-galanya akan ditanya. Apa saja yang kita kerjakan selama kita hidup akan diminta pertanggungjawabannya. Dihitung pahala dan dosa. Setiap amal baik akan diberikan pahalanya. Setiap amal yang buruk akan diberi hukuman atas dosanya. Lalu, jika timbangan pahala lebih berat. Orang itu akan dimasukkan ke dalam surga. Sebaliknya, jika timbangan dosanya yang lebih berat maka dia akan dimasukkan ke dalam neraka. Disana itu tidak ada tolong menolong di antara sesama umat. Jangankan untuk mengikuti aku, mengikuti orang tua Gindopun, Gindo tidak akan bisa. Sebab setiap diri akan sibuk dengan masalah dan urusannya masing-masing. Menjawab tanya kepada diri masing-masing. Obrolan kita di lepau pagi inipun nanti akan ditanya Allah. Apa saja yang kita perbincangkan sekarang sedang dicatat oleh malaikat. Semua perbuatan kita akan dicatatnya, tidak ada satupun yang luput. Lengkap catatan dengan waktunya, kata-kata yang kita keluarkan, pekerjaan yang kita lakukan,’
‘Betapa akan letihnya malaikat itu mencatat semua itu.’
‘Entah dia capek atau tidak, entahlah. Kita tidak tahu. Tapi yang pasti ada dua malaikat di kiri dan di kanan setiap kita yang tugasnya mencatat terus menerus setiap amal perbuatan yang kita lakukan. Yang di sebelah kanan mencatat segala kebaikan, yang di sebelah kiri mencatat segala keburukan.’
‘Sudah pernahkah Marah bertemu dengan malaikat-malaikat itu?’
‘Tidak pernah, sebab keberadaannya tidak dapat kita lihat. Tapi aku yakin tentang keberadaannya. Seperti aku yakin bahwa hidup ini akan mati, lalu kita akan ditanyai malaikat dalam kubur nanti. Seperti aku yakin bahwa aku akan diadili Allah nanti di akhirat.’
‘Meski mereka tidak tampak, Marah tetap yakin ?’
‘Ya. Aku yakin.’
‘Kalau bagiku, kalau tidak kelihatan itu aku agak ragu. Rasa-rasanya mungkin tidak akan demikian adanya.’
‘Oh begitu. Kalau kelihatan baru Gindo percaya. Boleh aku bertanya? Bagindo mempunyai nyawa, bukan?
‘Tentu. Aku orang hidup. Tentu aku bernyawa.’
‘Bisa tolong ditunjukkan yang mana nyawa Gindo? Aku tidak melihatnya.’
‘Ini, yang turun naik di dadaku ini. Inilah nyawaku. Marah tidak melihatnya?’
‘Dada Gindo yang turun naik itu? Itukah nyawa Gindo? Benar juga ya. Bukankah orang mati tidak kelihatan lagi dadanya turun naik. Lalu kalau suara Gindo? Adakah tampak suara itu? Atau beginilah. Apa saja yang ada di dalam perut Gindo? Punyakah Bagindo hati, jantung, usus? Pernahkah Gindo melihatnya?’
‘Bukankah kita ini hampir sama saja dengan binatang ternak, punya kepala, punya perut, punya kaki. Ketika kita memotong hewan kurban, dapat kita lihat hatinya, jantungnya, ususnya. Pada tubuh kita tentu seperti itu pula.’
‘Serupa belum tentu sama. Jantung Gindo sendiri, bukankah belum pernah Gindo lihat? Atau sudah pernah?’
‘Belum. Tapi aku yakin bahwa dia ada. Kalau dia tidak ada bagaimana mungkin aku bisa hidup.’
‘Persis seperti itulah kajinya. Aku yakin dengan keberadaan malaikat yang mencatat segala perbuatanku walaupun aku belum pernah melihat malaikat itu.’
‘Kenapa perlu benar adanya malaikat yang mencatat itu ? Tentulah diupah Allah dia agaknya ya ?’
‘Perlu, karena kita hidup di dunia ini disuruh Allah untuk beribadah dan menyembah kepada Nya. Ditunjukinya kita dengan agama, melalui nabi-nabi yang menerima wahyu Allah melalui perantaraan malaikat Allah itu. Setiap wahyu dan ajaran agama yang datang dari Allah itu dituliskan dalam kitab suci. Untuk kita umat nabi Muhammad SAW, kitab suci kita adalah al Quran. Di dalam al Quran itu dijelaskan tentang perintah dan larangan Allah, tentang pahala dan dosa, tentang surga dan neraka, tentang malaikat-malaikat yang ditugaskan Allah untuk bermacam-macam urusan. Berita itu sudah sampai kepada kita. Quran itu masih ada sampai sekarang dan akan selalu ada sampai hari kiamat. Bagaimana kita menerimanya. Mau patuh atau mau menolak, kedua-duanya boleh. Tapi semua itu dicatat. Nanti catatan itu akan diperlihatkan kepada kita sehingga kita tidak bisa memungkirinya. Semuanya tertulis sejelas-jelasnya. Hari itu, jam sekian, detik sekian, di tempat itu Bagindo sedang mengerjakan pekerjaan yang baik, yang ada pahalanya. Pada hari yang lain, jam sekian, detik sekian Bagindo sedang mengerjakan pekerjaan buruk. Tercatat pula. Catatan itu sangat lengkap, tidak ada satu hal jugapun yang dapat dipungkiri. Barulah sesudah itu dihitung timbangan perbuatan baik dan perbuatan buruk, dihitung pahala dan dosa. Kalau yang lebih berat pahala dari perbuatan baik maka surgalah ganjarannya. Kalau dosa yang lebih berat maka nerakalah tempatnya. Jadi, bagaimana kira-kira ?’ mak Marah menguraikan panjang lebar.
‘Aku bukan orang jahat. Aku tidak suka berbuat dosa. Aku suka menolong orang. Kira-kira kemana aku akan dimasukkan nanti?’
‘Jahat atau tidak jahat bukan sekedar menurut takaran kita sendiri. Kita ini dapat perintah dari Allah untuk menyembah Nya. Untuk beribadah kepada Nya. Ada agama yang mesti dijalankan. Agama itu berisi perintah dan larangan Allah. Sudahkah perintah dikerjakan? Sudahkah larangan dihentikan? Barulah sesudah itu kita dapat menguji diri, apakah kita ini orang jahat atau bukan di hadapan Allah. Ketika kita menolak perintah Allah untuk menegakkan shalat, berarti kita jahat di mata Allah. Ketika apa yang dilarang Allah kita kerjakan juga, berarti kita jahat di mata Allah. Sekarang cobalah tanyai diri Gindo. Bagaimana kira-kira?’
‘Jadi, pagi ini karena aku belum shalat subuh, aku berdosa?’
‘Itu biarlah salung saja yang menyampaikan. Kira-kira kan cukup jelas urusannya.’
‘Kapan, lagi Buya abidin itu akan datang?’
‘E eh. Kok itu yang ditanya? Apa maksud Gindo?’
‘Ingin pula aku mendengar langsung darinya. Benar atau tidak semua yang Marah uraikan ini.’
‘Hari Sabtu sore besok dia akan datang lagi. Mari kita lihat, apa benar Bagindo Baro akan datang,’ ajuk Mangkuto Labiah.
‘Jadi nanti sore kita nggak main domino lagi Gindo? Tanya Malin Deman memancing
‘Entahlah. Bagaimana itu Marah? Main domino itu berdosakah?’
‘Beginilah. Kalau main tidak bertaruh, tidak ada dosa judi di dalamnya. Kalau main itu berhenti ketika azan dikumandangkan, tidak ada dosa melalaikan shalat. Kalau main itu tidak dikerjakan karena kita pergi mendengarkan pengajian ada pahala karena mendengarkan kaji itu. Jadi terserah kepada kita mana yang akan dipilih.’
‘Bertele-tele betul kaji Marah, pusing kepalaku dibuatnya. Biarlah, kalau inyiak Abidin itu datang akan aku tanyakan hal ini kepadanya. Sementara ini aku akan tetap main domino selama masih ada yang menemani.’
‘Lalu? Nanti shalat zhuhur sudah bisa kita pergi bersama-sama?’
‘Lihat sajalah nanti. Sati! Ini uang. Aku mau pergi dulu.
Bagindo Baro bergegas keluar dari lepau. Entah kemana dia pergi.
*****
OBROLAN AGAMA DI LEPAU RENDAH
Pagi ini suasana Lepau Rendah agak berbeda dari biasanya. Baru mulai ramai sesudah selesai shalat subuh di mesjid. Mak Marah, Malin Ameh, Sutan Mantari, Malin Deman dan Mangkuto Labiah datang berbarengan. Di dalam lepau sudah ada Bagindo Baro yang sedang berbincang-bincang dengan Sati Bandaro pemilik lepau. Ketika kelima orang itu masuk, Bagindo Baro menyambut mereka dengan pertanyaan.
‘Darimana ini datang berombongan pagi-pagi begini? Dari melayat ? Ada warga yang meninggal ?’ tanyanya.
‘Bukan. Kami dari shalat. Dari mesjid,’ jawab Malin Ameh.
‘Ondeh mandeh...... Sudah salah sangka aku kiranya. Rupanya para ustad ini baru kembali dari mesjid. Oi Sati! Bergegaslah. Cepat buatkan kopi untuk ustad-ustad kita ini. Ck..ck..ck... Bukan main. Benar-benar banyak kemajuan orang kampung kita ini sejak diceramahi Buya Abidin rupanya. Wahai ustad, naiklah ke mimbar, dekat podium ini. Berilah kami sedikit ceramah. Kuliah subuhlah untuk kami,’ Bagindo Baro mencerocos dengan cemoohan yang asli.
‘Kok terlihat aneh benar oleh Bagindo kami datang dari shalat ?’ tanya Sutan Mantari tersenyum.
‘Bukannya aku memandang aneh. Kenapa pula mesti aneh. Bukankah itu berarti kemajuan? Sesudah kaji didengar tentu diamalkan. Bukankah begitu Marah?’
‘Betul,’ jawab mak Marah pendek.
‘Jadi main domino tentu tidak boleh lagi kita sekarang? Bukankah itu dosa ?’
‘Masak subuh buta begini mau main domino. Becanda Bagindo,’ jawab Sutan Mantari.
‘Bukan. Maksudku, nanti sorepun. Tentu tidak ada lagi kawan berdomino. Kamu sendiri bagaimana Deman? Kamu juga tidak mau lagi main domino? Huh, betul-betul hebat pengaruh pengajian si Abidin. Jadi orang beriman semua penduduk negeri ini,’ Bagindo Baro terus menyerocos.
‘Harusnya kita bersyukur kalau semua masyarakat kampung ini benar-benar sudah beriman. Hei, Sati. Mana kopi untukku? Kok, lama amat?’ Mak Marah mengalihkan pembicaraan.
‘Benar, Sati. Buruan! Cepatlah buatkan kopi untuk ustad ini! Biar dapat pahala. Sambil menunggu kopi datang Marah, cobalah jelaskan apa saja isi pengajian inyiak Abidin itu. Siapa tahu, nanti aku juga ingin menjadi orang yang beriman. Mau pula aku ikut menghampir ke mesjid seperti para buya ini. Bukankah begitu Sati ? he..he..he..,’ ujar Bagindo Baro masih dalam cemooh yang kental.
‘Kaji inyiak Abidin itu sebenarnya tidak ada yang sulit. Bagiku yang menggetarkan hatiku benar adalah uraian tentang hidup yang hanya sementara, dan nanti akan berhenti ketika datang kematian. Umurku sudah lima puluh tahun, rasanya sudah lebih dari separo jalan yang aku lalui. Entah nanti, entah besok tentulah aku akan mati. Hal ini cukup menjadikan aku takut. Takut dengan perkara yang harus kuhadapi sesudah mati.’
‘Iya...iya....Benar itu. Oleh karenanya jadi rajin kita shalat. Mudah-mudahan sedang shalat itu nanti kita mati. Begitu rupanya, Marah?’
‘Bukan pula aku berkeinginan mati sedang mengerjakan shalat. Aku tidak tahu entah dengan cara apa aku akan mati. Harapanku, mudah-mudahan aku mati dalam keadaan beriman yang sesungguhnya.’
‘Iya..iya... Benar sekali. Hidup berakal, mati beriman. Begitu bukan? Iya..iya...’
‘Bagindo Baro! Hentikanlah mencemooh. Capek pula orang mendengar cemooh berkepanjangan begitu. Cobalah dengar kaji mak Marah ini baik-baik,’ Sati Bandaro pemilik lepau menimpali. Entah bersungguh-sungguh, entah cemooh pula.
‘Cobalah teruskan Marah!’ pinta Bagindo Baro.
‘Bagindo tidak yakin dengan kedatangan kematian itu. Begitu agaknya, bukan?’
‘Yakin. Kenapa tidak? Setiap saat kita melihat orang mati. Satu per satu orang yang kita kenal sudah pada mati. Kenapa aku mesti tidak yakin? Aku pasti yakin.’
‘Lalu, bahwa ketika sesudah mati, mayat kita dimasukkan ke dalam kubur, lalu akan datang malaikat menanyai kita? Adakah Bagindo yakin yang demikian?’
‘Wah! Kalau yang itu entahlah. Belum ada orang kembali dari kematian. Belum ada yang bercerita tentang itu. Tapi taruhlah hal itu benar. Lalu bagaimana ?’
‘Bagaimana ? Kalau malaikat itu bertanya, apa yang akan Bagindo jawab ?’
‘Entahlah. Tapi begini saja. Kalau kita tahu jawabannya, kita jawab. Kalau kita tidak tahu, katakan tidak tahu. Kita katakan baik-baik. ‘Maaf, engku malaikat, tidak jelas bagi hamba yang engku tanyakan.’ Jawab saja serupa itu.’
Orang selepau tertawa mendengar ocehan Bagindo Baro.
‘Baiklah. Sesudah itu nanti di hari kiamat semua kita akan dikeluarkan dari kubur masing-masing. Semua berkumpul di Padang Mahsyar nama tempatnya. Apakah Bagindo percaya tentang hal ini?’ lanjut mak Marah.
‘Itupun entahlah. Namun, katakan pulalah betul. Betapa akan ramainya umat disitu pada masa itu. Sebab semua orang yang sudah mati akan berkumpul di Padang Mahsyar itu. Disana nanti akan aku cari Marah. Kemana Marah pergi aku ikuti. Masuk Marah ke dalam surga aku akan ikut berebut masuk. Tapi kalau ke neraka tentu aku tidak mau ikut,’ jawab Bagindo Baro.
‘Disana itu nanti, menurut cerita inyiak Abidin, kata al Quran, semua kita akan ditanyai di pengadilan Allah. Segala-galanya akan ditanya. Apa saja yang kita kerjakan selama kita hidup akan diminta pertanggungjawabannya. Dihitung pahala dan dosa. Setiap amal baik akan diberikan pahalanya. Setiap amal yang buruk akan diberi hukuman atas dosanya. Lalu, jika timbangan pahala lebih berat. Orang itu akan dimasukkan ke dalam surga. Sebaliknya, jika timbangan dosanya yang lebih berat maka dia akan dimasukkan ke dalam neraka. Disana itu tidak ada tolong menolong di antara sesama umat. Jangankan untuk mengikuti aku, mengikuti orang tua Gindopun, Gindo tidak akan bisa. Sebab setiap diri akan sibuk dengan masalah dan urusannya masing-masing. Menjawab tanya kepada diri masing-masing. Obrolan kita di lepau pagi inipun nanti akan ditanya Allah. Apa saja yang kita perbincangkan sekarang sedang dicatat oleh malaikat. Semua perbuatan kita akan dicatatnya, tidak ada satupun yang luput. Lengkap catatan dengan waktunya, kata-kata yang kita keluarkan, pekerjaan yang kita lakukan,’
‘Betapa akan letihnya malaikat itu mencatat semua itu.’
‘Entah dia capek atau tidak, entahlah. Kita tidak tahu. Tapi yang pasti ada dua malaikat di kiri dan di kanan setiap kita yang tugasnya mencatat terus menerus setiap amal perbuatan yang kita lakukan. Yang di sebelah kanan mencatat segala kebaikan, yang di sebelah kiri mencatat segala keburukan.’
‘Sudah pernahkah Marah bertemu dengan malaikat-malaikat itu?’
‘Tidak pernah, sebab keberadaannya tidak dapat kita lihat. Tapi aku yakin tentang keberadaannya. Seperti aku yakin bahwa hidup ini akan mati, lalu kita akan ditanyai malaikat dalam kubur nanti. Seperti aku yakin bahwa aku akan diadili Allah nanti di akhirat.’
‘Meski mereka tidak tampak, Marah tetap yakin ?’
‘Ya. Aku yakin.’
‘Kalau bagiku, kalau tidak kelihatan itu aku agak ragu. Rasa-rasanya mungkin tidak akan demikian adanya.’
‘Oh begitu. Kalau kelihatan baru Gindo percaya. Boleh aku bertanya? Bagindo mempunyai nyawa, bukan?
‘Tentu. Aku orang hidup. Tentu aku bernyawa.’
‘Bisa tolong ditunjukkan yang mana nyawa Gindo? Aku tidak melihatnya.’
‘Ini, yang turun naik di dadaku ini. Inilah nyawaku. Marah tidak melihatnya?’
‘Dada Gindo yang turun naik itu? Itukah nyawa Gindo? Benar juga ya. Bukankah orang mati tidak kelihatan lagi dadanya turun naik. Lalu kalau suara Gindo? Adakah tampak suara itu? Atau beginilah. Apa saja yang ada di dalam perut Gindo? Punyakah Bagindo hati, jantung, usus? Pernahkah Gindo melihatnya?’
‘Bukankah kita ini hampir sama saja dengan binatang ternak, punya kepala, punya perut, punya kaki. Ketika kita memotong hewan kurban, dapat kita lihat hatinya, jantungnya, ususnya. Pada tubuh kita tentu seperti itu pula.’
‘Serupa belum tentu sama. Jantung Gindo sendiri, bukankah belum pernah Gindo lihat? Atau sudah pernah?’
‘Belum. Tapi aku yakin bahwa dia ada. Kalau dia tidak ada bagaimana mungkin aku bisa hidup.’
‘Persis seperti itulah kajinya. Aku yakin dengan keberadaan malaikat yang mencatat segala perbuatanku walaupun aku belum pernah melihat malaikat itu.’
‘Kenapa perlu benar adanya malaikat yang mencatat itu ? Tentulah diupah Allah dia agaknya ya ?’
‘Perlu, karena kita hidup di dunia ini disuruh Allah untuk beribadah dan menyembah kepada Nya. Ditunjukinya kita dengan agama, melalui nabi-nabi yang menerima wahyu Allah melalui perantaraan malaikat Allah itu. Setiap wahyu dan ajaran agama yang datang dari Allah itu dituliskan dalam kitab suci. Untuk kita umat nabi Muhammad SAW, kitab suci kita adalah al Quran. Di dalam al Quran itu dijelaskan tentang perintah dan larangan Allah, tentang pahala dan dosa, tentang surga dan neraka, tentang malaikat-malaikat yang ditugaskan Allah untuk bermacam-macam urusan. Berita itu sudah sampai kepada kita. Quran itu masih ada sampai sekarang dan akan selalu ada sampai hari kiamat. Bagaimana kita menerimanya. Mau patuh atau mau menolak, kedua-duanya boleh. Tapi semua itu dicatat. Nanti catatan itu akan diperlihatkan kepada kita sehingga kita tidak bisa memungkirinya. Semuanya tertulis sejelas-jelasnya. Hari itu, jam sekian, detik sekian, di tempat itu Bagindo sedang mengerjakan pekerjaan yang baik, yang ada pahalanya. Pada hari yang lain, jam sekian, detik sekian Bagindo sedang mengerjakan pekerjaan buruk. Tercatat pula. Catatan itu sangat lengkap, tidak ada satu hal jugapun yang dapat dipungkiri. Barulah sesudah itu dihitung timbangan perbuatan baik dan perbuatan buruk, dihitung pahala dan dosa. Kalau yang lebih berat pahala dari perbuatan baik maka surgalah ganjarannya. Kalau dosa yang lebih berat maka nerakalah tempatnya. Jadi, bagaimana kira-kira ?’ mak Marah menguraikan panjang lebar.
‘Aku bukan orang jahat. Aku tidak suka berbuat dosa. Aku suka menolong orang. Kira-kira kemana aku akan dimasukkan nanti?’
‘Jahat atau tidak jahat bukan sekedar menurut takaran kita sendiri. Kita ini dapat perintah dari Allah untuk menyembah Nya. Untuk beribadah kepada Nya. Ada agama yang mesti dijalankan. Agama itu berisi perintah dan larangan Allah. Sudahkah perintah dikerjakan? Sudahkah larangan dihentikan? Barulah sesudah itu kita dapat menguji diri, apakah kita ini orang jahat atau bukan di hadapan Allah. Ketika kita menolak perintah Allah untuk menegakkan shalat, berarti kita jahat di mata Allah. Ketika apa yang dilarang Allah kita kerjakan juga, berarti kita jahat di mata Allah. Sekarang cobalah tanyai diri Gindo. Bagaimana kira-kira?’
‘Jadi, pagi ini karena aku belum shalat subuh, aku berdosa?’
‘Itu biarlah salung saja yang menyampaikan. Kira-kira kan cukup jelas urusannya.’
‘Kapan, lagi Buya abidin itu akan datang?’
‘E eh. Kok itu yang ditanya? Apa maksud Gindo?’
‘Ingin pula aku mendengar langsung darinya. Benar atau tidak semua yang Marah uraikan ini.’
‘Hari Sabtu sore besok dia akan datang lagi. Mari kita lihat, apa benar Bagindo Baro akan datang,’ ajuk Mangkuto Labiah.
‘Jadi nanti sore kita nggak main domino lagi Gindo? Tanya Malin Deman memancing
‘Entahlah. Bagaimana itu Marah? Main domino itu berdosakah?’
‘Beginilah. Kalau main tidak bertaruh, tidak ada dosa judi di dalamnya. Kalau main itu berhenti ketika azan dikumandangkan, tidak ada dosa melalaikan shalat. Kalau main itu tidak dikerjakan karena kita pergi mendengarkan pengajian ada pahala karena mendengarkan kaji itu. Jadi terserah kepada kita mana yang akan dipilih.’
‘Bertele-tele betul kaji Marah, pusing kepalaku dibuatnya. Biarlah, kalau inyiak Abidin itu datang akan aku tanyakan hal ini kepadanya. Sementara ini aku akan tetap main domino selama masih ada yang menemani.’
‘Lalu? Nanti shalat zhuhur sudah bisa kita pergi bersama-sama?’
‘Lihat sajalah nanti. Sati! Ini uang. Aku mau pergi dulu.
Bagindo Baro bergegas keluar dari lepau. Entah kemana dia pergi.
*****
Diskusi Ahad Malam (15)
DISKUSI AHAD MALAM (BA’DA MAGHRIB)
MESJID AL HUSNA KOMPLEKS DEPKES II
JATIBENING
(15)
Ahad 18 Maret 2007 / 29 Shafar 1428
Materi Diskusi : Wasilah
Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM
1. Taqarrub, tawaddud dan wasilah
Allah menganjurkan kepada hamba-hambaNya untuk ber taqarrub (mendekatkan diri), ber tawaddud (berkasih sayang) dan ber wasilah (mencari jalan) untuk memperoleh ridha Allah.
Taqarrub dan tawassul itu hendaknya dilaksanakan melalui amal shaleh dan ucapan-ucapan yang baik. Sehingga ia memohon dan tawassul kepada Allah melalui nama-nama Allah yang baik (asma’ul husna), sifat-sifatNya yang tinggi, dengan beriman dan mencintai Allah dan Rasul Nya.
Orang Islam tidak diperbolehkan memohon kepada Allah dengan menggunakan kebesaran dan kemegahan seorang makhluk Allah atau melalui amalnya seorang hamba Nya. Karena kemegahan dan kebesaran yang dimiliki makhluk pada dasarnya adalah hasil usahanya dan tidak bisa digunakan orang lain untuk memperoleh keridhaan Allah atau dijadikan wasilah kepada Nya.
Dalil-dalil Nakli
a. Allah mengemukakan soal wasilah itu melalui firman Nya:
‘… Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shaleh dinaikkan Nya…….’ (Al Fatir (35) ayat 10).
Dalam ayat lain Allah berfirman;
‘Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada Nya…..’ (Al Maidah (5) ayat 35).
Dalam ayat lain Allah berfirman;
‘Hanya milik Allah asma’ul husna, maka bermohonlah kepada Nya dengan menyebut asma’ul husna, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan’ (Al A’raf (7) ayat 180).
Dalam ayat lain Allah berfirman;
‘Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan) (Al “Alaq (96) ayat 19).
b. Sabda Rasulullah SAW tentang wasilah;
Sabda Rasulullah SAW;
‘Allah itu baik, Dia tidak akan menerima kecuali yang baik.’ (Riwayat Muslim, Tirmizi dan Ahmad).
Sabda Rasulullah SAW;
‘Ingatlah kepada Allah pada waktu senang, maka Allah akan memperhatikanmu di waktu susah.’ (Riwayat Tirmizi).
Sabda Rasulullah SAW;
‘Cara mendekatkan diri yang lebih disukai Allah ialah dengan mengerjakan yang difardhukan. Dan hambaKu tak henti-hentinya mendekatkan dirinya kepada Ku dengan ibadah-ibadah sunah, sehingga Aku mencintainya.’ (Muttafaq ‘alaih)
Sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadits qudsi;
‘Jika hamba-Ku mendekat pada Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat padanya sehasta. Dan jika ia mendekat pada Ku sehasta, Aku akan mendekat padanya sedepa. Dan jika ia dating padaku berjalan, Aku akan dating kepadanya berlari.’ (Riwayat Bukhari).
Ada suatu riwayat tentang tiga orang yang terperangkap dalam sebuah gua yang tiba-tiba tertutup pintunya (runtuh). Masing-masing dari ketiga orang itu berdoa kepada Allah. Yang pertama memohon kepada Allah melalui perbuatan baiknya kepada kedua orang tuanya. Yang kedua berdoa kepada Allah melalui usahanya meninggalkan apa yang diharamkan Allah. Yang ketiga berdoa kepada Allah melalui amalan mengembalikan hak orang lain yang diamanahkan kepadanya. Sabda Nabi SAW; ‘Lihatlah amal-amal saleh yang telah kamu kerjakan karena Allah dan berdoalah dengan menyebut amal-amal tersebut, mudah-mudahan Allah membukakan jalan untukmu.’ (Muttafaq ‘alaih).
Sabda Rasulullah SAW pula;
‘Sedekat-dekat hamba kepada Tuhannya ialah pada saat dia bersujud’ (Riwayat muslim).
2. Diskusi
1. T. Dikatakan bahwa bertawassul kepada wali yang sudah meninggal tidak ada tuntunannya. Tapi bolehkah kita minta tolong didoakan kepada orang alim yang masih hidup?
J. Kalau yang seperti itu boleh dan ada tuntunannya dari para sahabat Nabi. Para sahabat Rasulullah saling mendoakan sesama mereka. Kita tahu bahwa seseorang lebih baik ibadahnya dari kita, dan kita berharap mudah-mudahan kalau dia ikut mendoakan kita akan lebih dimudahkan Allah untuk mengabulkan. Tentu saja dalam hal ini, kita yang berkepentingan juga berdoa kepada Allah untuk urusan yang sama, jadi tidak semata-mata mengandalkan doa orang lain itu saja.
2. T. Bagaimana hukumnya pergi berziarah ke makam orang shalih atau para wali? Bagaimana hukumnya berdoa disana?
J. Berziarah ke makam siapa saja boleh dan sunnah hukumnya untuk mengingatkan diri kita bahwa kitapun akan mati. Pada bahasan minggu lalu sudah kita bahas tentang doa ketika mengunjungi kuburan atau ketika berziarah. Berdoa di makam yang mana saja juga boleh. Waktu kita mengucapkan salam kepada penghuni kubur kita juga berdoa untuk mereka yang mukmin dan muslim. Yang tidak boleh adalah berkeyakinan bahwa doa kita baru akan terkabul kalau kita berdoa di makam wali. Ini tidak benar dan bisa jatuh kepada ke syirikan karena dengan melakukan seperti itu kita telah mengagungkan wali yang sudah meninggal itu. Di atas sudah kita bahas bahwa berdoa kepada Allah itu hendaknya dikerjakan beriringan dengan amal-amal saleh yang kita lakukan.
3. T. Bagaimana pula hukumnya menziarahi kubur pada waktu menjelang puasa atau sesudah hari raya?
J. Boleh saja selama kita tidak melakukan ritual yang tidak ada tuntunannya. Pada waktu menziarahi kubur doa yang ada tuntunannya sifatnya umum saja seperti yang kita bahas minggu lalu. Dan tidak ada acara lain seperti menyiramkan air kembang, menabur bunga, lalu memintatolongkan orang alim membaca surah Yasin. Kebanyakan orang terbawa oleh perasaan karena mereka ingat dulu mengantarkan (jenazah) orang yang disayanginya ke kuburan. Dalam pikirannya seolah-olah mayat itu masih seperti itu juga di dalam kubur. Lalu dibayangkannya untuk berbuat baik dengan menyiramkan air mawar, atau menabur bunga dan sebagainya. Padahal mayat itu sudah berubah jadi tulang belulang dan tidak akan mengambil manfaat apapun juga dari yang dilakukan itu. Padahal kalau dia ingin berdoa, dimana sajapun bisa dan tidak mesti di kuburan itu.
4. T. Tadi disebutkan bahwa ada hadits rasulullah SAW bahwa sedekat-dekat hamba dengan Tuhannya adalah ketika seorang hamba bersujud. Bolehkah kita berdoa apa saja atau membaca al Quran dalam sujud?
J. Berdoa dengan doa yang ada tuntunannya dan tidak membaca ayat al Quran karena itu terlarang. Misalnya dengan mengulang-ulang permohonan ’Allahumaghfirli’. (ketika kita membaca ’Subhanaka Llahuma rabbana wa bihamdika Allahumaghfirli’ dalam sujud.)
5. T. Ada kebiasaan sementara orang, terpaksa membayar kontrak kuburan agar dia bisa menziarahi kuburan anggota keluarganya setiap tahun. Karena kalau tidak demikian kuburan itu akan digusur. Bagaimana hukumnya?
J. Ini adalah tradisi yang salah kaprah disebabkan kita terbawa oleh perasaan yang berlebihan terhadap orang yang sudah meninggal. Kalau kita realistis, tradisi seperti ini banyak ruginya. Lihatlah bagaimana tanah pekuburan jadi penuh dengan sangat cepat. Beberapa tahun yang lalu pemakaman Pondok Kelapa Baru masih sepi tapi sekarang sudah hampir penuh. Bandingkan dengan pekuburan Ma’la di Makkah dan Baqi’ di Madinah yang tidak seberapa besar tapi sudah dimanfaatkan sejak 1400 tahun lebih. Di dalam Islam, tuntunannya jika kita menggali kubur, kita temukan tulang belulalang, hendaklah tulang belulang itu kita bungkus dan dimasukkan kembali kekuburan yang sama. Dengan demikian, sebuah kuburan dalam jangka waktu empat lima tahun sudah bisa digunakan lagi oleh jenazah yang baru.
6. T. Kalau begitu kenapa MUI tidak mengeluarkan fatwa saja agar pemakaman itu boleh digunakan kembali sesudah jangka waktu tertentu dan tidak perlu dipertahankan kontraknya berlama-lama ?
J. Kita harapkan suatu saat nanti MUI akan mengeluarkan fatwa seperti itu. Karena kalau tidak bisa dibayangkan dalam dua puluh tahun ke depan mungkin luas pekuburan mesti dilipatgandakan dan tanah untuk orang yang hidup justru akan semakin sempit .
Wallahu a’lam
MESJID AL HUSNA KOMPLEKS DEPKES II
JATIBENING
(15)
Ahad 18 Maret 2007 / 29 Shafar 1428
Materi Diskusi : Wasilah
Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM
1. Taqarrub, tawaddud dan wasilah
Allah menganjurkan kepada hamba-hambaNya untuk ber taqarrub (mendekatkan diri), ber tawaddud (berkasih sayang) dan ber wasilah (mencari jalan) untuk memperoleh ridha Allah.
Taqarrub dan tawassul itu hendaknya dilaksanakan melalui amal shaleh dan ucapan-ucapan yang baik. Sehingga ia memohon dan tawassul kepada Allah melalui nama-nama Allah yang baik (asma’ul husna), sifat-sifatNya yang tinggi, dengan beriman dan mencintai Allah dan Rasul Nya.
Orang Islam tidak diperbolehkan memohon kepada Allah dengan menggunakan kebesaran dan kemegahan seorang makhluk Allah atau melalui amalnya seorang hamba Nya. Karena kemegahan dan kebesaran yang dimiliki makhluk pada dasarnya adalah hasil usahanya dan tidak bisa digunakan orang lain untuk memperoleh keridhaan Allah atau dijadikan wasilah kepada Nya.
Dalil-dalil Nakli
a. Allah mengemukakan soal wasilah itu melalui firman Nya:
‘… Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shaleh dinaikkan Nya…….’ (Al Fatir (35) ayat 10).
Dalam ayat lain Allah berfirman;
‘Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada Nya…..’ (Al Maidah (5) ayat 35).
Dalam ayat lain Allah berfirman;
‘Hanya milik Allah asma’ul husna, maka bermohonlah kepada Nya dengan menyebut asma’ul husna, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan’ (Al A’raf (7) ayat 180).
Dalam ayat lain Allah berfirman;
‘Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan) (Al “Alaq (96) ayat 19).
b. Sabda Rasulullah SAW tentang wasilah;
Sabda Rasulullah SAW;
‘Allah itu baik, Dia tidak akan menerima kecuali yang baik.’ (Riwayat Muslim, Tirmizi dan Ahmad).
Sabda Rasulullah SAW;
‘Ingatlah kepada Allah pada waktu senang, maka Allah akan memperhatikanmu di waktu susah.’ (Riwayat Tirmizi).
Sabda Rasulullah SAW;
‘Cara mendekatkan diri yang lebih disukai Allah ialah dengan mengerjakan yang difardhukan. Dan hambaKu tak henti-hentinya mendekatkan dirinya kepada Ku dengan ibadah-ibadah sunah, sehingga Aku mencintainya.’ (Muttafaq ‘alaih)
Sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadits qudsi;
‘Jika hamba-Ku mendekat pada Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat padanya sehasta. Dan jika ia mendekat pada Ku sehasta, Aku akan mendekat padanya sedepa. Dan jika ia dating padaku berjalan, Aku akan dating kepadanya berlari.’ (Riwayat Bukhari).
Ada suatu riwayat tentang tiga orang yang terperangkap dalam sebuah gua yang tiba-tiba tertutup pintunya (runtuh). Masing-masing dari ketiga orang itu berdoa kepada Allah. Yang pertama memohon kepada Allah melalui perbuatan baiknya kepada kedua orang tuanya. Yang kedua berdoa kepada Allah melalui usahanya meninggalkan apa yang diharamkan Allah. Yang ketiga berdoa kepada Allah melalui amalan mengembalikan hak orang lain yang diamanahkan kepadanya. Sabda Nabi SAW; ‘Lihatlah amal-amal saleh yang telah kamu kerjakan karena Allah dan berdoalah dengan menyebut amal-amal tersebut, mudah-mudahan Allah membukakan jalan untukmu.’ (Muttafaq ‘alaih).
Sabda Rasulullah SAW pula;
‘Sedekat-dekat hamba kepada Tuhannya ialah pada saat dia bersujud’ (Riwayat muslim).
2. Diskusi
1. T. Dikatakan bahwa bertawassul kepada wali yang sudah meninggal tidak ada tuntunannya. Tapi bolehkah kita minta tolong didoakan kepada orang alim yang masih hidup?
J. Kalau yang seperti itu boleh dan ada tuntunannya dari para sahabat Nabi. Para sahabat Rasulullah saling mendoakan sesama mereka. Kita tahu bahwa seseorang lebih baik ibadahnya dari kita, dan kita berharap mudah-mudahan kalau dia ikut mendoakan kita akan lebih dimudahkan Allah untuk mengabulkan. Tentu saja dalam hal ini, kita yang berkepentingan juga berdoa kepada Allah untuk urusan yang sama, jadi tidak semata-mata mengandalkan doa orang lain itu saja.
2. T. Bagaimana hukumnya pergi berziarah ke makam orang shalih atau para wali? Bagaimana hukumnya berdoa disana?
J. Berziarah ke makam siapa saja boleh dan sunnah hukumnya untuk mengingatkan diri kita bahwa kitapun akan mati. Pada bahasan minggu lalu sudah kita bahas tentang doa ketika mengunjungi kuburan atau ketika berziarah. Berdoa di makam yang mana saja juga boleh. Waktu kita mengucapkan salam kepada penghuni kubur kita juga berdoa untuk mereka yang mukmin dan muslim. Yang tidak boleh adalah berkeyakinan bahwa doa kita baru akan terkabul kalau kita berdoa di makam wali. Ini tidak benar dan bisa jatuh kepada ke syirikan karena dengan melakukan seperti itu kita telah mengagungkan wali yang sudah meninggal itu. Di atas sudah kita bahas bahwa berdoa kepada Allah itu hendaknya dikerjakan beriringan dengan amal-amal saleh yang kita lakukan.
3. T. Bagaimana pula hukumnya menziarahi kubur pada waktu menjelang puasa atau sesudah hari raya?
J. Boleh saja selama kita tidak melakukan ritual yang tidak ada tuntunannya. Pada waktu menziarahi kubur doa yang ada tuntunannya sifatnya umum saja seperti yang kita bahas minggu lalu. Dan tidak ada acara lain seperti menyiramkan air kembang, menabur bunga, lalu memintatolongkan orang alim membaca surah Yasin. Kebanyakan orang terbawa oleh perasaan karena mereka ingat dulu mengantarkan (jenazah) orang yang disayanginya ke kuburan. Dalam pikirannya seolah-olah mayat itu masih seperti itu juga di dalam kubur. Lalu dibayangkannya untuk berbuat baik dengan menyiramkan air mawar, atau menabur bunga dan sebagainya. Padahal mayat itu sudah berubah jadi tulang belulang dan tidak akan mengambil manfaat apapun juga dari yang dilakukan itu. Padahal kalau dia ingin berdoa, dimana sajapun bisa dan tidak mesti di kuburan itu.
4. T. Tadi disebutkan bahwa ada hadits rasulullah SAW bahwa sedekat-dekat hamba dengan Tuhannya adalah ketika seorang hamba bersujud. Bolehkah kita berdoa apa saja atau membaca al Quran dalam sujud?
J. Berdoa dengan doa yang ada tuntunannya dan tidak membaca ayat al Quran karena itu terlarang. Misalnya dengan mengulang-ulang permohonan ’Allahumaghfirli’. (ketika kita membaca ’Subhanaka Llahuma rabbana wa bihamdika Allahumaghfirli’ dalam sujud.)
5. T. Ada kebiasaan sementara orang, terpaksa membayar kontrak kuburan agar dia bisa menziarahi kuburan anggota keluarganya setiap tahun. Karena kalau tidak demikian kuburan itu akan digusur. Bagaimana hukumnya?
J. Ini adalah tradisi yang salah kaprah disebabkan kita terbawa oleh perasaan yang berlebihan terhadap orang yang sudah meninggal. Kalau kita realistis, tradisi seperti ini banyak ruginya. Lihatlah bagaimana tanah pekuburan jadi penuh dengan sangat cepat. Beberapa tahun yang lalu pemakaman Pondok Kelapa Baru masih sepi tapi sekarang sudah hampir penuh. Bandingkan dengan pekuburan Ma’la di Makkah dan Baqi’ di Madinah yang tidak seberapa besar tapi sudah dimanfaatkan sejak 1400 tahun lebih. Di dalam Islam, tuntunannya jika kita menggali kubur, kita temukan tulang belulalang, hendaklah tulang belulang itu kita bungkus dan dimasukkan kembali kekuburan yang sama. Dengan demikian, sebuah kuburan dalam jangka waktu empat lima tahun sudah bisa digunakan lagi oleh jenazah yang baru.
6. T. Kalau begitu kenapa MUI tidak mengeluarkan fatwa saja agar pemakaman itu boleh digunakan kembali sesudah jangka waktu tertentu dan tidak perlu dipertahankan kontraknya berlama-lama ?
J. Kita harapkan suatu saat nanti MUI akan mengeluarkan fatwa seperti itu. Karena kalau tidak bisa dibayangkan dalam dua puluh tahun ke depan mungkin luas pekuburan mesti dilipatgandakan dan tanah untuk orang yang hidup justru akan semakin sempit .
Wallahu a’lam
Diskusi Ahad Malam (14)
DISKUSI AHAD MALAM (BA’DA MAGHRIB)
MESJID AL HUSNA KOMPLEKS DEPKES II
JATIBENING
(14)
Ahad 4 Maret 2007 / 15 Shafar 1428
Materi Diskusi : Iman Kepada Azab Dan Nikmat Kubur
Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM
1. Kematian, derita kematian dan azab sesudah kematian
Dalil-dalil Nakli
a. Allah memberitahukan kepada kita melalui firman Nya:
‘Kalau kamu melihat ketika para malaikat itu mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): ‘Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar (tentulah kamu akan merasa ngeri).’ Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba Nya.’ (Al Anfal (8) ayat 50-51).
Dalam ayat lain Allah berfirman;
‘…Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang zalim dalam tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata): ‘Keluarkanlah nyawamu. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat Nya.’ Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu apa yang telah Kami kurniakan kepadamu, dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafaat yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah).’ (Al An’am (6) ayat 93-94).
Dalam ayat lain Allah berfirman;
‘Kepada mereka dinampakkan neraka pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada malaikat) : Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.’ (Al Mukmin (40) ayat 40).
b. Sabda rasulullah SAW tentang nikmat dan azab kubur;
‘Sesungguhnya seorang hamba tatkala dibaringkan dalam kuburnya, lalu ditinggalkan oleh para pengiringnya, maka saat ia masih mendengar bunyi sandal mereka, datanglah dua malaikat lalu duduklah di dekatnya dan berkata kepadanya; Dahulu kamu mengatakan apa kepada laki-laki ini? (Maksudnya kepada Muhammad). Jika orang Mukmin, ia akan berkata; Saya bersaksi bahwa dia hamba Allah dan Rasul Nya. Lalu dikatakan kepadanya, lihatlah tempatmu di neraka, kini Allah tukar tempatmu dengan tempat di surga. Maka orang itu melihat tempatnya di neraka dan di surga. Jika yang mati itu orang munafik atau orang kafir, maka malaikat berkata kepadanya; Dahulu kamu mengatakan apa kepada orang ini? Maka ia berkata; Saya tidak tahu, aku hanya mengatakan apa yang dikatakan orang kepadanya. Lalu dikatakan kepada orang itu; Engkau tidak akan tahu dan engkau tidak mengikutinya. Kemudian orang itu dipukul dengan martil sekeras-kerasnya. Maka menjeritlah orang itu sekeras-kerasnya, sehinga didengar oleh makhluk di sekitarnya kecuali oleh jin dan manusia.’ (Hadits riwayat Bukhari).
Sabda Rasulullah pula;
‘Apabila seseorang di antara kamu mati, maka kepadanya akan diperlihatkan tempatnya (di akhirat) pagi dan petang. Bila dia ahli neraka, maka diapun akan menjadi penghuni neraka, lalu dikatakan kepadanya, ‘inilah tempatmu sampai Allah membangkitkannya pada hari kiamat.’ (Riwayat Bukhari).
Sabda Rasulullah SAW doa beliau;
‘Allahumma innii a’uutzubika min ‘atzaabil qabri wa min ‘atzaabin naari wa min fitnatil mahyaa wal mamaati wa min fitnatil masiihid dajjaal.’
‘Ya Allah, aku berlindung kepada Mu dari siksa kubur, dari siksa api neraka dan dari fitnah kehidupan, fitnah kematian dan dari fitnah dajjal.’ (Riwayat Bukhari).
Sabda Rasulullah ketika beliau melalui dua kuburan;
‘Kedua orang dalam kubur itu lagi disiksa. Mereka disiksa bukan karena dosa besar. Lalu sabda Nabi lagi; Benar, yang satu karena dosa mengadu domba (antara orang) dan yang seorang lagi karena tanpa penghalang ketika buang air kecil.’ (Riwayat Bukhari).
2. Dalil-dalil Akli;
a. Imannya seorang hamba kepada Allah, malaikat-malaikatNya dan hari kiamat, mengakibatkan pula harus beriman kepada siksa kubur, nikmat kubur dan kepada hal-hal yang akan terjadi pada hari kiamat nanti. Karena semua itu termasuk soal-soal yang gaib. Brangsiapa beriman kepada sebahagian secara rasional harus pula beriman kepada bagian yang lain.
b. Soal azab kubur, nikmat kubur dan pertanyaan dua malaikat tidak ditolak oleh akal sehat. Bahkan akal menetapkan dan menerimanya.
c. Seseorang yang sedang tidur bermimpi, kadang-kadang bermimpi sesuatu yang menyenangkan sehingga ia merasakan kenikmatan pada dirinya. Namun waktu bangun dia menyesal karena itu hanya mimpi. Demikian pula orang yang bermimpi buruk, bersyukur bahwa kejadian itu hanya mimpi. Keadaan di alam kubur itu lebih kurang tercerminkan seperti itu dan berlangsung selamanya sampai hari kiamat.
2. Diskusi
1. T. Benarkah kalau mayat sudah dikafani lalu terkena airmata keluarga yang menangisinya akan menjadikan mayat itu tersiksa?
J. Tidak ada dalil untuk keterangan seperti itu. Yang nyata jika mayat sudah dikafani, sudah siap untuk dishalatkan dan dikuburkan tidak perlu dicium-cium dan ditangisi lagi karena ciuman dan tangisan itu tidak ada maknanya lagi baik bagi mayat maupun bagi yang menangisi.
2. T. Menurut riwayat Nabi SAW pernah menancapkan pelepah kurma yang masih basah di kuburan orang yang menurut nabi sedang disiksa. Apakah siksaan itu akan berhenti karena ditancapi pelepah kurma itu dan kalau ia apakah untuk seterusnya tidak ada lagi azab bagi penghuni kubur itu?
J. Yang saya dengar Nabi berdoa agar siksaan ahli kubur itu di kurangi selama pelepah itu masih hijau (basah). Pelajaran bagi orang yang beriman, bahwa siksa kubur itu ada. Nabi mendengar dan mengetahuinya lalu mengabarkannya kepada sahabat beliau. Kita sebagai umat beliau tentu juga beriman dengan apa yang beliau sampaikan, bahwa mayat disiksa dalam kubur karena dosa-dosanya.
3. T. Ketika berziarah kubur kita disunahkan mengucapkan salam kepada ahli kubur. Apakah itu juga akan mengurangi siksa ahli kubur?
J. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW diriwayatkan bahwa beliau mengajarkan apabila pergi berziarah kubur supaya membaca; Assalaamu’alaikum ahlad diyaar minal mukminiin wal muslimiin, wa inaa insya Allah ta’aala bikum laahiquun, nasaluLlaha lanaa wa lakumul ’aafiyah. (Artinya; Semoga keselamatan atas kalian wahai ahli kubur dari golongan mukminiin dan muslimiin, dan kami jika dikehendaki Allah Ta’ala aka menemui kalian, kami mintakan kepada Allah keselamatan untuk kami dan untuk kalian. (Riwayat Muslim). Ini adalah adab dan doa kita yang masih hidup untuk ahli kubur yang mudah-mudahan Allah mengabulkannya. Namun yang lebih penting adalah peringatan kepada kita yang berziarah bahwa kita satu saat pasti akan jadi ahli kubur pula.
4. T. Menurut riwayat dikatakan bahwa ketika ruh dicabut sakitnya luar biasa. Bagaimana dengan orang yang mati secara cepat akibat kecelakaan misalnya apakah dia juga merasakan sakit yang luar biasa ketika sakratul maut?
J. Saya juga pernah membaca keterangan seperti itu. Repotnya tidak ada orang yang kembali dari kematian untuk memastikan hal tersebut. Tapi kalau Nabi pernah mengatakan bahwa sakratul maut itu sangat sakit saya rasa kita beriman saja. Bahwa orang yang mati secara cepat itukan untuk pengamatan kita yang hidup, sedangkan kematiannya itu tetap berproses. Kita diajarkan untuk membaca doa dalam zikir kita sebagai berikut; Allahumma innaa nas aluka salamaatan fiddiin, wa’aafiyatan fil jasaad, wa ziyaadatan fil ’ilmi, wa barakatan firrizqi, wa taubatan qablal maut, wa rahmatan ’indal maut wa maghfiratan ba’dal maut, Allahumma hawwin ’alaina fii sakaraatil maut, wa najaatam minannaar, wal’afwa ’indal hisaab. (Artinya, Ya Allah kami memohon kepada Mu keselamatan dalam beragama, keafiatan dalam tubuh, keluasan dalam ilmu, keberkatan dalam rezeki, kesempatan bertaubat sebelum mati, kerahmatan pada saat mati, keampunan sesudah mati. Ya Allah berilah kemudahan kepada kami ketika sakratul maut, dan terhindar dari api neraka, dan kemaafan saat dihisab.
Wallahu a’lam
MESJID AL HUSNA KOMPLEKS DEPKES II
JATIBENING
(14)
Ahad 4 Maret 2007 / 15 Shafar 1428
Materi Diskusi : Iman Kepada Azab Dan Nikmat Kubur
Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM
1. Kematian, derita kematian dan azab sesudah kematian
Dalil-dalil Nakli
a. Allah memberitahukan kepada kita melalui firman Nya:
‘Kalau kamu melihat ketika para malaikat itu mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata): ‘Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar (tentulah kamu akan merasa ngeri).’ Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba Nya.’ (Al Anfal (8) ayat 50-51).
Dalam ayat lain Allah berfirman;
‘…Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang zalim dalam tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata): ‘Keluarkanlah nyawamu. Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat Nya.’ Dan sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu Kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu apa yang telah Kami kurniakan kepadamu, dan Kami tiada melihat besertamu pemberi syafaat yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. Sungguh telah terputuslah antara kamu dan telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah).’ (Al An’am (6) ayat 93-94).
Dalam ayat lain Allah berfirman;
‘Kepada mereka dinampakkan neraka pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada malaikat) : Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.’ (Al Mukmin (40) ayat 40).
b. Sabda rasulullah SAW tentang nikmat dan azab kubur;
‘Sesungguhnya seorang hamba tatkala dibaringkan dalam kuburnya, lalu ditinggalkan oleh para pengiringnya, maka saat ia masih mendengar bunyi sandal mereka, datanglah dua malaikat lalu duduklah di dekatnya dan berkata kepadanya; Dahulu kamu mengatakan apa kepada laki-laki ini? (Maksudnya kepada Muhammad). Jika orang Mukmin, ia akan berkata; Saya bersaksi bahwa dia hamba Allah dan Rasul Nya. Lalu dikatakan kepadanya, lihatlah tempatmu di neraka, kini Allah tukar tempatmu dengan tempat di surga. Maka orang itu melihat tempatnya di neraka dan di surga. Jika yang mati itu orang munafik atau orang kafir, maka malaikat berkata kepadanya; Dahulu kamu mengatakan apa kepada orang ini? Maka ia berkata; Saya tidak tahu, aku hanya mengatakan apa yang dikatakan orang kepadanya. Lalu dikatakan kepada orang itu; Engkau tidak akan tahu dan engkau tidak mengikutinya. Kemudian orang itu dipukul dengan martil sekeras-kerasnya. Maka menjeritlah orang itu sekeras-kerasnya, sehinga didengar oleh makhluk di sekitarnya kecuali oleh jin dan manusia.’ (Hadits riwayat Bukhari).
Sabda Rasulullah pula;
‘Apabila seseorang di antara kamu mati, maka kepadanya akan diperlihatkan tempatnya (di akhirat) pagi dan petang. Bila dia ahli neraka, maka diapun akan menjadi penghuni neraka, lalu dikatakan kepadanya, ‘inilah tempatmu sampai Allah membangkitkannya pada hari kiamat.’ (Riwayat Bukhari).
Sabda Rasulullah SAW doa beliau;
‘Allahumma innii a’uutzubika min ‘atzaabil qabri wa min ‘atzaabin naari wa min fitnatil mahyaa wal mamaati wa min fitnatil masiihid dajjaal.’
‘Ya Allah, aku berlindung kepada Mu dari siksa kubur, dari siksa api neraka dan dari fitnah kehidupan, fitnah kematian dan dari fitnah dajjal.’ (Riwayat Bukhari).
Sabda Rasulullah ketika beliau melalui dua kuburan;
‘Kedua orang dalam kubur itu lagi disiksa. Mereka disiksa bukan karena dosa besar. Lalu sabda Nabi lagi; Benar, yang satu karena dosa mengadu domba (antara orang) dan yang seorang lagi karena tanpa penghalang ketika buang air kecil.’ (Riwayat Bukhari).
2. Dalil-dalil Akli;
a. Imannya seorang hamba kepada Allah, malaikat-malaikatNya dan hari kiamat, mengakibatkan pula harus beriman kepada siksa kubur, nikmat kubur dan kepada hal-hal yang akan terjadi pada hari kiamat nanti. Karena semua itu termasuk soal-soal yang gaib. Brangsiapa beriman kepada sebahagian secara rasional harus pula beriman kepada bagian yang lain.
b. Soal azab kubur, nikmat kubur dan pertanyaan dua malaikat tidak ditolak oleh akal sehat. Bahkan akal menetapkan dan menerimanya.
c. Seseorang yang sedang tidur bermimpi, kadang-kadang bermimpi sesuatu yang menyenangkan sehingga ia merasakan kenikmatan pada dirinya. Namun waktu bangun dia menyesal karena itu hanya mimpi. Demikian pula orang yang bermimpi buruk, bersyukur bahwa kejadian itu hanya mimpi. Keadaan di alam kubur itu lebih kurang tercerminkan seperti itu dan berlangsung selamanya sampai hari kiamat.
2. Diskusi
1. T. Benarkah kalau mayat sudah dikafani lalu terkena airmata keluarga yang menangisinya akan menjadikan mayat itu tersiksa?
J. Tidak ada dalil untuk keterangan seperti itu. Yang nyata jika mayat sudah dikafani, sudah siap untuk dishalatkan dan dikuburkan tidak perlu dicium-cium dan ditangisi lagi karena ciuman dan tangisan itu tidak ada maknanya lagi baik bagi mayat maupun bagi yang menangisi.
2. T. Menurut riwayat Nabi SAW pernah menancapkan pelepah kurma yang masih basah di kuburan orang yang menurut nabi sedang disiksa. Apakah siksaan itu akan berhenti karena ditancapi pelepah kurma itu dan kalau ia apakah untuk seterusnya tidak ada lagi azab bagi penghuni kubur itu?
J. Yang saya dengar Nabi berdoa agar siksaan ahli kubur itu di kurangi selama pelepah itu masih hijau (basah). Pelajaran bagi orang yang beriman, bahwa siksa kubur itu ada. Nabi mendengar dan mengetahuinya lalu mengabarkannya kepada sahabat beliau. Kita sebagai umat beliau tentu juga beriman dengan apa yang beliau sampaikan, bahwa mayat disiksa dalam kubur karena dosa-dosanya.
3. T. Ketika berziarah kubur kita disunahkan mengucapkan salam kepada ahli kubur. Apakah itu juga akan mengurangi siksa ahli kubur?
J. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW diriwayatkan bahwa beliau mengajarkan apabila pergi berziarah kubur supaya membaca; Assalaamu’alaikum ahlad diyaar minal mukminiin wal muslimiin, wa inaa insya Allah ta’aala bikum laahiquun, nasaluLlaha lanaa wa lakumul ’aafiyah. (Artinya; Semoga keselamatan atas kalian wahai ahli kubur dari golongan mukminiin dan muslimiin, dan kami jika dikehendaki Allah Ta’ala aka menemui kalian, kami mintakan kepada Allah keselamatan untuk kami dan untuk kalian. (Riwayat Muslim). Ini adalah adab dan doa kita yang masih hidup untuk ahli kubur yang mudah-mudahan Allah mengabulkannya. Namun yang lebih penting adalah peringatan kepada kita yang berziarah bahwa kita satu saat pasti akan jadi ahli kubur pula.
4. T. Menurut riwayat dikatakan bahwa ketika ruh dicabut sakitnya luar biasa. Bagaimana dengan orang yang mati secara cepat akibat kecelakaan misalnya apakah dia juga merasakan sakit yang luar biasa ketika sakratul maut?
J. Saya juga pernah membaca keterangan seperti itu. Repotnya tidak ada orang yang kembali dari kematian untuk memastikan hal tersebut. Tapi kalau Nabi pernah mengatakan bahwa sakratul maut itu sangat sakit saya rasa kita beriman saja. Bahwa orang yang mati secara cepat itukan untuk pengamatan kita yang hidup, sedangkan kematiannya itu tetap berproses. Kita diajarkan untuk membaca doa dalam zikir kita sebagai berikut; Allahumma innaa nas aluka salamaatan fiddiin, wa’aafiyatan fil jasaad, wa ziyaadatan fil ’ilmi, wa barakatan firrizqi, wa taubatan qablal maut, wa rahmatan ’indal maut wa maghfiratan ba’dal maut, Allahumma hawwin ’alaina fii sakaraatil maut, wa najaatam minannaar, wal’afwa ’indal hisaab. (Artinya, Ya Allah kami memohon kepada Mu keselamatan dalam beragama, keafiatan dalam tubuh, keluasan dalam ilmu, keberkatan dalam rezeki, kesempatan bertaubat sebelum mati, kerahmatan pada saat mati, keampunan sesudah mati. Ya Allah berilah kemudahan kepada kami ketika sakratul maut, dan terhindar dari api neraka, dan kemaafan saat dihisab.
Wallahu a’lam
Tuesday, May 5, 2009
Pengajian Buya Abidin (2)
PENGAJIAN BUYA ABIDIN (2)
PATUH KEPADA ALLAH
Sudah datang lagi waktunya pengajian Buya Abidin di Mesjid Gurun. Jamaah sudah berkumpul sejak sebelum shalat isya. Bertambah banyak juga yang datang. Kalau biasanya jamaah bapak-bapak hanya sedikit lebih dari dua saf, kini bahkan sudah mencapai empat saf penuh. Begitu pula dengan jamaah ibu-ibu. Mudah-mudahan hal ini dikarenakan bertambahnya kesadaran masyarakat sesudah mendengar pengajian beliau. Bahkan anak-anak muda sekarang mulai pula tertarik mendengarkan ceramah Buya Abidin. Sedikit demi sedikit masyarakat kampung itu ikut merasakan kesejukan dari pengajian ini dan langsung mengamalkannya serta mengajarkan kepada orang-orang terdekat di sekitar mereka.
Kali ini pengajian itu membahas tentang kepatuhan kepada Allah dan perlunya ikhlas dalam menjalankan perintah-perintah Allah. Menurut keterangan Buya di dalam al Quran terdapat firman Allah yang berbunyi; ‘Wamaa umiruu illaa liya’budullaaha mukhlishiina lahuddiin’ Surat Al Bayyinah (98) ayat 5. Yang artinya, ‘Padahal mereka itu hanyalalah disuruh menyembah Allah serta ikhlas dalam menjalankan agama semata-mata karena Allah.’
Lawan dari patuh adalah ingkar, tidak patuh. Tidak patuh ini adalah dosa yang mula-mula sekali terjadi dan dilakukan oleh iblis. Dia tidak mau patuh ketika disuruh memberi hormat (sujud) kepada Adam, manusia pertama yang diciptakan Allah. Kenapa iblis menolak? Ternyata karena sombong dan tekebur. Karena merasa diri lebih. ‘Abaa wastakbara’ artinya, enggan serta merasa tekebur. Karena merasa dia lebih utama. Lebih senior dan lebih dulu dijadikan. Karena menurut dia asal usulnya lebih baik dibandingkan asal usul Adam si pendatang baru itu. Itulah sebabnya. Karena merasa hebat. Maka dia ingkar dan tidak patuh lalu durhaka kepada perintah Allah dan akhirnya diusir oleh Allah. Maka iblis terusir ke muka bumi menjadi musuh, menjadi tukang menipu daya terhadap anak cucu Adam. Menjadi provokator dan menjadi penyeru kepada pembangkangan terhadap Allah. Agar setiap anak cucu Adam terpeleset mengikuti tipu daya setan, agar mereka terpeleset untuk jadi tekebur, sombong bahkan pendurhaka.
Mendurhaka kepada siapa saja bahkan kepada Allah yang telah menjadikannya. Allah memerintahkan manusia agar menyembah Allah selama mereka hidup di muka bumi ini, agar berjalan di muka bumi dengan santun dan tidak sombong, tidak berbuat kerusakan atau kebinasaan. Allah telah mengutus para Rasul untuk menyampaikan pesan untuk bertauhid mengesakan Allah, untuk mengajarkan cara-cara beribadah menyembah Allah, untuk menjalani kehidupan di jalan yang lurus agar tidak tersesat dan salah jalan. Untuk mengingatkan peraturan-peraturan Allah tentang apa-apa saja yang boleh dikerjakan dan apa-apa saja yang tidak boleh dilakukan. Lawan dari seruan para Nabi dan rasul tadi adalah rayuan dan tipu daya setan. Setan yang senantiasa mematahkan apa-apa yang disampaikan oleh para Nabi dan Rasul itu dan menggantinya dengan hal yang berlawanan. Yang memoles agar semua yang disampaikan para Nabi itu agar terlihat bertentangan. Yang diperintah jadi terlihat seolah-olah buruk, berat dan menyusahkan sehingga akhirnya manusia yang tertipu tidak jadi mengerjakan yang diperintah. Begitu pula memoles apa-apa yang dilarang para Rasul itu menjadi seolah-olah terlihat indah dan bagus sehingga hati manusia yang lemah cenderung kepadanya. Padahal sesungguhnya kalau dituruti yang diperintahkan itu tidaklah berat sangat untuk mengerjakannya. Tidak ada perintah itu yang susah untuk dikerjakan melampaui kemampuan manusia untuk melakukannya. Allah banyak memberikan kemudahan-kemudahan untuk apa-apa yang Dia perintahkan ketika manusia yang diperintah berada dalam kesulitan untuk melaksanakannya. Ambil contoh perintah menegakkan shalat. Kalau tidak sanggup mengerjakan secara utuh dengan berdiri boleh juga dikerjakan dengan duduk. Tidak sanggup duduk boleh dalam keadaan berbaring. Yang terutama bahwa kita patuh untuk menerima perintah itu dan mengerjakannya dengan ikhlas semata-mata karena Allah.
Itulah lebih kurang inti ceramah Buya Abidin. Para jamaah terpaku mendengarnya. Ada yang manggut-manggut faham. Tibalah giliran untuk berdiskusi dengan tanya jawab. Bermacam-macam pertanyaan yang keluar. Mulai dari pertanyaan sungguh-sungguh sampai pertanyaan main-main atau asal-asalan. Malin Ameh termasuk yang kritis dan bermutu pertanyaannya sebagai berikut.
‘Saya awali bertanya Ustad. Kita disuruh Allah agar patuh kepada apa-apa yang diperintahkan Allah, dan menghentikan segala yang dilarang Allah serta ikhlas dalam beragama. Bagaimanakah tandanya ikhlas itu Ustad. Sebab mungkin saja ada orang yang semua perintah dikerjakannya, semua larangan dijauhinya namun entahlah kalau dia itu ikhlas karena Allah atau bukan. Tolong dijelaskan Ustad. Terima kasih.’
‘Dia beramal dan beribadah, Perintah Allah seperti shalat puasa dan sebagainya dia kerjakan. Larangan Allah dia tinggalkan. Tapi tidak tahu apakah dia itu ikhlas atau bukan. Begitukan pertanyaannya Malin? Agar kita ketahui, bahwa ketika kita beribadah, iblis dan setan tidaklah dia akan tingal diam. Semakin seseorang itu rajin beribadah, semakin giat pula iblis untuk menggelincirkannya. Maka, adakah orang yang sudah berusaha seperti itu tadi dlam kepatuhannya kepada Allah namun tergelincir juga? Jawabnya ada. Yakni orang-orang yang beribadah tapi tidak ikhlas. Tanda ketidak ikhlasannya, kadang-kadang bisa dilihat dari cara orang tersebut beribadah yang asal-asalan. Tidak dengan kesadaran. Tidak dengan pengertian dan tidak terlihat bahwa dia bersungguh-sungguh. Tidak terlihat keyakinannya bahwa dia sedang mengerjakan yang diperintahkan Allah karena dia mengerjakannya dengan setengah hati, sekedar pelepas hutang saja. Misalnya shalatnya asal-asalan, tidak ada tumakninahnya. Ketika dia puasa, puasa itu dihiasinya dengan keluh kesah dan omelan, karena rasa haus, karena udara panas dan sebagainya. Orang yang melakukan amalan dengan cara seperti ini dapat dipastikan bahwa dia tidak ikhlas. Seharusnya kalau akan dikerjakan juga amal itu hendaklah dikerjakan dengan baik. Dengan sungguh-sungguh dan penuh keberhati-hatian. Dengan keyakinan bahwa yang diharapkan adalah keridhaan Allah. Ada rasa takut dan cemas kalau-kalau yang dikerjakan itu tidak cukup baik untuk diterima Allah. Jadi tidak dikerjakan sesuka hati saja, sekedar pelepas hutang.
Lalu ada pula orang yang beramal karena mengharapkan pujian dari orang lain. Terlihat dia beramal juga, berbuat juga, beribadah juga tapi sangat kentara bahwa dia sangat mengharapkan nilai dari orang lain. Orang seperti ini jelas bukan termasuk kategori orang yang ikhlas karena Allah. Mereka ini adalah yang kena tipu daya setan. Segala sesuatu yang diperbuatnya tidak lebih dari sekedar ria. Sedekahnya ria, menolongnya ria, shalatnya ria. Yang dia harapkan hanyalah pujian dan penilaian baik dari orang lain. Ketika dilihat orang dia bisa berakting dengan sangat sungguh-sungguh. Shalatnya indah, ibadah lainnya bagus, sedekahnya banyak. Tapi ketika tidak ada orang yang akan memuji semua itu ditinggalkannya. Dia sangat berharap agar orang mengaguminya. Memujinya dan mengatakan bahwa dia seorang ahli ibadah. Seorang penyantun. Seorang yang sanagt taat. Dan dia sangat senang serta bangga dengan segala pujian gombal seperti itu. Terbusung dadanya, kembang kempis hidungnya ketika dipuji orang. Padahal yang seperti ini tidak disukai Allah. Karena amalan seperti ini bukan amalan karena Allah. Jadi disilah perlunya ikhlas tadi. Shalat ikhlas karena mematuhi perintah Allah. Beramal ikhlas karena Allah. Bersedekah ikhlas karena Allah. Berkata-kata, berbuat apa saja semata-mata hanya karena mengharapkan keridhaan Allah. Itu yang disebut ikhlas. Bagaimana? Apakah dapat Malin fahami?’
‘Ada Ustad. Insya Allah saya dapat memahaminya.’
‘Saya juga ada yang ingin ditanyakan Ustad. Menyimak kaji ustad tadi, sepertinya tidak akan sulit mengerjakan apa-apa yang diperintahkan agama. Banyak kemudahan dari Allah untuk beramal. Tapi dalam kenyataan tidak demikian. Seringkali sulit sekali untuk berbuat amala itu. Mungkin hal ini karena bujuk rayu setan dan iblis seperti yang Ustad uraikan. Pertanyaan saya, bagaimana caranya mengalahkan bujuk rayu iblis sementara dia itu tidak kelihatan. Itu saja pertanyaan saya Ustad,’ kata Sutan Mantari.
‘Wah, pertanyaan Sutan Mantari ini sulit. Bagaimana kita akan melawan setan sementara setan itu tidak kelihatan. Padahal musuh yang terlihat saja tidak sanggup kita melawannya? Jadi bagaimana caranya? Caranya dengan melatih diri kita untuk banyak-banyak dan terbiasa zikir mengingat Allah. Tidak bosan-bosannya kita berzikir dan berdoa memohon kepada Allah. Bukankah banyak sekali ucapan-ucapan zikir ketika kita melihat apa saja atau mengalami apa saja. Mengucapkan bismillah ketika mengawali pekerjaan. Mengucapkan alhamdulillah ketika mengakhiri pekerjaan. Membaca subhanallah ketika mengagumi kebesaran Allah. Membaca masya Allah ketika melihat suatu hal yang mencemaskan. Dan sebagainya. Latih lidah kita akrab dengan zikir seperti itu. Sering-sering kita meminta pertolongan dan perlindungan kepada Allah. Membaca ta’awutz, memohon perlindungan kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk dengan membaca a’uutzubillahiminasysyaithaanirrajiim Jangan bosan-bosan mamintak perlindungan Allah dari setiap bujuk rayu setan. Jadi disadari betul bahwa pekerjaan melawan setan itu memang berat. Bagaimana tidak akan dikatakan berat sebab kita tidak bisa melihatnya. Jadi caranya, mohon pertolongan dan perlindungan Allah. Hanya itu yang dapat kita lakukan dan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Sebab setan itu sangat tangguh. Dia bahkan bisa masuk ke dalam setiap sudut dan rongga dalam tubuh kita. Dia bisa masuk ke dalam hati. Masuk melalui mata, melalui mulut, melalui pendengaran, melalui hidung. Dapat menggunakan kaki kita. Dia dapat menggunakan tangan kita. Itulah lagi sebabnya kita harus dalam keadaan siaga setiap saat dan membentengi diri kita dengan pagar perlindungan Allah semata. Tanpa pertolongan Allah niscaya kita akan jadi bulan-bulanan dan sasaran empok setan-setan yang sangat lihai dan licik dalam menggoda kita umat manusia. Lalu disamping itu hendaklah kita saling ingat mengingatkan. Disinilah perlunya pengajian seperti ini. Tempat kita saling ingat mengingatkan tentang yang hak agar kita menegakkan yang hak. Tempat kita saling ingat mengingatkan tentang kebatilan, agar kita meninggalkan kebatilan tersebut. Dan hendaklah setiap kita membuka hati untuk mau menerima kebenaran dan peringatan. Ketika kita terkeliru, ada orang mengingatkan, latihlah diri agar mau menerima tegoran orang itu. Mungkin juga, ketika kita sedang hangat dibawah tipu daya setan tidak serta merta kita mau mendengarkannya, tapi paling tidak seandainya ada yang mengingatkan kita agar beristghfar memohon ampun kepada Allah, hendaknya anjuran itu didengarkan dan segeralah beristighfar. Dengan mendengar disebut orang nama Allah, disuruh orang agar minta ampun kepada Allah, hendaklah dilatih diri kita agar segera surut dan kembali kepada kebenaran Allah. Mengerjakan yang demikian itu akan lebih mudah kalau hati kita sudah biasa dilatih untuk mau menerima kebenaran. Bergetar dia ketika disebutkan orang nama Allah, tidak terus membara saja dengan nafsu. Bagaimana, apakah uraian ini menjawab pertanyaan Sutan Mantari?’ tanya Buya Abidin
Sutan Mantari mengangguk-angguk kecil.
‘Sudah terjawab Ustad,’ katanya.
*****
PATUH KEPADA ALLAH
Sudah datang lagi waktunya pengajian Buya Abidin di Mesjid Gurun. Jamaah sudah berkumpul sejak sebelum shalat isya. Bertambah banyak juga yang datang. Kalau biasanya jamaah bapak-bapak hanya sedikit lebih dari dua saf, kini bahkan sudah mencapai empat saf penuh. Begitu pula dengan jamaah ibu-ibu. Mudah-mudahan hal ini dikarenakan bertambahnya kesadaran masyarakat sesudah mendengar pengajian beliau. Bahkan anak-anak muda sekarang mulai pula tertarik mendengarkan ceramah Buya Abidin. Sedikit demi sedikit masyarakat kampung itu ikut merasakan kesejukan dari pengajian ini dan langsung mengamalkannya serta mengajarkan kepada orang-orang terdekat di sekitar mereka.
Kali ini pengajian itu membahas tentang kepatuhan kepada Allah dan perlunya ikhlas dalam menjalankan perintah-perintah Allah. Menurut keterangan Buya di dalam al Quran terdapat firman Allah yang berbunyi; ‘Wamaa umiruu illaa liya’budullaaha mukhlishiina lahuddiin’ Surat Al Bayyinah (98) ayat 5. Yang artinya, ‘Padahal mereka itu hanyalalah disuruh menyembah Allah serta ikhlas dalam menjalankan agama semata-mata karena Allah.’
Lawan dari patuh adalah ingkar, tidak patuh. Tidak patuh ini adalah dosa yang mula-mula sekali terjadi dan dilakukan oleh iblis. Dia tidak mau patuh ketika disuruh memberi hormat (sujud) kepada Adam, manusia pertama yang diciptakan Allah. Kenapa iblis menolak? Ternyata karena sombong dan tekebur. Karena merasa diri lebih. ‘Abaa wastakbara’ artinya, enggan serta merasa tekebur. Karena merasa dia lebih utama. Lebih senior dan lebih dulu dijadikan. Karena menurut dia asal usulnya lebih baik dibandingkan asal usul Adam si pendatang baru itu. Itulah sebabnya. Karena merasa hebat. Maka dia ingkar dan tidak patuh lalu durhaka kepada perintah Allah dan akhirnya diusir oleh Allah. Maka iblis terusir ke muka bumi menjadi musuh, menjadi tukang menipu daya terhadap anak cucu Adam. Menjadi provokator dan menjadi penyeru kepada pembangkangan terhadap Allah. Agar setiap anak cucu Adam terpeleset mengikuti tipu daya setan, agar mereka terpeleset untuk jadi tekebur, sombong bahkan pendurhaka.
Mendurhaka kepada siapa saja bahkan kepada Allah yang telah menjadikannya. Allah memerintahkan manusia agar menyembah Allah selama mereka hidup di muka bumi ini, agar berjalan di muka bumi dengan santun dan tidak sombong, tidak berbuat kerusakan atau kebinasaan. Allah telah mengutus para Rasul untuk menyampaikan pesan untuk bertauhid mengesakan Allah, untuk mengajarkan cara-cara beribadah menyembah Allah, untuk menjalani kehidupan di jalan yang lurus agar tidak tersesat dan salah jalan. Untuk mengingatkan peraturan-peraturan Allah tentang apa-apa saja yang boleh dikerjakan dan apa-apa saja yang tidak boleh dilakukan. Lawan dari seruan para Nabi dan rasul tadi adalah rayuan dan tipu daya setan. Setan yang senantiasa mematahkan apa-apa yang disampaikan oleh para Nabi dan Rasul itu dan menggantinya dengan hal yang berlawanan. Yang memoles agar semua yang disampaikan para Nabi itu agar terlihat bertentangan. Yang diperintah jadi terlihat seolah-olah buruk, berat dan menyusahkan sehingga akhirnya manusia yang tertipu tidak jadi mengerjakan yang diperintah. Begitu pula memoles apa-apa yang dilarang para Rasul itu menjadi seolah-olah terlihat indah dan bagus sehingga hati manusia yang lemah cenderung kepadanya. Padahal sesungguhnya kalau dituruti yang diperintahkan itu tidaklah berat sangat untuk mengerjakannya. Tidak ada perintah itu yang susah untuk dikerjakan melampaui kemampuan manusia untuk melakukannya. Allah banyak memberikan kemudahan-kemudahan untuk apa-apa yang Dia perintahkan ketika manusia yang diperintah berada dalam kesulitan untuk melaksanakannya. Ambil contoh perintah menegakkan shalat. Kalau tidak sanggup mengerjakan secara utuh dengan berdiri boleh juga dikerjakan dengan duduk. Tidak sanggup duduk boleh dalam keadaan berbaring. Yang terutama bahwa kita patuh untuk menerima perintah itu dan mengerjakannya dengan ikhlas semata-mata karena Allah.
Itulah lebih kurang inti ceramah Buya Abidin. Para jamaah terpaku mendengarnya. Ada yang manggut-manggut faham. Tibalah giliran untuk berdiskusi dengan tanya jawab. Bermacam-macam pertanyaan yang keluar. Mulai dari pertanyaan sungguh-sungguh sampai pertanyaan main-main atau asal-asalan. Malin Ameh termasuk yang kritis dan bermutu pertanyaannya sebagai berikut.
‘Saya awali bertanya Ustad. Kita disuruh Allah agar patuh kepada apa-apa yang diperintahkan Allah, dan menghentikan segala yang dilarang Allah serta ikhlas dalam beragama. Bagaimanakah tandanya ikhlas itu Ustad. Sebab mungkin saja ada orang yang semua perintah dikerjakannya, semua larangan dijauhinya namun entahlah kalau dia itu ikhlas karena Allah atau bukan. Tolong dijelaskan Ustad. Terima kasih.’
‘Dia beramal dan beribadah, Perintah Allah seperti shalat puasa dan sebagainya dia kerjakan. Larangan Allah dia tinggalkan. Tapi tidak tahu apakah dia itu ikhlas atau bukan. Begitukan pertanyaannya Malin? Agar kita ketahui, bahwa ketika kita beribadah, iblis dan setan tidaklah dia akan tingal diam. Semakin seseorang itu rajin beribadah, semakin giat pula iblis untuk menggelincirkannya. Maka, adakah orang yang sudah berusaha seperti itu tadi dlam kepatuhannya kepada Allah namun tergelincir juga? Jawabnya ada. Yakni orang-orang yang beribadah tapi tidak ikhlas. Tanda ketidak ikhlasannya, kadang-kadang bisa dilihat dari cara orang tersebut beribadah yang asal-asalan. Tidak dengan kesadaran. Tidak dengan pengertian dan tidak terlihat bahwa dia bersungguh-sungguh. Tidak terlihat keyakinannya bahwa dia sedang mengerjakan yang diperintahkan Allah karena dia mengerjakannya dengan setengah hati, sekedar pelepas hutang saja. Misalnya shalatnya asal-asalan, tidak ada tumakninahnya. Ketika dia puasa, puasa itu dihiasinya dengan keluh kesah dan omelan, karena rasa haus, karena udara panas dan sebagainya. Orang yang melakukan amalan dengan cara seperti ini dapat dipastikan bahwa dia tidak ikhlas. Seharusnya kalau akan dikerjakan juga amal itu hendaklah dikerjakan dengan baik. Dengan sungguh-sungguh dan penuh keberhati-hatian. Dengan keyakinan bahwa yang diharapkan adalah keridhaan Allah. Ada rasa takut dan cemas kalau-kalau yang dikerjakan itu tidak cukup baik untuk diterima Allah. Jadi tidak dikerjakan sesuka hati saja, sekedar pelepas hutang.
Lalu ada pula orang yang beramal karena mengharapkan pujian dari orang lain. Terlihat dia beramal juga, berbuat juga, beribadah juga tapi sangat kentara bahwa dia sangat mengharapkan nilai dari orang lain. Orang seperti ini jelas bukan termasuk kategori orang yang ikhlas karena Allah. Mereka ini adalah yang kena tipu daya setan. Segala sesuatu yang diperbuatnya tidak lebih dari sekedar ria. Sedekahnya ria, menolongnya ria, shalatnya ria. Yang dia harapkan hanyalah pujian dan penilaian baik dari orang lain. Ketika dilihat orang dia bisa berakting dengan sangat sungguh-sungguh. Shalatnya indah, ibadah lainnya bagus, sedekahnya banyak. Tapi ketika tidak ada orang yang akan memuji semua itu ditinggalkannya. Dia sangat berharap agar orang mengaguminya. Memujinya dan mengatakan bahwa dia seorang ahli ibadah. Seorang penyantun. Seorang yang sanagt taat. Dan dia sangat senang serta bangga dengan segala pujian gombal seperti itu. Terbusung dadanya, kembang kempis hidungnya ketika dipuji orang. Padahal yang seperti ini tidak disukai Allah. Karena amalan seperti ini bukan amalan karena Allah. Jadi disilah perlunya ikhlas tadi. Shalat ikhlas karena mematuhi perintah Allah. Beramal ikhlas karena Allah. Bersedekah ikhlas karena Allah. Berkata-kata, berbuat apa saja semata-mata hanya karena mengharapkan keridhaan Allah. Itu yang disebut ikhlas. Bagaimana? Apakah dapat Malin fahami?’
‘Ada Ustad. Insya Allah saya dapat memahaminya.’
‘Saya juga ada yang ingin ditanyakan Ustad. Menyimak kaji ustad tadi, sepertinya tidak akan sulit mengerjakan apa-apa yang diperintahkan agama. Banyak kemudahan dari Allah untuk beramal. Tapi dalam kenyataan tidak demikian. Seringkali sulit sekali untuk berbuat amala itu. Mungkin hal ini karena bujuk rayu setan dan iblis seperti yang Ustad uraikan. Pertanyaan saya, bagaimana caranya mengalahkan bujuk rayu iblis sementara dia itu tidak kelihatan. Itu saja pertanyaan saya Ustad,’ kata Sutan Mantari.
‘Wah, pertanyaan Sutan Mantari ini sulit. Bagaimana kita akan melawan setan sementara setan itu tidak kelihatan. Padahal musuh yang terlihat saja tidak sanggup kita melawannya? Jadi bagaimana caranya? Caranya dengan melatih diri kita untuk banyak-banyak dan terbiasa zikir mengingat Allah. Tidak bosan-bosannya kita berzikir dan berdoa memohon kepada Allah. Bukankah banyak sekali ucapan-ucapan zikir ketika kita melihat apa saja atau mengalami apa saja. Mengucapkan bismillah ketika mengawali pekerjaan. Mengucapkan alhamdulillah ketika mengakhiri pekerjaan. Membaca subhanallah ketika mengagumi kebesaran Allah. Membaca masya Allah ketika melihat suatu hal yang mencemaskan. Dan sebagainya. Latih lidah kita akrab dengan zikir seperti itu. Sering-sering kita meminta pertolongan dan perlindungan kepada Allah. Membaca ta’awutz, memohon perlindungan kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk dengan membaca a’uutzubillahiminasysyaithaanirrajiim Jangan bosan-bosan mamintak perlindungan Allah dari setiap bujuk rayu setan. Jadi disadari betul bahwa pekerjaan melawan setan itu memang berat. Bagaimana tidak akan dikatakan berat sebab kita tidak bisa melihatnya. Jadi caranya, mohon pertolongan dan perlindungan Allah. Hanya itu yang dapat kita lakukan dan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh. Sebab setan itu sangat tangguh. Dia bahkan bisa masuk ke dalam setiap sudut dan rongga dalam tubuh kita. Dia bisa masuk ke dalam hati. Masuk melalui mata, melalui mulut, melalui pendengaran, melalui hidung. Dapat menggunakan kaki kita. Dia dapat menggunakan tangan kita. Itulah lagi sebabnya kita harus dalam keadaan siaga setiap saat dan membentengi diri kita dengan pagar perlindungan Allah semata. Tanpa pertolongan Allah niscaya kita akan jadi bulan-bulanan dan sasaran empok setan-setan yang sangat lihai dan licik dalam menggoda kita umat manusia. Lalu disamping itu hendaklah kita saling ingat mengingatkan. Disinilah perlunya pengajian seperti ini. Tempat kita saling ingat mengingatkan tentang yang hak agar kita menegakkan yang hak. Tempat kita saling ingat mengingatkan tentang kebatilan, agar kita meninggalkan kebatilan tersebut. Dan hendaklah setiap kita membuka hati untuk mau menerima kebenaran dan peringatan. Ketika kita terkeliru, ada orang mengingatkan, latihlah diri agar mau menerima tegoran orang itu. Mungkin juga, ketika kita sedang hangat dibawah tipu daya setan tidak serta merta kita mau mendengarkannya, tapi paling tidak seandainya ada yang mengingatkan kita agar beristghfar memohon ampun kepada Allah, hendaknya anjuran itu didengarkan dan segeralah beristighfar. Dengan mendengar disebut orang nama Allah, disuruh orang agar minta ampun kepada Allah, hendaklah dilatih diri kita agar segera surut dan kembali kepada kebenaran Allah. Mengerjakan yang demikian itu akan lebih mudah kalau hati kita sudah biasa dilatih untuk mau menerima kebenaran. Bergetar dia ketika disebutkan orang nama Allah, tidak terus membara saja dengan nafsu. Bagaimana, apakah uraian ini menjawab pertanyaan Sutan Mantari?’ tanya Buya Abidin
Sutan Mantari mengangguk-angguk kecil.
‘Sudah terjawab Ustad,’ katanya.
*****
Diskusi Ahad Malam (13)
DISKUSI AHAD MALAM (BA’DA MAGHRIB)
MESJID AL HUSNA KOMPLEKS DEPKES II
JATIBENING
(13)
Ahad 25 Februari 2007 / 08 Shafar 1428
Materi Diskusi : Akhlak Tercela
Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM
2. Ujub, Sombong, Lemah dan Malas
1. Ujub dan Sombong
Orang Islam harus waspada dari sikab ujub dan sombong. Sifat merasa diri lebih sehingga menjadi takabur. Seringkali nikmat berubah menjadi azab dikarenakan sifat ujub dan sombong. Firman Allah surah Al Hadid ayat 14 yang artinya; ‘…dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong, sehingga datanglah ketetapan Allah. Dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu…..’
Dalam ayat lain Allah berfirman; ‘Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah.’ (Al Infitar (82) ayat 6).
Pada ayat lain lagi Allah berfirman; ‘….Tetapi di peperangan Hunain di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun.’ (At Taubah (9) ayat 25)
Sabda Rasulullah SAW; ‘Ada tiga hal yang membinasakan, yaitu tunduk pada sifat kikir, memperturutkan hawa nafsu dan kagum pada diri sendiri.’ (Riwayat Tabrani).
2. Beberapa contoh akibat ujub dan sombong;
a. Iblis menyombongkan dirinya karena hal kejadiannya. Ia berkata ; Engkau jadikan aku dari api dan manusia dari tanah. Maka Allah mengusir iblis dari rahmat Nya.
b. Kaum ’Ad menyombongkan diri karena kekuatan dan kekuasaannya/ Allah mengazab mereka dengan kehinaan di dunia dan akhirat.
c. Firaun sombong dengan kekuasaannya dan mengaku dirinya Tuhan. Allah menenggelamkannya di laut.
3. Diantara bentuk-bentuk kesombongan adalah sebagai berikut;
a. Dalam ilmu. Merasa bangga dan sombong karena merasa banyak ilmunya dan menganggap enteng kepada orang lain.
b. Dalam hal harta. Merasa sombong karena banyak harta lalu jadi mubazir dan menghambur-hamburkan harta.
c. Dalam hal kemulian. Membangga-banggakan keturunan dan memandang rendah kepada orang lain.
d. Dalam beribadah. Merasa sombong dengan ibadah yang dilakukan dan merasa seolah-olah hanya dia yang pandai dan mampu beribadah dengan baik. Melecehkan orang lain dan menganggap seolah-olah orang lain tidak sebanding dengan dirinya dalam hal ibadah.
4. Cara mengobati penyakit sombong dan ujub adalah dengan banyak mengingat bahwa segala kelebihan yang dipunyai itu pada hakekatnya adalah kepunyaan Allah. Dan Allah dapat mencabutnya kapan saja dikehendakiNya. Sesungguhnya nikmat Allah tidak bisa diukur dengan sesuatu, karena Allah adalah sumber segala karunia dan yang memberi segala kebaikan. Sabda rasulullah SAW; ’Amal seseorang di antara kamu tidak akan menjadikannya selamat. Mereka berkata; Termasuk engkau ya Rasulullah? Beliau menjawab; Ya, termasuk aku juga, bila bukan karena berkat dan rahmat Allah yang dilimpahkannya kepadaku.’ (riwayat Bukhari)
2. Lemah dan Malas
1. Orang Islam tidak boleh lemah dan malas, bahkan harus selalu giat dan bersungguh-sungguh karena lemah dan malas adalah sifat yang tercela, sehingga nabi SAW memohon perlindungan kepada Allah dari kedua hal tersebut. Nabi mengajarkan doa; ’Allahumma innii a’utzubika minal ’ajzi walkasal, waljubni wal harami wal bukhli.’ (Ya Allah, aku berlindung kepada Mu dari lemah dan malas, dari penakut, pikun dan kikir. (muttafaq ’alaihi)).
2. Sabda Rasulullah SAW; ’Bersungguh-sungguhlah kamu dalam mencari sesuatu yang bermanfaat bagimu. Mohonlah perlindungan Allah dan jangan lemah. Bila kamu ditimpa sesuatu jangan berkata; Jika sekiranya aku berbuat begitu, tentu tidak akan begini. Akan tetapi berkatalah; Allah telah mentaqdirkan demikian. Apa yang dikehendakiNya pasti terjadi. Sebab, kata ’jika’ hanya membuat setan mendapat peluang untuk beraksi.’ (Riwayat Muslim).
3. Orang Islam tidak boleh penakut atau hidup terkekang karena ia yakin akan ketetapan-ketetapan Allah (qada dan qadar), dan menyadari apa yang mesti terjadi pada dirinya tidak akan meleset.
4. Beberpa bentuk sifat lemah dan malas.
a. Seseorang mendengar seruan azan dan dia sedang asyik ngobrol, atau mengerjakan hal yang tidak penting, lalu dia tidak mendatangi seruan azan tersebut, tetap dengan keasyikannya sampai akhirnya luput shalat berjamaah.
b. Orang yang mampu nongkrong berjam-jam di warung kopi sampai pekerjaannya terbengkalai.
c. Meninggalkan pekerjaan yang bermanfaat seperti bertani, bertukang, dan berdalih karena sudah tua lalu tidak mau lagi bekerja.
d. Mempunyai kesempatan untuk beribadah haji karena dari segi biaya dan kesehatan dia mampu tapi tidak mau mangerjakannya.
e. Menyadari bahwa tempat tinggalnya kumuh, kotor, tidak terpelihara dan tidak berbuat apa-apa untuk memperbaikinya.
3. Diskusi
1. T. Apakah perbedaan antara ujub dan sombong?
J. Ujub adalah bahasa Arab dan sombong bahasa Indonesia. Artinya lebih kurang sama. Orang yang ujub atau sombong cenderung merasa dirinya ’lebih’ dari orang lain, mungkin dalam hal harta, ilmu ataupun tingkat sosial. Sifat sombong adalah sifat iblis yang merasa dirinya lebih karena diciptakan dari api dan tidak mau menghormati Adam yang diciptakan dari tanah. Kesombongan menggiring seseorang kepada ketakaburan dan akhirnya kepada keingkaran.
2. T. Kenapa orang yang tidak mendatangi panggilan azan dikatakan juga malas? Bukankah dia juga bisa dan boleh shalat sendirian di rumah misalnya?
J. Pembahasan ini tadi adalah tentang malas dan kerugian yang ditimbulkan. Tidak menghargai panggilan azan, untuk bersegera mengerjakan shalat, hanya dikarenakan alasan yang tidak penting jelas menunjukkan ciri-ciri tidak bersungguh-sungguh dalam mematuhi perintah Allah untuk mengerjakan shalat. Di sini juga terlihat adanya sifat kesombongan, tidak menghargai perintah Allah.
3. T. Bolehkah kita bangga dengan keahlian yang kita punyai tanpa bermaksud sombong?
J. Mengetahui bahwa kita ’tahu’ tentang sesuatu tidak apa-apa. Yang tidak boleh adalah membangga-banggakan dengan maksud menyombongkan dan memandang enteng kepada orang lain yang kita anggap tidak ’sehebat’ kita.
4. T. Bolehkah kita memilih-milih teman dalam bergaul? Bolehkah kita merasa tidak senang bergaul dengan seseorang karena kita tidak suka sifatnya?
J. Boleh dan memang seharusnya kita memilih teman untuk bergaul. Tidak bermanfaat bergaul dengan orang yang tidak baik akhlaknya. Tidak suka bergaul dengan seseorang karena kita tahu sifatnya tidak baik malahan dianjurkan. Tapi jangan karena kita benci saja kepada seseorang tanpa alasan. Dalam pergaulan memang adakalanya kita merasa cocok dengan seseorang karena kalau kita berbicara dengannya biasanya nyambung. Tapi ada juga orang lain kalau kita berbicara dengannya sering tidak nyambung. Dalam hal seperti ini kita lebih senang bergaul dengan yang pertama, itu sah-sah saja. Asalkan dengan orang yang kedua kita tidak melecehkannya.
5. T. Bolehkah kita tidak datang ketika kita diundang?
J. Mendatangi undangan itu wajib hukumnya. Tentu saja selama kita yakin bahwa di tempat undangan itu kita terlindung dari hal-hal yang tidak baik. Tidak wajib mendatangi undangan kalau undangan itu kepada kemaksiatan.
6. T. Bagaimana sikap kita kalau misalnya ada anggota keluarga atau orang dekat kita ingin mengerjakan pekerjaan atau amalan yang menurut kita keliru?
J. Berikan penjelasan disertai alasan-alasan dan dalil-dalil yang jelas untuk menjelaskan keyakinan kita. Namun kita juga harus bisa menghargai pendapat dan alasan orang lain itu. Meskipun menurut kita dia itu keliru, dan sudah kita berikan petunjuk serta alasan-alasan untuk menunjukkan bahwa yang dia lakukan itu keliru, tapi dia masih belum bisa menerimanya, biarkan saja dulu. Mungkin kebenaran yang kita fahami memang berbeda, atau mungkin dia belum bisa memahami seperti yang kita fahami. Dalam hal seperti ini kita harus bisa menghormati pula pendapatnya.
Wallahu a’lam
MESJID AL HUSNA KOMPLEKS DEPKES II
JATIBENING
(13)
Ahad 25 Februari 2007 / 08 Shafar 1428
Materi Diskusi : Akhlak Tercela
Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM
2. Ujub, Sombong, Lemah dan Malas
1. Ujub dan Sombong
Orang Islam harus waspada dari sikab ujub dan sombong. Sifat merasa diri lebih sehingga menjadi takabur. Seringkali nikmat berubah menjadi azab dikarenakan sifat ujub dan sombong. Firman Allah surah Al Hadid ayat 14 yang artinya; ‘…dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong, sehingga datanglah ketetapan Allah. Dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu…..’
Dalam ayat lain Allah berfirman; ‘Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah.’ (Al Infitar (82) ayat 6).
Pada ayat lain lagi Allah berfirman; ‘….Tetapi di peperangan Hunain di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun.’ (At Taubah (9) ayat 25)
Sabda Rasulullah SAW; ‘Ada tiga hal yang membinasakan, yaitu tunduk pada sifat kikir, memperturutkan hawa nafsu dan kagum pada diri sendiri.’ (Riwayat Tabrani).
2. Beberapa contoh akibat ujub dan sombong;
a. Iblis menyombongkan dirinya karena hal kejadiannya. Ia berkata ; Engkau jadikan aku dari api dan manusia dari tanah. Maka Allah mengusir iblis dari rahmat Nya.
b. Kaum ’Ad menyombongkan diri karena kekuatan dan kekuasaannya/ Allah mengazab mereka dengan kehinaan di dunia dan akhirat.
c. Firaun sombong dengan kekuasaannya dan mengaku dirinya Tuhan. Allah menenggelamkannya di laut.
3. Diantara bentuk-bentuk kesombongan adalah sebagai berikut;
a. Dalam ilmu. Merasa bangga dan sombong karena merasa banyak ilmunya dan menganggap enteng kepada orang lain.
b. Dalam hal harta. Merasa sombong karena banyak harta lalu jadi mubazir dan menghambur-hamburkan harta.
c. Dalam hal kemulian. Membangga-banggakan keturunan dan memandang rendah kepada orang lain.
d. Dalam beribadah. Merasa sombong dengan ibadah yang dilakukan dan merasa seolah-olah hanya dia yang pandai dan mampu beribadah dengan baik. Melecehkan orang lain dan menganggap seolah-olah orang lain tidak sebanding dengan dirinya dalam hal ibadah.
4. Cara mengobati penyakit sombong dan ujub adalah dengan banyak mengingat bahwa segala kelebihan yang dipunyai itu pada hakekatnya adalah kepunyaan Allah. Dan Allah dapat mencabutnya kapan saja dikehendakiNya. Sesungguhnya nikmat Allah tidak bisa diukur dengan sesuatu, karena Allah adalah sumber segala karunia dan yang memberi segala kebaikan. Sabda rasulullah SAW; ’Amal seseorang di antara kamu tidak akan menjadikannya selamat. Mereka berkata; Termasuk engkau ya Rasulullah? Beliau menjawab; Ya, termasuk aku juga, bila bukan karena berkat dan rahmat Allah yang dilimpahkannya kepadaku.’ (riwayat Bukhari)
2. Lemah dan Malas
1. Orang Islam tidak boleh lemah dan malas, bahkan harus selalu giat dan bersungguh-sungguh karena lemah dan malas adalah sifat yang tercela, sehingga nabi SAW memohon perlindungan kepada Allah dari kedua hal tersebut. Nabi mengajarkan doa; ’Allahumma innii a’utzubika minal ’ajzi walkasal, waljubni wal harami wal bukhli.’ (Ya Allah, aku berlindung kepada Mu dari lemah dan malas, dari penakut, pikun dan kikir. (muttafaq ’alaihi)).
2. Sabda Rasulullah SAW; ’Bersungguh-sungguhlah kamu dalam mencari sesuatu yang bermanfaat bagimu. Mohonlah perlindungan Allah dan jangan lemah. Bila kamu ditimpa sesuatu jangan berkata; Jika sekiranya aku berbuat begitu, tentu tidak akan begini. Akan tetapi berkatalah; Allah telah mentaqdirkan demikian. Apa yang dikehendakiNya pasti terjadi. Sebab, kata ’jika’ hanya membuat setan mendapat peluang untuk beraksi.’ (Riwayat Muslim).
3. Orang Islam tidak boleh penakut atau hidup terkekang karena ia yakin akan ketetapan-ketetapan Allah (qada dan qadar), dan menyadari apa yang mesti terjadi pada dirinya tidak akan meleset.
4. Beberpa bentuk sifat lemah dan malas.
a. Seseorang mendengar seruan azan dan dia sedang asyik ngobrol, atau mengerjakan hal yang tidak penting, lalu dia tidak mendatangi seruan azan tersebut, tetap dengan keasyikannya sampai akhirnya luput shalat berjamaah.
b. Orang yang mampu nongkrong berjam-jam di warung kopi sampai pekerjaannya terbengkalai.
c. Meninggalkan pekerjaan yang bermanfaat seperti bertani, bertukang, dan berdalih karena sudah tua lalu tidak mau lagi bekerja.
d. Mempunyai kesempatan untuk beribadah haji karena dari segi biaya dan kesehatan dia mampu tapi tidak mau mangerjakannya.
e. Menyadari bahwa tempat tinggalnya kumuh, kotor, tidak terpelihara dan tidak berbuat apa-apa untuk memperbaikinya.
3. Diskusi
1. T. Apakah perbedaan antara ujub dan sombong?
J. Ujub adalah bahasa Arab dan sombong bahasa Indonesia. Artinya lebih kurang sama. Orang yang ujub atau sombong cenderung merasa dirinya ’lebih’ dari orang lain, mungkin dalam hal harta, ilmu ataupun tingkat sosial. Sifat sombong adalah sifat iblis yang merasa dirinya lebih karena diciptakan dari api dan tidak mau menghormati Adam yang diciptakan dari tanah. Kesombongan menggiring seseorang kepada ketakaburan dan akhirnya kepada keingkaran.
2. T. Kenapa orang yang tidak mendatangi panggilan azan dikatakan juga malas? Bukankah dia juga bisa dan boleh shalat sendirian di rumah misalnya?
J. Pembahasan ini tadi adalah tentang malas dan kerugian yang ditimbulkan. Tidak menghargai panggilan azan, untuk bersegera mengerjakan shalat, hanya dikarenakan alasan yang tidak penting jelas menunjukkan ciri-ciri tidak bersungguh-sungguh dalam mematuhi perintah Allah untuk mengerjakan shalat. Di sini juga terlihat adanya sifat kesombongan, tidak menghargai perintah Allah.
3. T. Bolehkah kita bangga dengan keahlian yang kita punyai tanpa bermaksud sombong?
J. Mengetahui bahwa kita ’tahu’ tentang sesuatu tidak apa-apa. Yang tidak boleh adalah membangga-banggakan dengan maksud menyombongkan dan memandang enteng kepada orang lain yang kita anggap tidak ’sehebat’ kita.
4. T. Bolehkah kita memilih-milih teman dalam bergaul? Bolehkah kita merasa tidak senang bergaul dengan seseorang karena kita tidak suka sifatnya?
J. Boleh dan memang seharusnya kita memilih teman untuk bergaul. Tidak bermanfaat bergaul dengan orang yang tidak baik akhlaknya. Tidak suka bergaul dengan seseorang karena kita tahu sifatnya tidak baik malahan dianjurkan. Tapi jangan karena kita benci saja kepada seseorang tanpa alasan. Dalam pergaulan memang adakalanya kita merasa cocok dengan seseorang karena kalau kita berbicara dengannya biasanya nyambung. Tapi ada juga orang lain kalau kita berbicara dengannya sering tidak nyambung. Dalam hal seperti ini kita lebih senang bergaul dengan yang pertama, itu sah-sah saja. Asalkan dengan orang yang kedua kita tidak melecehkannya.
5. T. Bolehkah kita tidak datang ketika kita diundang?
J. Mendatangi undangan itu wajib hukumnya. Tentu saja selama kita yakin bahwa di tempat undangan itu kita terlindung dari hal-hal yang tidak baik. Tidak wajib mendatangi undangan kalau undangan itu kepada kemaksiatan.
6. T. Bagaimana sikap kita kalau misalnya ada anggota keluarga atau orang dekat kita ingin mengerjakan pekerjaan atau amalan yang menurut kita keliru?
J. Berikan penjelasan disertai alasan-alasan dan dalil-dalil yang jelas untuk menjelaskan keyakinan kita. Namun kita juga harus bisa menghargai pendapat dan alasan orang lain itu. Meskipun menurut kita dia itu keliru, dan sudah kita berikan petunjuk serta alasan-alasan untuk menunjukkan bahwa yang dia lakukan itu keliru, tapi dia masih belum bisa menerimanya, biarkan saja dulu. Mungkin kebenaran yang kita fahami memang berbeda, atau mungkin dia belum bisa memahami seperti yang kita fahami. Dalam hal seperti ini kita harus bisa menghormati pula pendapatnya.
Wallahu a’lam
Diskusi Ahad Malam (12)
DISKUSI AHAD MALAM (BA’DA MAGHRIB)
MESJID AL HUSNA KOMPLEKS DEPKES II
JATIBENING
(12)
Ahad 11 Februari 2007 / 23 Muharam 1428
Materi Diskusi : Akhlak Tercela
Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM
Zalim
1. Orang Islam tidak boleh menganiaya dan jangan mau dianiaya. Kezaliman tidak boleh muncul dalam Islam. Firman Allah dalam surah Al Furqan ayat 19 yang artinya; ‘…dan barang siapa di antara kamu yang berbuat zalim, niscaya Kami rasakan kepadanya azab yang besar.’
Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman; ‘Hai hamba-hambaKu. Sesungguhnya Aku haramkan zalim itu atas diri Ku dan Aku haramkan zalim itu di antara sesamamu. Maka janganlah saling zalim.’ (Riwayat Muslim).
Sabda Rasulullah SAW; ‘Takutlah berbuat zalim, karena zalim itu adalah kegelapan di hari kiamat.’ (Riwayat Muslim).
Sabda Rasulullah SAW; ‘Siapa yang berbuat zalim atas sejengkal tanah orang lain, maka ia akan dikalungi dari tujuh puluh jengkal tanah.’ (Muttafaq ‘alaihi).
2. Zalim ada tiga macam;
a. Zalim terhadap Allah. Artinya kufur terhadap Allah. Firman Allah; ‘….Dan orang-orang kafir ialah orang yang zalim.’ (Al Baqarah 254). Dan juga syirik kepada Allah, sebagaimana firman Allah; ‘Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah nyata-nyata kezaliman yang besar.’ (Luqman 13).
b. Zalim kepada sesama manusia dan sesama makhluk. Zalim disini berarti melakukan aniaya atas kehormatan, fisik dan hartanya tanpa hak. Sabda Rasulullah SAW; ‘Barang siapa berbuat zalim kepada saudaranya terhadap kehormatannya atau sesuatu yang lain, maka hendaklah ia meminta dihalalkan dari orang itu sekarang, sebelum datang hari dimana tak ada dinar dan dirham. Jika dia punya amal saleh, akan diambil darinya seharga kezalimannya. Jika kebaikannya tidak ada lagi, maka keburukan orang yang dianiaya akan dipikulkan kepadanya.’ (Riwayat Bukhari).
Pada hadits yang lain beliau bersabda; ‘Siapa yang merampas hak orang Islam dengan sumpahnya, maka Allah mewajibkan dia masuk neraka dan mengharamkannya masuk surga. Seorang laki-laki bertanya, walaupun sedikit ya Rasulullah? Nabi menjawab, walaupun sebatang kayu sugi.’ (Riwayat Muslim).
c. Zalim terhadap diri sendiri. Hal ini dilakukan dengan cara mengotori diri dengan bermacam dosa kejahatan dan keburukan berupa perbuatan maksiat kepada Allah dan Rasul NYa. Allah berfirman; ‘…Mereka tidak menganiaya Kami, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.’ (al A’raf 160)
Dengki
1. Orang Islam tidak boleh mendengki dan tidak menjadikannya akhlak atau sifat pada dirinya. Dengki adalah sifat yang tidak terpuji. Mendengki berarti menentang pembagian yang dikehendaki Allah dari karunia yang diberikanNya untuk makhlukNya. Firman Allah SWT; ’Mengapa mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia. Dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain ... (az Zukhruf 32).
2. Hasad itu ada dua macam;
a. Yang pertama seseorang mengharapkan hilangnya nikmat, baik berupa harta, ilmu, pangkat, kekuasaan dari orang lain dan pindah kepada dirinya.
b. Kedua mengharapakan agar segala nikmat orang lain itu musnah meski dia juga tidak menginginkannya.
Sabda Rasulullah SAW; ‘Jauhilah olehmu dengki, karena dengki itu merusak kebaikan seperti api membakara kayu bakar atau rumput.’ (Riwayat Abu Daud).
Jika dalam fikiran seorang Muslim terlintas rasa dengki, mengingat manusia tidak akan luput dari kekeliruan, hendaklah dia berusaha memerangi perasan itu dan jangan memupuknya. Jika dia kagum atas sesuatu yang dimiliki orang lain hendaklah berkata, Masya Allah, atau La haula wa la quwwata illa billah.
Igtibat
Maksudnya berharap memperoleh nikmat seperti yang dipunyai orang lain tanpa menginginkan agar nikmat itu hilang dari orang lain. Hal yang seperti ini bukan yang disebut dengki. Sabda Rasulullah SAW; ‘Bukanlah hasad atau dengki dalam dua hal; pertama, seseorang yang diberi Allah kekayaan dan digunakannya untuk menegakkan yang hak. Yang kedua orang yang diberi Allah ilmu pengetahuan lalu dia memutuskan perkara dengan hikmat dan mengajarkannya. Hikmat disini maksudnya adalah Al Quran dan sunah Nabi.’
Menipu
1. Menipu artinya mengatakan kebohongan. Mengatakan sesuatu yang tidak benar. Bentuk-bentuk penipuan;
c. Pernyataan seseorang kepada orang lain yang mengatakan yang buruk atau rusak sebagai sesuatu yang baik atau terpuji agar orang yang ditipu terjerumus.
d. Memperlihatkan kepada orang lain tentang yang baik-baik saja padahal didalamnya terdapat keburukan.
e. Memperlihatkan sesuatu berbeda dari hakikat yang terkandung untuk memperdaya orang lain.
f. Sengaja memecah belah orang lain untuk merusak rumah tangga orang lain atau mendapatkan hartanya.
g. Mengkhianati janji atau menipu sesudah berjanji.
2. Orang Islam harus menjauhi penipuan dan pengkhianatan dengan dasar semata-mata takut kepada Allah. Firman Allah; ’Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti orang-orang Mukmin dan Mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.’ (Al Ahzab 58).
3. Sabda Rasulullah SAW; ’Ciri munafik itu ada empat. Bila keempat-empatnya ada pada seseorang maka orang itu benar-benar munafik. Bila satu sifat saja ada pada seseorang maka orang itu punya sifat munafik sampai dia meninggalkannya. Keempat ciri itu adalah, jika dipercaya dia khianat, jika berbicara dia dusta, jika berjanji dia ingkar, dan jika bersumpah dia maksiat.’ (Muttafaq ’alaihi).
Ria
Firman Allah SWT; ’Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dalam shalatnya, orang-orang yang berbuat ria, dan enggan menolong dengan barang yang berguna.’ (Al Ma’un 4 – 7).
Sabda Rasulullah SAW; ’Sesungguhnya yang paling aku takutkan padamu adalah syirik kecil. Mereka bertanya, apakah syirik kecil itu, ya Rasulullah? Nabi menjawab, ialah ria. Allah berfirman, pada hari kiamat tatkala membalas amal hamba-hamba Nya; Pergilah kamu kepada mereka yang kamu berbuat ria di dunia. Maka tunggulah apakah kamu akan memperoleh balasan amal dari mereka.’ (Riwayat Ahmad, Tabrani dan Baihaki).
Ria itu tampak dalam hal-hal sebagai berikut;
a. Seseorang semakin taat bila dipuji dan akan berkurang ketaatannya bahkan ditinggalkannya bila dicela dan diejek.
b. Seseorang mau bersedekah bila dilihat orang lain. Kalau tidak ada yang melihat dia enggan.
c. Rajin beribadah bila bersama orang lain dan malas jika sendirian.
d. Mengatakan yang hak dan kebaikan atau berbuat baik hanya karena menginginkan sesuatu dari orang, bukan karena mengharapkan ridha Allah.
Diskusi
1. T. Bolehkah orang yang dizalimi membalas dengan kezaliman pula kepada orang yang menzaliminya?
J. Orang yang dizalimi, kemudian dia minta keadilan kepada penguasa lalu penguasa menetapkan hukuman kepada yang menzaliminya. Dan hukuman itu secara Islam disebut hukum qisas. Jadi bukan dia langsung mengambil tindakan karena kalau seperti itu dikhawartirkan akan jadi dendam sambung menyambung.
2. T. Apakah kalau kita mengambil sesuatu yang nyaris tidak ada nilainya dari milik orang lain, juga disebut sebagai perbuatan zalim?
J. Ya. Seperti hadits yang kita sebut di atas, walaupun hanya berupa sebuah tusuk gigi, tetap akan dimintakan pertanggungjawabannya.
3. T. Bagaimana dengan orang yang menyogok untuk mendapatkan kebaikan kepada dirinya. Seumpama menyogok petugas pajak agar dikurangi beban pajaknya?
J. Yang menyogok dan yang menerima sogok sama-sama berbuat dosa. Itu termasuk bentuk kezaliman yang seharusnya dicegah.
4. T. Apakah dikatakan dengki juga kalau kita menginginkan kebaikan seperti yang dimiliki orang lain tapi kita tidak berharap agar orang lain itu kehilangan nilai kebaikan itu?
J. Tadi sudah kita sebut yang seperti itu igtibat namanya. Ini dibolehkan, dengan memohon kepada Allah agar kiranya Allah juga memberikan kebaikan seperti yang dipunyai orang lain itu. Tentu saja dengan adab yang sebaik-baiknya dalam meminta kepada Allah. Belum tentu sesuatu yang baik terlihat pada orang lain itu seandainya diberikan kepada kita juga akan baik bagi kita.
5. T. Bagaimana caranya menghilangkan sifat dengki?
J. Pada waktu timbul kesadaran dalam hal kedengkian itu cepat-cepat beristighfar. Jangan dipupuk rasa dengki yang kalau dilakukan demikian pasti akan makin bergelora rasa dengki tersebut dan makin parah akibatnya.
6. T. Bagaimana kalau kita tidak memberitahukan keburukan barang yang kita jual karena khawatir kalau diberi tahu orang tidak jadi mau membelinya?
J. Ini termasuk penipuan. Si pembeli harus diberi tahu sejelas-jelasnya keadaan barang agar jangan sampai dia tertipu. Kalau kita tidak menyampaikannya artinya kita tidak amanah kepadanya. Orang itu mungkin saja tidak akan tahu, tapi Allah Maha tahu bahwa kita sudah menyembunyikan kebenaran.
7. T. Bolehkah kita beramal dilihat orang lain dan berharap agar orang lain meniru dengan beramal pula? Apakah ini termasuk ria?
J. Boleh saja. Seperti bersedekah, boleh dilakukan terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Terang-terangan dengan pengharapan agar orang lain ikut mencontoh beramal pula. Mudah-mudahan yang seperti itu bukan ria.
8. T. Bagaimana kalau kita berdoa atau shalat dalam keadaan mangkel karena ada orang lain beribadah dengan berisik?
J. Kalau memang sangat mengganggu boleh kita sampaikan dengan baik-baik agar orang tersebut dapat menjaga ketertiban juga untuk orang lain. Kalau tidak mempan mungkin dengan cara mendakwahi orang itu karena mungkin dia belum tahu tentang yang dilakukannya. Kalu belum bisa juga perbanyak doa saja, agar orang itu dapat petunjuk
Wallahu a’lam
MESJID AL HUSNA KOMPLEKS DEPKES II
JATIBENING
(12)
Ahad 11 Februari 2007 / 23 Muharam 1428
Materi Diskusi : Akhlak Tercela
Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM
Zalim
1. Orang Islam tidak boleh menganiaya dan jangan mau dianiaya. Kezaliman tidak boleh muncul dalam Islam. Firman Allah dalam surah Al Furqan ayat 19 yang artinya; ‘…dan barang siapa di antara kamu yang berbuat zalim, niscaya Kami rasakan kepadanya azab yang besar.’
Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman; ‘Hai hamba-hambaKu. Sesungguhnya Aku haramkan zalim itu atas diri Ku dan Aku haramkan zalim itu di antara sesamamu. Maka janganlah saling zalim.’ (Riwayat Muslim).
Sabda Rasulullah SAW; ‘Takutlah berbuat zalim, karena zalim itu adalah kegelapan di hari kiamat.’ (Riwayat Muslim).
Sabda Rasulullah SAW; ‘Siapa yang berbuat zalim atas sejengkal tanah orang lain, maka ia akan dikalungi dari tujuh puluh jengkal tanah.’ (Muttafaq ‘alaihi).
2. Zalim ada tiga macam;
a. Zalim terhadap Allah. Artinya kufur terhadap Allah. Firman Allah; ‘….Dan orang-orang kafir ialah orang yang zalim.’ (Al Baqarah 254). Dan juga syirik kepada Allah, sebagaimana firman Allah; ‘Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah nyata-nyata kezaliman yang besar.’ (Luqman 13).
b. Zalim kepada sesama manusia dan sesama makhluk. Zalim disini berarti melakukan aniaya atas kehormatan, fisik dan hartanya tanpa hak. Sabda Rasulullah SAW; ‘Barang siapa berbuat zalim kepada saudaranya terhadap kehormatannya atau sesuatu yang lain, maka hendaklah ia meminta dihalalkan dari orang itu sekarang, sebelum datang hari dimana tak ada dinar dan dirham. Jika dia punya amal saleh, akan diambil darinya seharga kezalimannya. Jika kebaikannya tidak ada lagi, maka keburukan orang yang dianiaya akan dipikulkan kepadanya.’ (Riwayat Bukhari).
Pada hadits yang lain beliau bersabda; ‘Siapa yang merampas hak orang Islam dengan sumpahnya, maka Allah mewajibkan dia masuk neraka dan mengharamkannya masuk surga. Seorang laki-laki bertanya, walaupun sedikit ya Rasulullah? Nabi menjawab, walaupun sebatang kayu sugi.’ (Riwayat Muslim).
c. Zalim terhadap diri sendiri. Hal ini dilakukan dengan cara mengotori diri dengan bermacam dosa kejahatan dan keburukan berupa perbuatan maksiat kepada Allah dan Rasul NYa. Allah berfirman; ‘…Mereka tidak menganiaya Kami, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.’ (al A’raf 160)
Dengki
1. Orang Islam tidak boleh mendengki dan tidak menjadikannya akhlak atau sifat pada dirinya. Dengki adalah sifat yang tidak terpuji. Mendengki berarti menentang pembagian yang dikehendaki Allah dari karunia yang diberikanNya untuk makhlukNya. Firman Allah SWT; ’Mengapa mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia. Dan Kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat agar sebahagian mereka dapat mempergunakan sebahagian yang lain ... (az Zukhruf 32).
2. Hasad itu ada dua macam;
a. Yang pertama seseorang mengharapkan hilangnya nikmat, baik berupa harta, ilmu, pangkat, kekuasaan dari orang lain dan pindah kepada dirinya.
b. Kedua mengharapakan agar segala nikmat orang lain itu musnah meski dia juga tidak menginginkannya.
Sabda Rasulullah SAW; ‘Jauhilah olehmu dengki, karena dengki itu merusak kebaikan seperti api membakara kayu bakar atau rumput.’ (Riwayat Abu Daud).
Jika dalam fikiran seorang Muslim terlintas rasa dengki, mengingat manusia tidak akan luput dari kekeliruan, hendaklah dia berusaha memerangi perasan itu dan jangan memupuknya. Jika dia kagum atas sesuatu yang dimiliki orang lain hendaklah berkata, Masya Allah, atau La haula wa la quwwata illa billah.
Igtibat
Maksudnya berharap memperoleh nikmat seperti yang dipunyai orang lain tanpa menginginkan agar nikmat itu hilang dari orang lain. Hal yang seperti ini bukan yang disebut dengki. Sabda Rasulullah SAW; ‘Bukanlah hasad atau dengki dalam dua hal; pertama, seseorang yang diberi Allah kekayaan dan digunakannya untuk menegakkan yang hak. Yang kedua orang yang diberi Allah ilmu pengetahuan lalu dia memutuskan perkara dengan hikmat dan mengajarkannya. Hikmat disini maksudnya adalah Al Quran dan sunah Nabi.’
Menipu
1. Menipu artinya mengatakan kebohongan. Mengatakan sesuatu yang tidak benar. Bentuk-bentuk penipuan;
c. Pernyataan seseorang kepada orang lain yang mengatakan yang buruk atau rusak sebagai sesuatu yang baik atau terpuji agar orang yang ditipu terjerumus.
d. Memperlihatkan kepada orang lain tentang yang baik-baik saja padahal didalamnya terdapat keburukan.
e. Memperlihatkan sesuatu berbeda dari hakikat yang terkandung untuk memperdaya orang lain.
f. Sengaja memecah belah orang lain untuk merusak rumah tangga orang lain atau mendapatkan hartanya.
g. Mengkhianati janji atau menipu sesudah berjanji.
2. Orang Islam harus menjauhi penipuan dan pengkhianatan dengan dasar semata-mata takut kepada Allah. Firman Allah; ’Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti orang-orang Mukmin dan Mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.’ (Al Ahzab 58).
3. Sabda Rasulullah SAW; ’Ciri munafik itu ada empat. Bila keempat-empatnya ada pada seseorang maka orang itu benar-benar munafik. Bila satu sifat saja ada pada seseorang maka orang itu punya sifat munafik sampai dia meninggalkannya. Keempat ciri itu adalah, jika dipercaya dia khianat, jika berbicara dia dusta, jika berjanji dia ingkar, dan jika bersumpah dia maksiat.’ (Muttafaq ’alaihi).
Ria
Firman Allah SWT; ’Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dalam shalatnya, orang-orang yang berbuat ria, dan enggan menolong dengan barang yang berguna.’ (Al Ma’un 4 – 7).
Sabda Rasulullah SAW; ’Sesungguhnya yang paling aku takutkan padamu adalah syirik kecil. Mereka bertanya, apakah syirik kecil itu, ya Rasulullah? Nabi menjawab, ialah ria. Allah berfirman, pada hari kiamat tatkala membalas amal hamba-hamba Nya; Pergilah kamu kepada mereka yang kamu berbuat ria di dunia. Maka tunggulah apakah kamu akan memperoleh balasan amal dari mereka.’ (Riwayat Ahmad, Tabrani dan Baihaki).
Ria itu tampak dalam hal-hal sebagai berikut;
a. Seseorang semakin taat bila dipuji dan akan berkurang ketaatannya bahkan ditinggalkannya bila dicela dan diejek.
b. Seseorang mau bersedekah bila dilihat orang lain. Kalau tidak ada yang melihat dia enggan.
c. Rajin beribadah bila bersama orang lain dan malas jika sendirian.
d. Mengatakan yang hak dan kebaikan atau berbuat baik hanya karena menginginkan sesuatu dari orang, bukan karena mengharapkan ridha Allah.
Diskusi
1. T. Bolehkah orang yang dizalimi membalas dengan kezaliman pula kepada orang yang menzaliminya?
J. Orang yang dizalimi, kemudian dia minta keadilan kepada penguasa lalu penguasa menetapkan hukuman kepada yang menzaliminya. Dan hukuman itu secara Islam disebut hukum qisas. Jadi bukan dia langsung mengambil tindakan karena kalau seperti itu dikhawartirkan akan jadi dendam sambung menyambung.
2. T. Apakah kalau kita mengambil sesuatu yang nyaris tidak ada nilainya dari milik orang lain, juga disebut sebagai perbuatan zalim?
J. Ya. Seperti hadits yang kita sebut di atas, walaupun hanya berupa sebuah tusuk gigi, tetap akan dimintakan pertanggungjawabannya.
3. T. Bagaimana dengan orang yang menyogok untuk mendapatkan kebaikan kepada dirinya. Seumpama menyogok petugas pajak agar dikurangi beban pajaknya?
J. Yang menyogok dan yang menerima sogok sama-sama berbuat dosa. Itu termasuk bentuk kezaliman yang seharusnya dicegah.
4. T. Apakah dikatakan dengki juga kalau kita menginginkan kebaikan seperti yang dimiliki orang lain tapi kita tidak berharap agar orang lain itu kehilangan nilai kebaikan itu?
J. Tadi sudah kita sebut yang seperti itu igtibat namanya. Ini dibolehkan, dengan memohon kepada Allah agar kiranya Allah juga memberikan kebaikan seperti yang dipunyai orang lain itu. Tentu saja dengan adab yang sebaik-baiknya dalam meminta kepada Allah. Belum tentu sesuatu yang baik terlihat pada orang lain itu seandainya diberikan kepada kita juga akan baik bagi kita.
5. T. Bagaimana caranya menghilangkan sifat dengki?
J. Pada waktu timbul kesadaran dalam hal kedengkian itu cepat-cepat beristighfar. Jangan dipupuk rasa dengki yang kalau dilakukan demikian pasti akan makin bergelora rasa dengki tersebut dan makin parah akibatnya.
6. T. Bagaimana kalau kita tidak memberitahukan keburukan barang yang kita jual karena khawatir kalau diberi tahu orang tidak jadi mau membelinya?
J. Ini termasuk penipuan. Si pembeli harus diberi tahu sejelas-jelasnya keadaan barang agar jangan sampai dia tertipu. Kalau kita tidak menyampaikannya artinya kita tidak amanah kepadanya. Orang itu mungkin saja tidak akan tahu, tapi Allah Maha tahu bahwa kita sudah menyembunyikan kebenaran.
7. T. Bolehkah kita beramal dilihat orang lain dan berharap agar orang lain meniru dengan beramal pula? Apakah ini termasuk ria?
J. Boleh saja. Seperti bersedekah, boleh dilakukan terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Terang-terangan dengan pengharapan agar orang lain ikut mencontoh beramal pula. Mudah-mudahan yang seperti itu bukan ria.
8. T. Bagaimana kalau kita berdoa atau shalat dalam keadaan mangkel karena ada orang lain beribadah dengan berisik?
J. Kalau memang sangat mengganggu boleh kita sampaikan dengan baik-baik agar orang tersebut dapat menjaga ketertiban juga untuk orang lain. Kalau tidak mempan mungkin dengan cara mendakwahi orang itu karena mungkin dia belum tahu tentang yang dilakukannya. Kalu belum bisa juga perbanyak doa saja, agar orang itu dapat petunjuk
Wallahu a’lam
Subscribe to:
Posts (Atom)