Wednesday, December 2, 2009

Diskusi Ahad Malam (25)

DISKUSI AHAD MALAM (BA’DA MAGHRIB)
MESJID AL HUSNA KOMPLEKS DEPKES II
JATIBENING

(25)

Ahad 8 Juli 2007 / 24 Jumadil Akhir 1428

Materi Diskusi : Adab Kepada Allah

Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM

1. Adab Kepada Allah

Sebagai orang yang beriman kita harus menyadari bahwa nikmat dan anugerah Allah kepada kita umat manusia tidak terhitung banyaknya. Karenanya kita wajib bersyukur dan memuji Allah atas segala nikmat dan karunia tersebut baik dengan kata-kata maupun dengan tindakan dan perbuatan. Cara bersyukur itu merupakan adab kepada Allah, sementara kalau kita kufur dan mengingkari nikmat Nya bukan merupakan adab kepada Allah.

Firman Allah dalam surat Al Nahl (16) ayat 53 yang artinya; ’Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah lah (datangnya).....’

Dan Firman Allah pula; ’Karena itu ingatlah kamu kepada Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat Ku).’ (Surat Al Baqarah (2) ayat 152).

Kita wajib meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui dan Dia selalu memperhatikan segala tingkah laku kita. Dengan demikian seharusnya hati kita senantiasa takut kepada Allah dan berusaha mengagungkan Nya. Kita harusnya malu berbuat maksiat karena kita tahu bahwa Allah pasti melihat kemaksiatan yang kita lakukan. Demikian itulah adab kita kepada Allah.

Firman Allah dalam surat Nuh (71) ayat 13-14 yang artinya; ’Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal Dia sesungguhnya telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkatan kejadian.’

Firman Allah dalam surat An Nahl (16) ayat 19 yang artinya; ’Dan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan.’

Firman Allah dalam surat Yunus (10) ayat 61 yang artinya; ’Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarah (atom) di bumi ataupun di langit....’

Kita wajib mengetahui dan menerima bahwa Allah menguasai diri kita dan kitapun sadar bahwa kita tidak dapat melarikan diri ataupun menyelamatkan diri dari ketentuan Nya. Jadi kita harus berserah diri dan bertawakal kepada Allah semata. Seperti itulah adab kita terhadap Allah.

Tidaklah dianggap beradab bila seorang Muslim putus asa dari rahmat Allah yang meliputi segala sesuatu. Tidak pula patut kita berputus asa dari kebaikan Nya yang telah dilimpahkan Nya kepada seluruh makhluk Nya.

Firman Allah yang artinya ’....dan rahmat Ku meliputi segala sesuatu....’ (Surat Al A’raf (7) ayat 156).

Dan firman Allah pula ’...janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah....’ (Surat Yusuf (12) ayat 87).

Siksaan Allah sangat keras dan Allah sangat cepat perhitungannya jika manusia tidak beriman kepada Nya. Oleh sebab itu kita harus senantiasa memelihara iman dan taqwa kita kepada Allah. Begitulah adab dan etika kepada Allah. Sungguh dipandang tidak beradab oleh orang berakal, jika seorang hamba yang lemah dan tak berdaya berbuat maksiat dan zalim kepada Allah Yang Mahamulia, Maha Kuasa dan Maha Kuat.

Firman Allah dalam surat ar Ra’d (13) ayat 11; ’....Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.’

Dan firman Allah, ’Sesungguhnya azab Tuhanmu benar-benar keras.’ (Surat Al Buruj (85) ayat 2).

Demikian pula, dianggap tidak beradab, bila seseorang yang beriman dan bertakwa kepada Allah tapi dia menyangka bahwa Allah tidak akan memberi balasan pahala atas amal baiknya atau menyangka bahwa Allah tidak akan menerima ketaatan dan ibadahnya. Kita harus berkeyakinan bahwa mudah-mudahan Allah akan membalas amal ibadah kita dengan pahala berlipat ganda sesuai dengan yang dijanjikan Allah.

Firman Allah, ’Barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan.’ (Surat An Nur (24) ayat 52).

Pada bagian lain Allah berfirman, ’Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.’ (Surat An Nahl (16) ayat 97).

Firman Allah dalam surat Al An’am (6) ayat 160, ’Barang siapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; barangsiapa yang membawa perbuatan jahat, maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatan, sedang mereka tidak sedikitpun dianiaya.’

Sebagai kesimpulan orang Islam harus bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah kepadanya dan merasa malu terhadap Allah tatkala mempunyai kecenderungan untuk berbuat maksiat, lalu bertobat kepada Nya dan bertawakal serta mengharapkan rahmat Nya. Takut akan azab yang mungkin ditimpakan Nya dan berprasangka baik bahwa Allah akan menepati janji Nya. Sadar bahwa Dia akan menghukum dan melaksanakan ancaman Nya terhadap orang-orang yang dikehendaki Nya diantara hamba-hamba Nya. Yang demikian itu adalah adab terhadap Allah.


Ahad 15 Juli 2007 / 1 Rajab 1428

Materi Diskusi : Adab Terhadap Al Quran

Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM

1. Adab Terhadap Al Quran

Sebagai orang Islam kita percaya terhadap kesucian, kemuliaan dan keutamaan firman Allah yaitu al Quran. Kita percaya bahwa al Quran itu adalah firman Allah yang tidak terdapat kebatilan di dalamnya. Barangsiapa berkata dengan al Quran maka benarlah perkataannya itu, barangsiapa memutuskan perkara dengan al Quran maka adillah keputusan itu. Ahli al Quran adalah kekasih Allah. Orang yang berpegang teguh pada al Quran akan selamat dan orang yang mengingkarinya akan merugi.

Sabda Rasulullah SAW; ’Bacalah olehmu al Quran, karena ia akan datang pada hari kiamat memberi pertolongan kepada yang membacanya.’ (Riwayat Muslim).

Sabda beliau pula; ’Sebaik-baik kamu adalah yang belajar dan mengajarkan al Quran.’ (Riwayat Bukhari).

Hadits yang lain; ’Ahli Quran adalah keluarga Allah dan orang pilihan Nya.’ (Riwayat Ibnu Majah).

Sabda beliau yang lain; ’Sesungguhnya hati itu bisa berkarat seperti besi.’ Rasulullah ditanya bagaimana cara membersihkannya? Beliau menjawab; ’ Dengan membaca al Quran dan mengingat mati.’

Pada suatu saat datang kepada Rasulullah seorang musuhnya yang paling keras. Ia berkata; ’Hai Muhammad coba bacakan Quran untukku.’ Lalu Nabi SAW membacanya; ’Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan...’ (Surah An Nahl (16) ayat 90).
Belum lagi selesai beliau membacanya, musuh tadi meminta beliau mengulangi bacaannya karena dia kagum pada keindahan kata-katanya, keluhuran maknanya, karena ungkapan yang mempesona dan karena daya tariknya yang sangat kuat. Lalu diapun berucap; ’Demi Allah, sungguh Quran itu nikmat rasanya dan indah bahasanya, ibarat pohon yang berdaun rindang dan berbuah lebat. Tidak mungkin ini ucapan manusia.’ Musuh itu adalah Walid bin Mughirah dan serta merta dia masuk Islam.

Hendaklah kita menghalalkan yang dihalalkan al Quran dan mengharamkan yang diharamkannya, serta mengindahkan etika juga berakhlak dengan akhlak al Quran.

Adab seorang Muslim terhadap,al Quran;

Dibaca dalam keadan suci, menghadap kiblat, duduk dengan sopan dan tenang.
Dibaca dengantartil dan tidak terlalu cepat.
Dibaca dengan khusyuk, dihayati. Menangis atau bahkan pura-pura menangis.
Dibaca dengan membaguskan suara.
Dibaca dengan suara lembut dan tidak nyaring.
Hendaklah direnungi artinya.
Jangan membaca Quran dengan melalaikan apa yang dibaca.
Hendaklah orang yang membaca al Quran memiliki sifat seperti keluarga Allah dan kekasih Nya. Sebagaimana Ibnu Masud berkata; ’Seharusnya orang yang membaca Quran itu menghayatinya pada saat orang tidur di malam hari, saat orang bersenang-senang di siang hari. Ia menangis di saat orang lain tertawa. Ia menjauhkan diri dari dosa tatkala orang lain melakukannya.’

Muhammad bin Ka’ab berkata; ’Kita mengenal orang yang suka membaca al Quran dari warna kulitnya yang kekuning-kuningan yang menandakan dia banyak bangun malam dan shalat tahajud.’

Zunnun mendendangkan syairnya; ’Quran dengan janji-janji dan ancamannya mencegah orang untuk memejamkan matanya di malam hari. Mereka mengerti akan kebesaran Allah dari kata-katanya, yang menyebabkan hamba sahaya merendahkan diri dan tunduk.’


Ahad 22 Juli 2007 / 8 Rajab 1428

Materi Diskusi : Adab Kepada Rasulullah

Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM


1. Adab Kepada rasulullah

Kita wajib bersikap sopan dan hormat kepada Rasulullah.

a. Allah telah mewajibkan setiap Mukmin laki-laki maupun perempuan untuk hormat kepada Rasulullah. Firman Allah dalam surat Al Hujurat (49) ayat 1; ’Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu mendahului Allah dan rasul Nya....’

Firman Allah pula dalam surat Al Hujurat ayat 2-5; ’Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain, supaya tidak hapus pahala amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari. Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar. Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamarmu kebanyakan mereka tidak mengerti. Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka, sesungguhnya itu adalah lebih baik bagi mereka...’

Firman Allah yang lain; Sesungguhnya yang sebenar-benar orang Mukmin ialah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam suatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad), mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul Nya. Maka bila mereka meminta izin kepadamu karena suatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki diantara mereka.... (an Nur (24) ayat 62).

b. SesungguhnyaAllah mewajibkan orang-orang beriman untuk taat dan cinta kepada Rasulullah. Firman Allah; ’....maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.’ (An Nur (24) ayat 63).

Firman Allah; ’Katakanlah! jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihimu dan mengampuni dosa-dosamu...’ (Ali Imran (3) ayat 31).

c. Allah menjadikan Nabi sebagai pemimpin dan hakim. Firman Allah; ’Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu.’ (An Nisaa’ (4) ayat 105).

Firman Allah pula; ’Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sehingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.’ (An Nisaa’ (4) ayat 65).

d. Allah mewajibkan orang beriman mencintai Rasulullah. Hal ini dikemukan Nabi dalam hadits beliau; ’Demi zat yang jiwaku dalam kekuasaan Nya. Tidaklah sempurna iman seseorang dari kamu sebelum aku lebih ia cintai dari anaknya, bapaknya dan manusia semuanya.’ (Muttafaq ’alaihi).

e. Allah secara khusus telah menganugerahkan fisik dan budipekerti yang baik kepada Rasulullah, sebagaimana Allah juga telah menjadikan beliau sebagai makhluk Nya yang paling sempurna jiwa dan kepribadiannya. Maka kepada orang seperti beliau mengapa kita tidak bersikap sopan.

Hal-hal lain yang harus diketahui dari cara beradab kepada Rasulullah adalah;

a. Hendaklah taat kepada nabi dan mengikuti jejak langkah beliau dalam segala urusan dunia dan agama.
b. Menjadikan beliau orang yang paling dicintai, dihormati dan dimuliakan.
c. Mengikuti orang yang diangkat menjadi wali oleh beliau dan menganggap musuh orang yang dimusuhinya.
d. Mengagungkan dan menghormati nama Nabi SAW ketika disebut dengan membaca sallalahu ’alaihi wa sallam. Kemudian memuliakan dan mengakui kelebihan serta keutamaan beliau.
e. Membenarkan segala yang dibawa oleh Nabi SAW baik soal agama maupun soal dunia dan soal-soal gaib dalam kehidupan dunia dan akhirat.
f. Menghidupkan dan memasyarakatkan sunnah Nabi SAW dan ajaran beliau. Menyampaikan seruan beliau dan melaksanakan wasiat beliau.
g. Merendahkan suara dekat kuburan beliau.
h. Mencintai orang-orang saleh dan para pengikutnya yang mencintai Nabi SAW kemudian membenci dan memusuhi golongan orang fasik yang membenci Nabi SAW.

Sebagai orang Islam seyogianya kita selalu bersungguh-sungguh melaksanakan sikap di atas dan memeliharanya secara sempurna.


******


2. Diskusi

1. T. Kita wajib bersyukur kepada Allah atas segala nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Ada orang yang mampu berderma, Bagaimana hukumnya untuk ahli waris itu?

J. Katakan seseorang berniat pergi mengerjakan ibadah haji. Ongkos untuk naik haji itu sudah tersedia. Tapi sebelum melaksanakan niat itu dia meninggal. Jika si ahli waris mengetahui niat orang tersebut sebaiknya dia laksanakan apa yang sudah diniatkan itu. Tapi seandainya si ahli waris sesudah ditinggal mati memerlukan biaya pergi naik haji itu untuk keperluan hidupnya tidaklah mengapa kalau dia menggunakannya untuk itu terlebih dahulu tapi tetap dia harus menyadari bahwa kalau dia mempunyai kemampuan kelak, dia harus menyampaikan niat orang tadi itu.

2. T. Kita sedang mengerjakan sesuatu perbuatan atau amalan. Sebelum itu selesai, karena ada kendala, ada orang lain mengajak melakukan amalan yang lain yang kita tidak atau belum berniat mengerjakannya. Bolehkah kita merubah niat?

J. Pada suatu pagi Rasulullah SAW pulang ke rumah dan bertanya kepada istri beliau, adakah makanan untuk sarapan. Oleh istri beliau dijawab, tidak ada. Sabda beliau, kalau begitu saya berpuasa. Padahal beliau tidak berniat berpuasa sebelumnya dan saat itu sudah pagi. Jadi boleh saja niat itu diganti di tengah jalan selama untuk mengerjakan perbuatan amal.

3. T. Tadi disebutkan bahwa orang yang berniat jahat sudah dihitung berdosa sementara saya pernah mendengar keterangan dari ustad bahwa ada hadits Nabi yang mengatakan bahwa perbuatan baik, baru diniatkan saja sudah dinilai dan ada pahalanya di sisi Allah. Kebalikannya, perbuatan jahat kalau baru diniatkan tapi belum dikerjakan belum dinilai oleh Allah. Jadi mana yang benar?

J. Hadits itu juga pernah saya dengar. Harusnya itulah yang benar, namun keterangan yang mengatakan bahwa kalau seseorang berniat jahat sudah langsung dihitung berdosa maksudnya agar kita memelihara diri dari berniat melakukan perbuatan jahat. Sebab dikhawatirkan nanti, kalau kita berniat berbuat jahat, jangan-jangan setan akan mendorong dan menggiring kita agar segera mengerjakan niat jahat tersebut. Dan kalau itu sampai dilakukan maka jatuhlah kita kepada dosa, dikarenakan niat yang jahat sebelumnya. Dapat dipahami pendapat itu tadi untuk berjaga-jaga dalam memasang niat.


4. T. Tadi disebutkan bahwa kalau ada orang yang sudah berniat mengerjakan haji lalu dia meninggal, ahli warisnya wajib melanjutkan niatnya untuk menghajikannya. Tetapi dikatakan juga boleh saja ahli warisnya menggunakan dulu uang itu untuk keperluan lain. Bukankah lebih baik dia gunakan uang tersebut untuk menunaikan rukun haji bagi dirinya sendiri lalu kemudian membayar badal haji untuk menghajikan keluarganya yang sudah meninggal tersebut?

J. Mengenai badal haji, ada yang berpendapat bahwa boleh kita membayar seseorang di Makkah sana untuk menghajikan orang lain dengan membayarnya. Tapi ada pendapat lain yang mengatakan bahwa yang membadalkan itu mestilah anggota keluarganya sendiri atau ahli warisnya. Sementara untuk membadalkan haji haruslah yang bersangkutan haji untuk dirinya sendiri terlebih dahulu lalu tahun berikutnya baru pergi lagi menghajikan orang yang akan diwakilinya itu. Saya sendiri, sesudah mendapatkan keterangan dari ustad yang lebih faham, menerima kondisi yang terakhir ini, harus ahli waris sendiri yang menggantikan atau membadalkan orang yang sudah meninggal.

5. T. Ada orang yang berniat begini. Kalau usaha saya berhasil maka saya akan beramal begini atau bersedekah sekian. Bagaimana hukumnya?

J. Itu namanya dia bernazar. Membayar sesuai dengan yang diniatkannya itu ketika apa yang diusahakannya berhasil seperti yang diinginkannya wajib hukumnya. Bernazar itu hanya boleh untuk amalan-amalan yang diridhai Allah dan dengan tebusan atau yang dibayarkan juga yang diridhai Allah.

Wallahu a’lam

Thursday, November 26, 2009

Diskusi Ahad Malam (24)

DISKUSI AHAD MALAM (BA’DA MAGHRIB)
MESJID AL HUSNA KOMPLEKS DEPKES II
JATIBENING
(24)

Ahad 27 Mai 2007 / 11 Jumadil Awal 1428

Materi Diskusi : Adab Niat

Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM


1. Adab Niat

Niat memiliki peranan penting dalam segala kegiatan dan amaliah keagamaan maupun keduniaan, karena semua amal itu tergantung pada niatnya. Suatu amal dipandang baik jika niatnya baik. Begitu pula dengan sah atau tidaknya suatu amal tergantung dari pada niatnya. Maka niat itu penting pada setiap amal perbuatan dan wajib untuk diluruskan.

Firman Allah dalam surat Al Bayyinah (98) ayat 5 yang artinya; ’Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.....’

Dan Firman Allah pula; ’ Katakanlah! Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada Nya.’ (Surat Az Zumar (39) ayat 12).

Berdasarkan hadits Rasulullah SAW; ’Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung pada niatnya.’ (Muttafaq ’alaih).

Dan pada hadits yang lain beliau bersabda; ’Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan hartamu. Allah hanya melihat hatimu.’ Melihat hati artinya melihat kepada niat, karena niat itu sebagai pembangkit dan pendorong untuk beramal. Sabda Rasulullah pula; ’Barangsiapa bercita-cita hendak melakukan satu kebaikan tetapi tidak bisa dilaksanakannya, maka dituliskan baginya satu kebajikan.’ (Riwayat Muslim).

Sabda beliau yang lain; ’Manusia itu ada empat macam yaitu orang yang diberi Allah ilmu dan harta. Lalu ia mengamalkan ilmu yang dimiliki dengan hartanya. Kemudian ada orang berkata; Jika aku diberi Allah seperti yang diberikan kepada orang itu, aku akan berbuat seperti dia. Maka kedua orang itu pahalanya sama. Dan ada orang yang diberi Allah harta tetapi tidak diberi ilmu, lalu harta itu digunakannya untuk maksiat. Kemudian ada seseorang berkata; Seandainya aku diberi kekayaan seperti dia, aku akan berbuat maksiat seperti dia. Kedua orang itu dosanya sama.’ (Riwayat Ibnu Majah).
Orang yang berniat baik mendapat pahala, sedangkan orang yang berniat buruk diberi balasan dosa. Karena segala sesuatu itu tergantung dari niatnya.

Sabda Rasulullah SAW pula; ’Sesungguhnya di Madinah ada sekelompok kaum Mukminin yang tak dapat ikut menuruni lembah, menyusuri jalan untuk berperang, yang membuat orang kafir marah, tidak pula ikut berinfak dan menderita kelaparan, melainkan ikut bersama kita untuk berjuang, padahal mereka di Madinah. Seseorang bertanya kepada Nabi. ’Bagaimana keadaan mereka ya Rasulullah?’ Nabi menjawab; ’Mereka berhalangan. Tapi mereka ikut bersama kita dengan niat yang baik.’ (riwayat Abu Daud dan Bukhari (diringkas)).

Dengan demikian, niat yang baik itu menyebabkan orang yang tidak ikut berperang dan berjuang sama pahalanya dengan orang yang berperang dan berjuang.

Sabda Rasulullah SAW pula; ’Apabila dua orang Muslim berkelahi dengan pedangnya, maka yang membunuh dan yang terbunuh masuk neraka. Nabi ditanya orang. Ya Rasulullah, yang membunuh sudah jelas, tetapi bagaimana ihwalnya yang dibunuh? Nabi bersabda; ’Karena yang dibunuh berniat membunuh lawannya.’ (Muttafaq ’alaih).

Sabda Rasulullah SAW pula; ’Barang siapa mengawini seorang perempuan dengan mahar, tetapi tidak berniat membayar maharnya, maka dia termasuk golongan pezina. Dan barangsiapa berhutang, tetapi tidak berniat untuk membayarnya maka dia termasuk pencuri.’ (Riwayat Ahmad dan Ibnu Majjah).

Dengan niat buruk, yang baik dapat berubah menjadi haram dan terlarang dan sesuatu yang mudah menjadi susah. Semua itu menegaskan betapa sensitif dan betapa besarnya posisi niat dalam hati seorang Muslim. Setiap Muslim dituntut agar berupaya dengan maksimal menjelaskan niat. Jangan sampai melakukan suatu amal dengan niat yang tidak baik, karena niat adalah roh dan tiangnya amal. Amalan tanpa niat hanyalah perbuatan yang ingin agar dilihat orang, yang justru dibenci oleh Allah.

Pahamlah kita bahwa niat itu merupakan rukun dari amal perbuatan dan ibadah. Niat itu bukan hanya diucapkan oleh lidah dan hati saja, tetapi haruslah merupakan dorongan hati untuk melakukan amalan dengan tujuan yang benar yakni mencapai suatu kebajikan atau menolak suatu kemudaratan dan diniatkan semata-mata untuk mencari keridhaan Allah.

Amalan yang jaiz (sesuatu yang boleh dikerjakan tapi tidak mempunyai nilai ibadah) dapat berubah hukumnya berkat niat yang baik sehingga hal itu menjadikan amalan yang akan mendapat pahala dari Allah. Sebaliknya, amal yang baik jika tidak dilandasi niat yang baik sangat mungkin menjadi sia-sia bahkan berubah menjadi kemaksiatan, seperti misalnya berubah menjadi ria dan sombong, ketika kita menginginkan atau berniat agar perbuatan itu dipuji orang.


2. Diskusi

1. T. Ada orang yang berniat memberikan sesuatu atau mengerjakan sesuatu, tapi keburu meninggal. Oleh ahli warisnya sesuatu itu tidak diberikan atau dikerjakan. Bagaimana hukumnya untuk ahli waris itu?

J. Katakan seseorang berniat pergi mengerjakan ibadah haji. Ongkos untuk naik haji itu sudah tersedia. Tapi sebelum melaksanakan niat itu dia meninggal. Jika si ahli waris mengetahui niat orang tersebut sebaiknya dia laksanakan apa yang sudah diniatkan itu. Tapi seandainya si ahli waris sesudah ditinggal mati memerlukan biaya pergi naik haji itu untuk keperluan hidupnya tidaklah mengapa kalau dia menggunakannya untuk itu terlebih dahulu tapi tetap dia harus menyadari bahwa kalau dia mempunyai kemampuan kelak, dia harus menyampaikan niat orang tadi itu.

2. T. Kita sedang mengerjakan sesuatu perbuatan atau amalan. Sebelum itu selesai, karena ada kendala, ada orang lain mengajak melakukan amalan yang lain yang kita tidak atau belum berniat mengerjakannya. Bolehkah kita merubah niat?

J. Pada suatu pagi Rasulullah SAW pulang ke rumah dan bertanya kepada istri beliau, adakah makanan untuk sarapan. Oleh istri beliau dijawab, tidak ada. Sabda beliau, kalau begitu saya berpuasa. Padahal beliau tidak berniat berpuasa sebelumnya dan saat itu sudah pagi. Jadi boleh saja niat itu diganti di tengah jalan selama untuk mengerjakan perbuatan amal.

3. T. Tadi disebutkan bahwa orang yang berniat jahat sudah dihitung berdosa sementara saya pernah mendengar keterangan dari ustad bahwa ada hadits Nabi yang mengatakan bahwa perbuatan baik, baru diniatkan saja sudah dinilai dan ada pahalanya di sisi Allah. Kebalikannya, perbuatan jahat kalau baru diniatkan tapi belum dikerjakan belum dinilai oleh Allah. Jadi mana yang benar?

J. Hadits itu juga pernah saya dengar. Harusnya itulah yang benar, namun keterangan yang mengatakan bahwa kalau seseorang berniat jahat sudah langsung dihitung berdosa maksudnya agar kita memelihara diri dari berniat melakukan perbuatan jahat. Sebab dikhawatirkan nanti, kalau kita berniat berbuat jahat, jangan-jangan setan akan mendorong dan menggiring kita agar segera mengerjakan niat jahat tersebut. Dan kalau itu sampai dilakukan maka jatuhlah kita kepada dosa, dikarenakan niat yang jahat sebelumnya. Dapat dipahami pendapat itu tadi untuk berjaga-jaga dalam memasang niat.


4. T. Tadi disebutkan bahwa kalau ada orang yang sudah berniat mengerjakan haji lalu dia meninggal, ahli warisnya wajib melanjutkan niatnya untuk menghajikannya. Tetapi dikatakan juga boleh saja ahli warisnya menggunakan dulu uang itu untuk keperluan lain. Bukankah lebih baik dia gunakan uang tersebut untuk menunaikan rukun haji bagi dirinya sendiri lalu kemudian membayar badal haji untuk menghajikan keluarganya yang sudah meninggal tersebut?

J. Mengenai badal haji, ada yang berpendapat bahwa boleh kita membayar seseorang di Makkah sana untuk menghajikan orang lain dengan membayarnya. Tapi ada pendapat lain yang mengatakan bahwa yang membadalkan itu mestilah anggota keluarganya sendiri atau ahli warisnya. Sementara untuk membadalkan haji haruslah yang bersangkutan haji untuk dirinya sendiri terlebih dahulu lalu tahun berikutnya baru pergi lagi menghajikan orang yang akan diwakilinya itu. Saya sendiri, sesudah mendapatkan keterangan dari ustad yang lebih faham, menerima kondisi yang terakhir ini, harus ahli waris sendiri yang menggantikan atau membadalkan orang yang sudah meninggal.

5. T. Ada orang yang berniat begini. Kalau usaha saya berhasil maka saya akan beramal begini atau bersedekah sekian. Bagaimana hukumnya?

J. Itu namanya dia bernazar. Membayar sesuai dengan yang diniatkannya itu ketika apa yang diusahakannya berhasil seperti yang diinginkannya wajib hukumnya. Bernazar itu hanya boleh untuk amalan-amalan yang diridhai Allah dan dengan tebusan atau yang dibayarkan juga yang diridhai Allah.

Wallahu a’lam

Tuesday, November 24, 2009

Diskusi Ahad Malam (23)

DISKUSI AHAD MALAM (BA’DA MAGHRIB)
MESJID AL HUSNA KOMPLEKS DEPKES II
JATIBENING

(23)

Ahad 20 Mai 2007 / 04 Jumadil Awal 1428


Materi Diskusi : Iman Kepada Qada Dan Qadar

Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM

1. Qada Dan Qadar

Orang Islam percaya terhadap terhadap qada dan qadar Allah. Qada adalah ketentuan Allah sejak azali mengenai adanya sesuatu atau tidak adanya sesuatu. Qadar adalah penciptaan Allah terhadap sesuatu dengan cara tertentu dan dalam waktu tertentu. Tidak ada sesuatu yang terjadi di alam ini, bahkan semua perbuatan hamba yang diusahakannya, semua ada dalam ilmu Allah. Dan Allah Maha Adil dalam qada dan qadarnya, Mahabijaksana dalam tindakan dan perencanaan Nya. Kebijaksanaan Allah mengikuti kehendak Nya sehingga segala apa yang dikehendaki Nya pasti terjadi. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari dan dengan izin Allah.

2. Dalil-dalil Nakli

Allah memberitahukan soal qada dan qadar dalam firman Nya; ’Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.’ (Al Qamar (54) ayat 49).

Begitu juga dengan firman Allah ; ’Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami lah khasanahnya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.’ (Al Hijr (15) ayat 21).

Dan pada ayat yang lain, ’Tidak ada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.’ (Al Hadid (57) ayat 22).

Dan firman Allah, ’Katakanlah; Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dia lah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal.’ (At Taubah (9) ayat 51).

Dan firman Allah pula, ’Dan pada sisi Allah lah kunci-kunci semua yang gaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).’ (At An’am (6) ayat 59).

Dan firman Allah, ’Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka.’ (Al Anbiya (21) ayat 101).

Dan juga firman Allah, ’.... Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi petunjuk.....’ (Al A’raf (7) ayat 43).

Rasulullah mengemukakan tentang qada dan qadar Allah dalam hadits beliau; ’Sesungguhnya setiap orang dari kamu diciptakan dalam perut ibunya selama empat puluh hari berupa nutfah, kemudian selama empat puluh hari menjadi ’alaqah. Kemudian selama empat puluh hari pula menjadi mudgah. Kemudian diutuslah kepadanya malaikat untuk meniupkan ruh dan diperintahkan untuk menulis empat kata, yaitu menuliskan tentang rezeki, ajal, amal perbuatannya dan celaka atau bahagianya. Maka demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, jika seseorang daripadamu telah beramal dengan amal ahli surga, sehingga antara dia dengan surga hanya tinggal satu hasta saja, kemudian karena kitab telah mendahuluinya (sebagai ahli neraka), maka iapun masuklah ke dalam neraka, juga seseorang telah beramal dengan amal ahli neraka, hingga antara dia dengan neraka hanya tinggal satu hasta, namun kitab (ketentuan Allah) telah mendahuluinya (sebagai ahli surga), maka ia akan beramal dengan amal ahli surga, maka masuklah dia ke dalam surga.’ (Riwayat Muslim).

Pada hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda; ’Telah berbantah Adam dan Musa. Musa berkata; ’Wahai Adam, engkau nenek moyang kami. Engkau telah mengecewakan kami, engkau telah keluarkan kami dari surga.’ Adam menjawab; ’Engkau Musa, Allah telah memilih kamu untuk memperoleh firman Nya dan Taurat telah diberikan Allah untukmu. Engkau mencela aku atas sesuatu yang Allah takdirkan untukku empat puluh tahun sebelum aku diciptakan.’ Maka menanglah Adam atas Musa.’ (Riwayat Muslim).

Pada hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda; ’Iman adalah percaya kepada Allah, kepada malaikat, kepada kitab-kitab, kepada Rasul-rasul Nya, kepada hari akhir dan beriman kepada baik dan buruknya qadar.’ (Riwayat Ahmad).

Sabda Rasulullah SAW; ’Beramallah kamu sekalian, karena setiap orang dimudahkan terhadap sesuatu yang telah diciptakan untuknya.’ (Riwayat Muslim).

Dan sabda Rasulullah SAW kepada Abdullah bin Qais; ’Wahai Abdullah bin Qais, aku ingin mengajarmu suatu kalimat yang merupakan kekayaan surga, yaitu; Tiada ada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. (Laa haula wa laa quwwata illaa billaah). (Muttafaq ’alaih).


3. Dalil-dalil Akli

a. Sesungguhnya akal tidak menyangkal sesuatu yang bertalian dengan qada dan qadar Allah, dengan hikmah pengaturan Nya. Bahkan akal mengharuskan itu semua, karena adanya bukti-bukti yang nyata di alam ini.

b. Iman kepada Allah dan kepada kekuasaan Nya mengharuskan iman kepada qada dan qadar, hikmah dan kehendak Nya.

c. Bila seorang arsitek ahli bangunan menggambar sebuah gedung di atas sehelai kertas dan merencanakan waktu pelaksanaannya, kemudian melaksanakan pembangunannya, maka rencana tersebut tidak dianggap selesai sebelum gedung itu terlaksana dibangun mulai dari gambar di atas kertas sampai menjelma menjadi bangunan sebuah gedung.


2. Diskusi

1. T. Apa-apa yang akan terjadi terhadap kita sudah tertulis dalam ketetapan Allah. Apakah kita harus menerima saja apa adanya sesuatu yang sudah ditetapkan akan terjadi kepada kita dan kita tidak perlu berusaha apa-apa lagi?

J. Tidak demikian. Ketetapan Allah tentang apa-apa yang akan terjadi kepada diri kita sepanjang yang saya fahami bukanlah sesuatu yang sempit seperti sebuah titik atau sebentuk garis tipis. Melainkan ketetapan-ketetapan Allah itu berada di dalam sebuah bidang yang lentur. Kemungkinan yang akan terjadi terletak di ekstrim paling kiri ke ekstrim paling kanan, yang luas bidangnya hanya Allah saja yang tahu. Kita boleh berusaha untuk mendapatkan yang terbaik, menurut harapan dan pemikiran kita dari kemungkinan-kemungkinan itu. Contohnya, kita menerima dua buah undangan pesta pada waktu yang sama. Kita boleh menentukan ke pesta yang mana kita akan menuju. Kedua-duanya mungkin dituju tapi tidak mungkin sekali dua didapat.

2. T. Orang Jawa mengatakan bahwa pertemuan, jodoh, rejeki, maut itu semua sudah diatur dari sononya. Bolehkah kita mengatakan bahwa jodoh dan rejeki itu masih bisa kita berusaha menggapainya tapi maut hanya Allah saja yang menetapkan. Bagaimana dengan pemikiran seperti itu?

J. Kesemuanya hanya Allah yang menentukan. Namun kita disuruh berusaha dan boleh membuat pilihan. Misalnya jodoh. Mungkin seseorang telah menimang-nimang beberapa orang calon jodoh sebelum menetapkan pilihan dan ketika dia sudah mengambil keputusan maka berlakulah ketetapan Allah kepadanya. Kita biasa menyebut maka berlakulah takdir kepadanya. Tapi sebelumnya dia boleh memilih di antara beberapa kemungkinan yang akan menjadi jodoh itu. Begitu juga dengan maut. Maut itu sudah pasti datangnya. Allah saja yang tahu kapan maut itu akan benar-benar mendatangi kita. Sebelum dia datang, ketika kita sakit, kita masih harus berusaha mencari kesembuhan. Sekali lagi pemahaman saya saat maut itu tidaklah ditetapkan oleh Allah tepat dengan detik dan jamnya sebelum terjadi, sehingga orang masih bisa berusaha untuk hidup lebih lama. Contoh kongkritnya, jika ada orang sakit, harus cuci darah. Kalau dia tidak melakukan perawatan cuci darah, dalam tempo sebulan darah di dalam tubuhnya sudah akan dipenuhi oleh racun yang mengancam jiwanya. Tapi dengan ikhtiar untuk cuci darah, Allah memberikan kesempatan kepadanya untuk hidup lebih lama.

3. T. Manakah yang harus diimani? Yang sudah terjadi atau yang akan datang dan akan terjadi kepada kita?

J. Kita wajib mengimani yang sudah terjadi. Kalau seseorang sudah meninggal, seperti itulah takdir kepadanya dan itulah ketetapan Allah baginya. Tidak boleh kita menyangkal ataupun mengumpat. Tidak boleh mengatakan, seandainya dia tidak ’begitu’ tentu tidak tidak akan terjadi ’begini’. Yang akan datang kita imani bahwa semuanya itu ada di dalam tangan Allah sementara kita wajib berikhtiar untuk mendapatkannya. Posisinya saat ini kita tidak mengetahui, apa yang akan terjadi itu, bagaimana dia akan terjadi, kapan dia akan terjadi. Tidak boleh pula kita meramal-ramalkannya.

4. T. Bagaimana dengan ucapan; ’Dia bisa jadi seperti itu kan karena pertolonganku. Kalau tidak aku tolong tidaklah dia akan seperti sekarang ini.’ Bolehkah kita berkata demikian ketika faktanya memang dia kita tolong dulu?

J. Tidak baik perkataan seperti itu. Apa yang sudah terjadi dengan seseorang itu sudah merupakan ketetapan Allah, sudah merupakan takdir yang wajib diimani. Kebetulan Allah menggunakan diri kita sebagai media untuk orang itu seperti itu. Kalaupun tidak melalui kita, kalau Allah berkehendak, Allah bisa menjadikan siapa saja sebagai penyebab pertolongan kepadanya.

5. T. Dimanakah terjadinya dialog antara Nabi Adam dan Nabi Musa seperti diceritakan dalam hadits tadi?

J. Hanya Allah saja yang tahu dimana terjadinya. Tapi Nabi Muhammad mengisahkan demikian, maka kita imani saja.

Wallahu a’lam

Monday, November 23, 2009

Diskusi Ahad Malam (22)

DISKUSI AHAD MALAM (BA’DA MAGHRIB)
MESJID AL HUSNA KOMPLEKS DEPKES II
JATIBENING

(22)

Ahad 13 Mai 2007 / 26 Rabiul Akhir 1428


Materi Diskusi : Tauhid Dalam Ibadah

Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM


1. Tauhid

Orang Islam harus percaya terhadap keuluhiyahan Allah (ke Tuhan an (illaah) Allah) dan percaya pula terhadap kerububiyahan Nya (ke Pemeliharaan (rabb) Allah) atas seluruh alam semesta. Sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah dan tidak ada pemelihara selain Dia. Seluruh ibadah haruslah hanya bagi Nya semata seperti yang disyariatkan bagi hamba-hamba Nya, sebagaimana seluruh perbuatan dan pengabdian juga hanya diperuntukkan bagi Allah semata. Jika memohon sesuatu maka permohonan itu haruslah kepada Nya, jika meminta tolong, permintaan itu hanya kepada Nya. Semua amal/perbuatan batin seperti takut, berharap, minta tolong, cinta, mengagungkan , bertawakal hanyalah kepada Allah. Begitu pula dengan amal lahir seperti shalat, zakat, puasa haji dan jihad, semua itu hanyalah bagi Allah.

2. Dalil-dalil Nakli

Allah memerintahkan agar kita bertauhid dalam beribadah seperti disebutkan dalam firman Nya; ’....tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku.....’ (Surat Thaha (20) ayat 14).

Begitu juga dengan firman Allah ; ’Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui.’ (Al Baqarah (2) ayat 21 – 22).

Dan pada ayat yang lain, ’Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah....’ (Surat Muhammad (47) ayat 19).

Allah memberitahukan tentang keharusan mengesakan Allah dalam beribadah. Firman Allah; ’Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada setiap umat (untuk menyerukan); Sembahlah Allah, dan jauhilah thagut itu....’ (Surat An Nahl (16) ayat 36.

Dan firman Nya; ’Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.’ (Surat Al Anbiya’ (21) ayat 25)

Dan firman Allah; ’Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba Nya (yaitu), peringatkanlah olehmu sekalian bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kalian bertakwa kepada Ku.’ (Surat An Nahl (16) ayat 2).

Rasulullah mengemukakan soal tauhid dalam ibadah. Sabda beliau kepada Mu’az tatkala ia diutus ke Yaman; ’Hendaklah yang pertama engkau serukan kepada mereka adalah mengesakan Allah.’ (Muttafaq ’alaih).

Pada hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda kepada Abdullah bin Abbas ; ’Apabila kamu meminta, memintalah kepada Allah. Dan bila minta tolong, minta tolonglah kepada Allah.’

Pada hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda; ’Sesuatu yang paling aku takutkan padamu adalah syirik kecil. Mereka bertanya; Syirik yang bagaimana itu ya Rasulullah? Sabda beliau; Ialah ria. Allah berfirman pada hari kiamat tatkala manusia dibalas amalnya; Pergilah kepada orang yang kamu berbuat ria di dunia. Dan perhatikanlah, apakah kamu memperoleh pahala dari mereka.’ (Riwayat Ahmad).

Sabda Rasulullah SAW; ’Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah, musyriklah dia.’ (Riwayat Tirmizi).

Dan sabda Rasulullah SAW pula; ’Bukankah mereka menghalalkan bagimu apa yang diharamkan Allah lalu kamu menghalalkannya. Dan mereka mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, lalu kamu mengharamkannya pula. Mereka menjawab benar. Nabi bersabda; Itulah ibadah kepada mereka.’ Hadits ini diucapkan Nabi SAW kepada Adi bin Hatim tatkala membaca firman Allah; ’Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahibnya sebagai tuhan selain Allah....’ (At Taubah (9) ayat 31. Adi berkata; Ya Rasulullah, kami tidak beribadah seperti mereka.’ (Riwayat Tirmizi).

Sabda Rasulullah SAW; ’Azimat, tangkal dan jampi-jampi adalah syirik.’ (Riwayat Ahmad dan Abu Daud).

3. Dalil-dalil Akli

a. Hanya Allah sendiri yang menciptakan, memberi rezeki, mengatur dan merencanakan. Maka manusia wajib beribadah hanya kepada Allah saja. Tidak ada sekutu bagi Allah dalam hal ibadah.

b. Semua makhluk dipelihara oleh Allah dan mereka (makhluk itu) membutuhkan Nya. Mereka tidak layak beribadah kepada selain Allah.

c. Apapun yang dimintai perlindungan, diseru, dimintai pertolongan selain Allah tidak mampu mengabulkan seruan , memberi pertolongan dan menolong tanpa seizin Allah.


2. Diskusi

1. T. Bagaimana hukumnya memakai ayat Al Quran yang dibungkus sebagai azimat?

J. Seperti dijelaskan oleh hadits Rasulullah di atas, perbuatan itu termasuk syirik.

2. T. Bagaimana kalau kita mengamalkan dan membaca ayat al Quran dan meyakini bahwa dengan bacaan itu kita mempunyai keistimewaan misalnya tidak bisa dilihat orang?

J. Keyakinan seperti itu juga cenderung keliru. Ayat-ayat al Quran bukanlah merupakan jampi-jampi untuk mengelabui pandangan orang lain. Kalau memang ada perlunya kita tidak terlihat oleh orang lain maka lebih baik kita mohonkan langsung kepada Allah agar kiranya Allah melindungi kita dari pandangan orang. Lalu sesudah bermohon itu kita membaca ayat al Quran itu boleh-boleh saja. Seandainya kita memang jadi tidak terlihat oleh orang lain mudah-mudahan itu berkat doa kita dikabulkan Allah bukan karena kita membaca ayat al Qurannya.

3. T. Ada orang yang meletakkan tulisan ayat Kursiy di dinding dengan harapan dengan adanya ayat tersebut diletakkan seperti itu, maka rumah itu akan terlindung dari malapetaka. Bagaimana dengan keyakinan seperti ini?

J. Keyakinan seperti ini keliru. Yang akan melindungi siapa saja dari malapetaka tidak ada selain Allah. Tulisan ayat Kursiy itu tidak mempunyai kemampuan untuk melindungi.

4. T. Bolehkah kita memasang foto atau lukisan orang shaleh untuk mengingat jasanya? Bagaimana pula dengan memajang patung-patung sebagai hiasan?

J. Ada hadits Rasulullah yang mengatakan bahwa orang yang melukis makhluk hidup itu nanti di akhirat akan disuruh Allah memberi nyawa kepada lukisannya itu. Dan ada hadits yang lain yang mengatakan bahwa malaikat rahmat tidak mau masuk kedalam rumah yang didalamnya ada lukisan makhluk hidup. Foto, yang mungkin diperlukan boleh saja dimiliki tapi sebaiknya tidak untuk dipajang sehubungan dengan keterangan bahwa malaikat rahmat tidak mau memasuki rumah yang di dalamnya ada lukisan. Begitu juga dengan patung-patung, tidak ada perlunya dijadikan hiasan bagi orang-orang beriman karena sangat mungkin mengganggu kepada nilai keimanan. Bagaimana nanti kalau suatu ketika shalat padahal di lemari di hadapannya ada patung. Tentu tidak baik yang demikian.

5. T. Ada orang yang punya kemampuan supra natural misalnya dia mampu menerbangkan makhluk-makhluk yang seram bentuknya seperti leak. Bagaimana hukumnya mempercayai yang demikian?

J. Itu adalah perbuatan sihir dan seharusnya kita minta perlindungan kepada Allah dari hal-hal yang seperti itu. Ilmu sihir itu ada. Bahkan seorang nabi seperti Nabi Musa juga bisa dikelabui mata beliau oleh sihir ketika anak buah Firaun melemparkan tali yang lalu terlihat seperti ular. (Baca Surat Thaha (20) ayat 66 – 67 – 68). Bahwa ada orang yang berkemampuan ilmu sihir itu adalah fakta. Dan ketika kita berdekatan dengan hal seperti itu secara tidak kita harapkan segeralah minta perlindungan kepada Allah.

6. T. Bolehkah kita mempercayai ramalan bintang? Atau yang sekarang disebut sebagai fengshui? Bagaimana pula dengan ramalan cuaca?

J. Ramalan bintang atau fengshui itu tidak ada dasarnya dan hanyalah rekaan saja. Mempercayai yang seperti itu syirik. Berbeda dengan ramalan cuaca yang memperhatikan keadaan panas bumi, pengaruhnya terhadap arah angin, terhadap penguapan, terhadap cuaca itu masih bisa difahami sebatas sebuah perkiraan.

7. K. Fengshui itu dilakukan dengan mempelajari posisi rumah secara statistik yang kemudian menyimpulkan bahwa rumah dengan posisi seperti ’ini’ punya kebiasaan seperti ’demikian’. Jadi ada unsur ilmiahnya juga.

J. Perbandingan secara statistik untuk kejadian yang sudah berlalu boleh saja, tapi bukan untuk meramalkan apa yang akan terjadi di waktu mendatang. Meramalkan yang akan terjadi untuk masa mendatang itu yang syirik hukumnya.

Wallahu a’lam

Thursday, May 21, 2009

Diskusi Ahad Malam (21)

DISKUSI AHAD MALAM (BA’DA MAGHRIB)
MESJID AL HUSNA KOMPLEKS DEPKES II
JATIBENING

(21)

Ahad 13 Mai 2007 / 26 Rabiul Akhir 1428


Materi Diskusi : Tauhid Dalam Ibadah

Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM


1. Tauhid

Orang Islam harus percaya terhadap keuluhiyahan Allah (ke Tuhan an (illaah) Allah) dan percaya pula terhadap kerububiyahan Nya (ke Pemeliharaan (rabb) Allah) atas seluruh alam semesta. Sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah dan tidak ada pemelihara selain Dia. Seluruh ibadah haruslah hanya bagi Nya semata seperti yang disyariatkan bagi hamba-hamba Nya, sebagaimana seluruh perbuatan dan pengabdian juga hanya diperuntukkan bagi Allah semata. Jika memohon sesuatu maka permohonan itu haruslah kepada Nya, jika meminta tolong, permintaan itu hanya kepada Nya. Semua amal/perbuatan batin seperti takut, berharap, minta tolong, cinta, mengagungkan , bertawakal hanyalah kepada Allah. Begitu pula dengan amal lahir seperti shalat, zakat, puasa haji dan jihad, semua itu hanyalah bagi Allah.

2. Dalil-dalil Nakli

Allah memerintahkan agar kita bertauhid dalam beribadah seperti disebutkan dalam firman Nya; ’....tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku.....’ (Surat Thaha (20) ayat 14).

Begitu juga dengan firman Allah ; ’Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah padahal kamu mengetahui.’ (Al Baqarah (2) ayat 21 – 22).

Dan pada ayat yang lain, ’Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah....’ (Surat Muhammad (47) ayat 19).

Allah memberitahukan tentang keharusan mengesakan Allah dalam beribadah. Firman Allah; ’Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada setiap umat (untuk menyerukan); Sembahlah Allah, dan jauhilah thagut itu....’ (Surat An Nahl (16) ayat 36.

Dan firman Nya; ’Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.’ (Surat Al Anbiya’ (21) ayat 25)

Dan firman Allah; ’Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba Nya (yaitu), peringatkanlah olehmu sekalian bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kalian bertakwa kepada Ku.’ (Surat An Nahl (16) ayat 2).

Rasulullah mengemukakan soal tauhid dalam ibadah. Sabda beliau kepada Mu’az tatkala ia diutus ke Yaman; ’Hendaklah yang pertama engkau serukan kepada mereka adalah mengesakan Allah.’ (Muttafaq ’alaih).

Pada hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda kepada Abdullah bin Abbas ; ’Apabila kamu meminta, memintalah kepada Allah. Dan bila minta tolong, minta tolonglah kepada Allah.’

Pada hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda; ’Sesuatu yang paling aku takutkan padamu adalah syirik kecil. Mereka bertanya; Syirik yang bagaimana itu ya Rasulullah? Sabda beliau; Ialah ria. Allah berfirman pada hari kiamat tatkala manusia dibalas amalnya; Pergilah kepada orang yang kamu berbuat ria di dunia. Dan perhatikanlah, apakah kamu memperoleh pahala dari mereka.’ (Riwayat Ahmad).

Sabda Rasulullah SAW; ’Barangsiapa bersumpah dengan selain Allah, musyriklah dia.’ (Riwayat Tirmizi).

Dan sabda Rasulullah SAW pula; ’Bukankah mereka menghalalkan bagimu apa yang diharamkan Allah lalu kamu menghalalkannya. Dan mereka mengharamkan apa yang dihalalkan Allah, lalu kamu mengharamkannya pula. Mereka menjawab benar. Nabi bersabda; Itulah ibadah kepada mereka.’ Hadits ini diucapkan Nabi SAW kepada Adi bin Hatim tatkala membaca firman Allah; ’Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahibnya sebagai tuhan selain Allah....’ (At Taubah (9) ayat 31. Adi berkata; Ya Rasulullah, kami tidak beribadah seperti mereka.’ (Riwayat Tirmizi).

Sabda Rasulullah SAW; ’Azimat, tangkal dan jampi-jampi adalah syirik.’ (Riwayat Ahmad dan Abu Daud).

3. Dalil-dalil Akli

a. Hanya Allah sendiri yang menciptakan, memberi rezeki, mengatur dan merencanakan. Maka manusia wajib beribadah hanya kepada Allah saja. Tidak ada sekutu bagi Allah dalam hal ibadah.

b. Semua makhluk dipelihara oleh Allah dan mereka (makhluk itu) membutuhkan Nya. Mereka tidak layak beribadah kepada selain Allah.

c. Apapun yang dimintai perlindungan, diseru, dimintai pertolongan selain Allah tidak mampu mengabulkan seruan , memberi pertolongan dan menolong tanpa seizin Allah.


2. Diskusi

1. T. Bagaimana hukumnya memakai ayat Al Quran yang dibungkus sebagai azimat?

J. Seperti dijelaskan oleh hadits Rasulullah di atas, perbuatan itu termasuk syirik.

2. T. Bagaimana kalau kita mengamalkan dan membaca ayat al Quran dan meyakini bahwa dengan bacaan itu kita mempunyai keistimewaan misalnya tidak bisa dilihat orang?

J. Keyakinan seperti itu juga cenderung keliru. Ayat-ayat al Quran bukanlah merupakan jampi-jampi untuk mengelabui pandangan orang lain. Kalau memang ada perlunya kita tidak terlihat oleh orang lain maka lebih baik kita mohonkan langsung kepada Allah agar kiranya Allah melindungi kita dari pandangan orang. Lalu sesudah bermohon itu kita membaca ayat al Quran itu boleh-boleh saja. Seandainya kita memang jadi tidak terlihat oleh orang lain mudah-mudahan itu berkat doa kita dikabulkan Allah bukan karena kita membaca ayat al Qurannya.

3. T. Ada orang yang meletakkan tulisan ayat Kursiy di dinding dengan harapan dengan adanya ayat tersebut diletakkan seperti itu, maka rumah itu akan terlindung dari malapetaka. Bagaimana dengan keyakinan seperti ini?

J. Keyakinan seperti ini keliru. Yang akan melindungi siapa saja dari malapetaka tidak ada selain Allah. Tulisan ayat Kursiy itu tidak mempunyai kemampuan untuk melindungi.

4. T. Bolehkah kita memasang foto atau lukisan orang shaleh untuk mengingat jasanya? Bagaimana pula dengan memajang patung-patung sebagai hiasan?

J. Ada hadits Rasulullah yang mengatakan bahwa orang yang melukis makhluk hidup itu nanti di akhirat akan disuruh Allah memberi nyawa kepada lukisannya itu. Dan ada hadits yang lain yang mengatakan bahwa malaikat rahmat tidak mau masuk kedalam rumah yang didalamnya ada lukisan makhluk hidup. Foto, yang mungkin diperlukan boleh saja dimiliki tapi sebaiknya tidak untuk dipajang sehubungan dengan keterangan bahwa malaikat rahmat tidak mau memasuki rumah yang di dalamnya ada lukisan. Begitu juga dengan patung-patung, tidak ada perlunya dijadikan hiasan bagi orang-orang beriman karena sangat mungkin mengganggu kepada nilai keimanan. Bagaimana nanti kalau suatu ketika shalat padahal di lemari di hadapannya ada patung. Tentu tidak baik yang demikian.

5. T. Ada orang yang punya kemampuan supra natural misalnya dia mampu menerbangkan makhluk-makhluk yang seram bentuknya seperti leak. Bagaimana hukumnya mempercayai yang demikian?

J. Itu adalah perbuatan sihir dan seharusnya kita minta perlindungan kepada Allah dari hal-hal yang seperti itu. Ilmu sihir itu ada. Bahkan seorang nabi seperti Nabi Musa juga bisa dikelabui mata beliau oleh sihir ketika anak buah Firaun melemparkan tali yang lalu terlihat seperti ular. (Baca Surat Thaha (20) ayat 66 – 67 – 68). Bahwa ada orang yang berkemampuan ilmu sihir itu adalah fakta. Dan ketika kita berdekatan dengan hal seperti itu secara tidak kita harapkan segeralah minta perlindungan kepada Allah.

6. T. Bolehkah kita mempercayai ramalan bintang? Atau yang sekarang disebut sebagai fengshui? Bagaimana pula dengan ramalan cuaca?

J. Ramalan bintang atau fengshui itu tidak ada dasarnya dan hanyalah rekaan saja. Mempercayai yang seperti itu syirik. Berbeda dengan ramalan cuaca yang memperhatikan keadaan panas bumi, pengaruhnya terhadap arah angin, terhadap penguapan, terhadap cuaca itu masih bisa difahami sebatas sebuah perkiraan.

7. K. Fengshui itu dilakukan dengan mempelajari posisi rumah secara statistik yang kemudian menyimpulkan bahwa rumah dengan posisi seperti ’ini’ punya kebiasaan seperti ’demikian’. Jadi ada unsur ilmiahnya juga.

J. Perbandingan secara statistik untuk kejadian yang sudah berlalu boleh saja, tapi bukan untuk meramalkan apa yang akan terjadi di waktu mendatang. Meramalkan yang akan terjadi untuk masa mendatang itu yang syirik hukumnya.

Wallahu a’lam

Diskusi Ahad Malam (19 & 20)

DISKUSI AHAD MALAM (BA’DA MAGHRIB)
MESJID AL HUSNA KOMPLEKS DEPKES II
JATIBENING

(19 & 20)

Ahad 22 - 29 April 2007 / 05 - 12 Rabiul Akhir 1428


Materi Diskusi : Iman terhadap Kewajiban Amar Makruf Nahi Mungkar

Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM


1. Kewajiban Amar Makruf Dan Nahi Mungkar

Setiap orang Islam yang beriman wajib menegakkan amar makruf dan mencegah nahi mungkar. Kewajiban ini jatuh kepada setiap Muslim yang mukalaf, yang artinya mereka yang mengetahui serta menyaksikan soal makruf ditinggalkan atau kemungkaran dikerjakan, sementara dia mempunyai kesanggupan untuk memerintah atau mengubahnya dengan tangan atau lidahnya.

Kewajiban tersebut merupakan kewajiban agama yang terbesar sesudah iman kepada Allah, sehingga Allah berfirman dalam al Quran dengan menyebutkannya dengan disertai iman kepada Nya. Firman Allah dalam surat Ali Imran (3) ayat 110; ’Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan oleh manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.....’

Dalil-dalil nakli;

a. Allah memerintahkan amar makruf nahi mungkar itu dengan firmannya: ’Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kewajiban, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung.’ (Surat Ali Imran (3) ayat 104).

b. Allah memberitahukan kepada para penolong dan para wali Nya bahwa mereka pasti akan menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Firman Allah Ta’ala; ’Yaitu orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat makruf dan mencegah dari perbuatan-perbuatan yang mungkar....’ (Surat Al Hajj (22) ayat 41)

c. Firman Allah yang menyatakan kesalahan Bani Israil; ’Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan Isa putera Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amal buruklah yang selalu mereka perbuat itu.’ (Surat Al Maidah (5) ayat 78-79).

d. Rasulullah menyuruh kita untuk beramar makruf nahi mungkar. Sabda beliau dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim; ’Barangsiapa yang melihat suatu yang mungkar, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya. Kalau tidak bisa dengan tangannya, maka dengan lisannya. Kalau tidak bisa dengan lisannya, maka wajib dengan hatinya (membencinya) dan hal itu termasuk iman yang paling lemah.’

e. Pada hadits yang lain beliau bersabda; ’Kamu benar-benar harus menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Kalau tidak, Allah akan menurunkan siksa kepadamu, kemudian kamu berdoa, maka doamu tidak diterima’ (Riwayat Tirmizi).

f. Hadits yang lain dimana Rasulullah bersabda; ’Bila suatu kaum mengerjakan maksiat, padahal di antara mereka ada yang mampu untuk mengingkari perbuatan tersebut namun tidak dilakukannya, Allah akan membuat azab merata untuk semuanya.’

Dalil-dalil Akli

a. Berdasarkan pengalaman dan penglihatan telah terbukti bahwa penyakit bila dibiarkan dan tidak diobati akan menjadi parah menyerang tubuh. Demikian pula perbuatan mungkar, bila dibiarkan tidak diberantas akan menjadi terbiasa dihadapan orang. Orang besar akan melakukannya begitu pula orang-orang kecil.

b. Dapat pula kita buktikan bila rumah dibiarkan, tidak dibersihkan dan tidak diurus secara baik, maka rumah itu akan tidak bisa ditempati lagi karena berbau busuk, udaranya pengap, banyak bakteri dan bibit penyakit. Demikian pula halnya dengan masyarakat orang yang beriman, bila kemungkaran dan kejahatan dibiarkan dan tidak diberantas sementara yang makruf tidak ditegakkan, maka jiwa masyarakatnya akan kotor. Mereka tidak akan mengenal lagi apa yang makruf dan acuh tak acuh terhadap kemungkaran.

c. Menurut penelitian, diketahui bahwa jiwa manusia cenderung dan suka kepada keburukan dan apabila mereka sudah terbiasa dengan keburukan maka yang buruk itu dianggapnya baik dan watak mereka berubah menjadi buruk. Demikian pula halnya dengan amar makruf nahi mungkar. Hal yang makruf bila dibiarkan dan tidak ditegakkan suatu saat orang akan terbiasa meninggalkannya. Bahkan ironisnya orang yang menegakkan yang makruf akan dipandang masyarakat yang sakit itu sebagai perbuatan mungkar. Karena itulah Allah dan Rasulnya memerintahkan dan mewajibkan kepada kaum Muslimin untuk senantiasa beramar makruf dan nahi mungkar guna melestarikan kesucian dan kebaikan hidup, serta untuk menjaga kemuliaan martabat mereka di antara bangsa-bangsa di muka bumi.

2. Adab dan tatakrama Amar Makruf Nahi Mungkar

Hendaknya setiap orang mengetahui hakikat yang diperintahkan bahwa sesuatu itu benar merupakan hal yang makruf berdasarkan hukum syariat. Dan benar-benar yang makruf itu sudah tidak dikerjakan orang. Demikian juga harus diketahui hakikat perbuatan mungkar yang dilarang dan mesti diberantas, dan nyata bahwa perbuatan maksiat itu diharamkan dan bertentangan dengan syarak.

Hendaknya yang melaksanakan amar makruf nahi mungkar itu adalah orang yang saleh dan tidak pernah meninggalkan perintah Allah dan tidak suka berbuat maksiat. Dengan kata lain dia sudah terlebih dahulu memberi contoh. Hal ini sejalan dengan firman Allah di dalam surat As Saaf ayat 2 dan 3 yang artinya; ’Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.’

Hendaklah yang menyeru kepada amar makruf nahi mungkar itu orang yang berakhlak mulia dan penyabar, menyuruh dengan lemah lembut dan melarang secara halus. Ia tidak boleh emosi jika apa yang dilarangnya tetap dikerjakan orang dan tidak marah ketika apa yang disuruhnya tidak dikerjakan orang. Ia harus penyabar, pemaaf dan berlapang dada.

Untuk mengenal kemungkaran janganlah menggunakan cara memata-matai, karena cara yang demikian itu tidak layak dipergunakan. Seperti misalnya mengintai orang di dalam rumahnya, memaksa membuka pakaian orang untuk mengetahui apa yang dibawanya maupun membuka tutup bejana untuk mengetahui apa isinya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al Hujurat (49) ayat 12 yang artinya; ’....dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang....’

Hendaklah yang menyeru kepada amar makruf itu memberi contoh. Begitupun menjelaskan yang dimaksud dengan kemungkaran itu dengan juga menunjukkan contohnya.

Hendaklah amar makruf nahi mungkar itu dilakukan dengan keterangan yang jelas. Kalau ada ayat al Qurannya jelaskan begitupun kalau ada hadits Rasulullah yang menjelaskan juga harus disampaikan. Sampaikan dengan lemah lembut terlebih dahulu. Namun pada saatnya juga diperlukan ketegasan dan sikap yang berani, namun tetap dalam koridor yang benar bukan bersifat anarkis. Tidak boleh kita memerangi kemungkaran dengan cara berlebihan ibarat mau membunuh seekor tikus lalu lumbung dibakar.

3. Diskusi

1. T. Apakah termasuk kemungkaran kalau kita berurusan dengan penjabat pemerintah lalu kita menyogok mereka?

J. Itu termasuk kemungkaran. Yang menyogok dan yang menerima sogok sama-sama dimurkai oleh Allah.

2. T. Apakah termasuk menyogok ketika kita mengurus KTP di kantor kelurahan lalu petugas tersebut memungut biaya yang tidak ada kwitansinya alias tidak bisa dipertanggungjawabkan?

J. Hal ini bisa termasuk kepada kemungkaran jika tidak dijelaskan. Kita boleh bertanya uang apa yang kita bayarkan itu secara baik-baik. Kalau nyata-nyata itu merupakan pungutan liar tentu kita juga boleh memprotes dan malahan sebaiknya menasihati petugas itu secara baik-baik agar jangan membebani masyarakat dengan pungutan yang tidak jelas yang juga tidak halal baginya. Tapi seandainya dia menjelaskan, misalnya bahwa dia yang adalah pegawai honorer di kantor itu lalu meminta keikhlasan kita secara baik-baik agar membayar uang lelahnya dan kita ikhlas pula memberikannya, yang demikian itu tentu tidak termasuk kemungkaran.

3. T. Mana yang lebih utama, mengajak amar makruf atau mencegah nahi mungkar?

J. Kedua-duanya harus sejalan dan sama-sama perlu dikerjakan. Memang amar makruf biasanya jauh lebih mudah mengerjakannya dibandingkan dengan nahi mungkar. Orang yang berbuat kemungkaran itu biasanya sudah mengetahui bahwa perbuatan itu salah, sehingga dia merasa perlu mengadakan pendukung atau tukang pukul untuk mengawal kemungkaran tersebut, sehingga untuk menentangnya jadi tidak mudah. Namun tetap saja nahi mungkar itu harus diusahakan.

4. T. Ada suatu bentuk kemungkaran, katakanlah di kompleks kita ini yang kalau dicegah perorangan mungkin bisa menimbulkan pertengkaran. Bagaimana mengatasinya?

J. Kalau pencegahan nahi mungkar itu dikerjakan secara frontal atau langsung secara pribadi, dikhawatirkan akan menimbulkan kemudharatan misalnya pertengkaran, pencegahan itu dapat kita lakukan melalui perangkat RW misalnya. Kita laporkan secara baik-baik kepada Ketua RW agar dia mencari penyelesaian atau memberikan tegoran kepada yang berbuat kemungkaran tersebut.

5. T. Bolehkah kita dalam bernahi mungkar itu melakukan perusakan karena tahu sesuatu itu tempat maksiat, misalnya dengan membakar rumah yang kita ketahui digunakan sebagai tempat pelacuran misalnya?

J. Secara perorangan atau kelompok seharusnya kita tidak melakukan yang seperti itu. Itu adalah tugas penyelenggara negara untuk memusnahkannya kalau memang perlu untuk dimusnahkan. Bahkan kalau kita tidak taktis, kita bisa jadi korban fitnah, justru kita yang dilaporkan telah merusak hak milik orang. Juga sangat tidak tepat kalau kita merusakkan benda yang tidak ada keterkaitannya langsung dengan kemaksiatan. Misalnya kita mau mencegah kemungkaran atau kemaksiatan di tempat pelacuran lalu semua bangunan disana bahkan kendaraan yang terparkir disana dirusak, ini jelas tidak baik.

6. T. Bagaimana kalau dalam hal seperti itu petugas negara tidak perduli bahkan seolah-olah membiarkan dan melindungi. Apa yang harus kita perbuat?

J. Mendesak kepada pemerintah secara berkesinambungan dan sungguh-sungguh sampai kebatilan itu dihentikan. Tapi itu tadi, kita juga harus taktis, jangan terpancing masuk jebakan yang akhirnya kita diangap sebagai pembuat onar.

7. T. Seandainya tanggapan dari aparat terlalu lama atau bahkan sama sekali tidak ada tanggapan, bolehkah kita mengerahkan massa untuk mengawal tempat kemaksiatan itu untuk mencegah agar penikmat kemaksiatan tidak bisa datang ke sana?

J. Boleh-boleh saja sebagai bentuk pencegahan secara bersama-sama, selama tidak terpancing kepada berbuat keributan dan anarkis.


Wallahu a’lam

Wednesday, May 20, 2009

Diskusi Ahad Malam (18)

DISKUSI AHAD MALAM (BA’DA MAGHRIB)
MESJID AL HUSNA KOMPLEKS DEPKES II
JATIBENING

(18)

Ahad 15 April 2007 / 28 Rabiul Awal 1428


Materi Diskusi : Wali-wali Setan dan Kesesatannya

Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM



1. Wali-wali Setan

Orang Islam juga percaya bahwa setan memiliki penolong dari kalangan manusia. Setan menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah. Setan menggoda agar manusia melakukan yang buruk dan menganjurkan kebatilan kepada manusia. Akhirnya mereka buta dan tuli terhadap kebenaran tapi taat dan patuh kepada perintah setan. Setan mendorong mereka kepada kejahatan dan menarik hati mereka kepada kerusakan dengan memanipulasi yang buruk sehingga tampak seolah-olah baik, sampai mereka menganggapnya baik dan menyulap yang makruf sehingga tampak mungkar.

Para penolong setan itu menjadi musuh para wali Allah dengan menyatakan perang kepadanya. Para wali Allah menjadi penolong Allah dan wali setan memusuhi Allah.

Meskipun para wali setan memiliki beberapa keajaiban seperti mampu terbang di udara, mampu berjalan di atas air tapi itu hanyalah merupakan reka perdaya (istidraj) dari Allah bagi mereka yang memusuhi Nya atau bisa juga merupakan pertolongan setan bagi mereka.

Allah memberitahukan mengenai hal para penolong setan itu dengan firman Nya.

Firman Allah; ’.......Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindung mereka adalah thagut (setan), yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.’ (Surat Al Baqarah (2) ayat 257).

Pada ayat lain, firman Allah; ’............ Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu, jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.’.... (Surat Al An’am (6) ayat 121).

Firman Allah dalam Surat Al An’am (6) ayat 128 yang artinya; ’Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya, (dan Allah berfirman); ’Hai golongan jin (setan), sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia.’ Lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia; ’Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang Engkau tentukan bagi kami.’ Allah berfirman; ’Neraka itulah tempat diammu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain)..... ’

Firman Allah pula dalam surat Az Zukhruf (43) ayat 36-37; Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), Kami adakan baginya setan menjadi teman akrab (yang menyesatkannya). Dan sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk.’

Sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadits; ’Apa yang kamu katakan dahulu terhadap kejadian semacam itu di jaman jahiliyah?’ (keadian bintang jatuh). Mereka menjawab; ’Kami mengatakan, ada kematian seorang besar atau kelahirannya.’ Nabi bersabda; ’Bintang itu dilemparkan bukan karena matinya seseorang atau hidupnya seseorang. Tetapi Tuhan jika memutuskan suatu perkara, bertasbihlah para malaikat pemikul ’Arsy. Kemudian bertasbih pula penduduk langit mengikuti mereka. Kemudian diikuti pula oleh yang lainnya sehingga sampailah suara tasbih itu ke seluruh penduduk langit. Lalu penduduk langit bertanya kepada malaikat pemikul ’Arsy; ’Apa yang difirmankan Tuhan kita?’ Maka malaikat itu memberitahu mereka. Kemudian penduduk langit mencari berita itu, hingga berita itu sampai kepada penduduk langit dunia. Dan setan-setanpun mendengarnya, lalu mereka dilempari. Kemudian berita itu disampaikannya kepada pelindungnya. Maka berita yang mereka sampaikan itu benar jika sesuai dengan aslinya, namun mereka selalu menambah-nambahinya.’ (Riwayat Muslim dan Ahmad).

Ketika ditanya tentang kahin (tukang ramal) Rasulullah SAW menjawab dalam sabdanya; ’Mereka itu tidaklah benar’. Orang-orang berkata: ’Benar, tapi mereka mengatakan sesuatu kepada kami kadang-kadang benar.’ Nabi bersabda: ’Kalau ada kata-kata yang benar, itu berasal dari jin yang mencuri dengar, lalu disampaikan ke telinga pelindungnya. Sesudah itu mereka membumbuinya dengan seribu kebohongan.’ (Riwayat Bukhari.)

Sabda Rasulullah SAW pula; ’Sesungguhnya setan itu bisa masuk kedalam aliran darah anak cucu Adam. Maka persempitlah jalannya dengan puasa.’ (Riwayat Muslim).

Ratusan ribu manusia melihat dan menyaksikan tingkah laku setan yang ganjil di setiap waktu dan tempat, sebagaimana hal itu tampak dalam perilaku para pendukungnya. Di antara mereka itu ada yang diberi oleh setan makanan dan minuman, ada yang dipenuhi dan dicukupi kebutuhannya, ada yang diajak bicara tentang yang gaib dan hal-hal yang bersifat gaib, ada yang dibuat kebal terhadap senjata. Berbagai perilaku setan yang kotor itu sampai berhasil masuk dan menodai hati dan jiwa anak Adam dikarenakan oleh sikap anak Adam yang mau terpedaya, mau melakukan berbagai kejahatan dan kerusakan, perbuatan-perbuatan dosa dan sebagainya yang diperintahkan oleh setan kepada mereka.


2. Diskusi

1. T. Pada waktu shalat isya, ketika itu suasana sepi, saya merasa ada orang lain ikut shalat di belakang saya. Tapi setelah selesai shalat saya lihat tidak ada siapa-siapa. Apakah itu hanya halusinasi saja atau memang ada ’seseorang’ ikut shalat di belakang?

J. Bukan tidak mungkin ada seseorang yang memang ikut shalat di belakang. Mungkin saja memang ada orang lain. Tapi kalau yang dimaksud apakah mungkin ada makhluk lain yang ikut shalat, katakanlah misalnya jin, itupun juga mungkin saja sebab jin memang ada yang beriman seperti kita. Bahkan di majelis kita saat ini mungkin saja mereka hadir tapi kita tidak dapat melihat kehadiran mereka.

2. T. Kalau kita berada dekat tempat-tempat tertentu, misalnya di tempat yang oleh sementara orang disebut angker lalu bulu tengkuk kita berdiri, apakah itu normal? Bagaimana caranya mengusir rasa takut ketika berada di tempat seperti itu?

J. Sebagai manusia sangat wajar kita mempunyai rasa takut. Namun hendaknya rasa takut itu jangan sampai mendorong kita kepada perbuatan yang tidak benar. Misalnya karena takut dengan tempat angker, lalu kata orang kita harus menyerahkan sajen ke tempat tersebut, dan kita lakukan demikian. Ini adalah cara takut yang salah. Kalau kita di dera rasa takut sebaiknya dibawa berzikir mengingat Allah, karena tidak ada daya dan kekuatan pada siapapun kecuali dengan izin Allah.

3. T. Ada tempat-tempat angker yang adakalanya menelan korban, seperti laut di sebelah selatan Jawa yang katanya dihuni oleh Nyi Roro Kidul. Apakah jatuhnya korban itu bisa dipercayai sebagai korban Nyi Roro Kidul atau kebetulan saja?

J. Korban dalam bentuk kecelakaan bisa saja terjadi dimana-mana termasuk di laut selatan pulau Jawa. Apakah itu korban dari Nyi Roro Kidul? Apakah Nyi Roro Kidul itu benar-benar ada? Bisa saja dia memang ada dan dari golongan jin, tapi kita tidak usah berurusan dengannya, karena berurusan dengan bangsa jin seperti sabda Rasulullah banyak ruginya bagi kita manusia. Cukuplah kita meminta perlindungan kepada Allah dari gangguan jin dan sebangsanya. Dan kita tidak boleh mempercayai keberadaan Nyi Roro Kidul untuk kemudian mematuhi aturan-aturannya seperti memberikan sesajen, melakukan ritual-ritual tertentu seperti mengirimkan sesajen ke laut selatan. Perbuatan seperti ini termasuk ke dalam tipu daya wali setan dan pengikutnya dan termasuk perbuatan syirik.
4. T. Bagaimana dengan keberadaan hantu dan makhluk halus lainnya? Kadang-kadang konon terlihat seperti makhluk mengerikan seperti leak yang mampu terbang dan bentuknya menakutkan ?

J. Itupun termasuk tipu daya setan dan ilmu-ilmu sihir (ilmu hitam). Ilmu sihir seperti itu sudah ada sejak jaman nabi-nabi. Nabi Musa terpengaruh oleh sihir anak buah Firaun yang melempar tali dan berubah menjadi ular. Timbul rasa takut di hati beliau. Tapi Allah mengingatkan beliau agar tidak usah takut dan memerintahkan nabi Musa melemparkan tongkatnya yang kemudian berubah menjadi ular yang lebih besar dan menelan ular hasil sihir anak buah Firaun tersebut. Kita sekali lagi mesti senantiasa memohon perlindungan kepada Allah agar terhindar dari pengaruh ilmu hitam atau ilmu sihir itu.

5. T. Tapi bolehkah kita mempercayai bahwa ada orang yang mempunyai kemapuan sihir atau ilmu hitam?

J. Boleh percaya bahwa memang ada orang yang punya kemampuan seperti itu. Dan tidak boleh pula kita takabur mengatakan bahwa ilmu sihir orang itu tidak akan mempan kepada kita karena kita seorang yang ahli ibadah misalnya. Cukuplah kita menghindar dari berurusan dengan orang-orang yang punya ilmu sihir atau ilmu hitam itu dan berserah diri kepada Allah.

6. T. Apakah ramalan bintang termasuk perbuatan wali setan?

J. Ya, ramalan bintang itu termasuk perbuatan sesat.


Wallahu a’lam