DISKUSI AHAD MALAM (BA’DA MAGHRIB)
MESJID AL HUSNA KOMPLEKS DEPKES II
JATIBENING
(23)
Ahad 20 Mai 2007 / 04 Jumadil Awal 1428
Materi Diskusi : Iman Kepada Qada Dan Qadar
Rujukan : Buku PEDOMAN HIDUP MUSLIM
1. Qada Dan Qadar
Orang Islam percaya terhadap terhadap qada dan qadar Allah. Qada adalah ketentuan Allah sejak azali mengenai adanya sesuatu atau tidak adanya sesuatu. Qadar adalah penciptaan Allah terhadap sesuatu dengan cara tertentu dan dalam waktu tertentu. Tidak ada sesuatu yang terjadi di alam ini, bahkan semua perbuatan hamba yang diusahakannya, semua ada dalam ilmu Allah. Dan Allah Maha Adil dalam qada dan qadarnya, Mahabijaksana dalam tindakan dan perencanaan Nya. Kebijaksanaan Allah mengikuti kehendak Nya sehingga segala apa yang dikehendaki Nya pasti terjadi. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari dan dengan izin Allah.
2. Dalil-dalil Nakli
Allah memberitahukan soal qada dan qadar dalam firman Nya; ’Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.’ (Al Qamar (54) ayat 49).
Begitu juga dengan firman Allah ; ’Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami lah khasanahnya, dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.’ (Al Hijr (15) ayat 21).
Dan pada ayat yang lain, ’Tidak ada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.’ (Al Hadid (57) ayat 22).
Dan firman Allah, ’Katakanlah; Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dia lah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakkal.’ (At Taubah (9) ayat 51).
Dan firman Allah pula, ’Dan pada sisi Allah lah kunci-kunci semua yang gaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuz).’ (At An’am (6) ayat 59).
Dan firman Allah, ’Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka.’ (Al Anbiya (21) ayat 101).
Dan juga firman Allah, ’.... Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi petunjuk.....’ (Al A’raf (7) ayat 43).
Rasulullah mengemukakan tentang qada dan qadar Allah dalam hadits beliau; ’Sesungguhnya setiap orang dari kamu diciptakan dalam perut ibunya selama empat puluh hari berupa nutfah, kemudian selama empat puluh hari menjadi ’alaqah. Kemudian selama empat puluh hari pula menjadi mudgah. Kemudian diutuslah kepadanya malaikat untuk meniupkan ruh dan diperintahkan untuk menulis empat kata, yaitu menuliskan tentang rezeki, ajal, amal perbuatannya dan celaka atau bahagianya. Maka demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia, jika seseorang daripadamu telah beramal dengan amal ahli surga, sehingga antara dia dengan surga hanya tinggal satu hasta saja, kemudian karena kitab telah mendahuluinya (sebagai ahli neraka), maka iapun masuklah ke dalam neraka, juga seseorang telah beramal dengan amal ahli neraka, hingga antara dia dengan neraka hanya tinggal satu hasta, namun kitab (ketentuan Allah) telah mendahuluinya (sebagai ahli surga), maka ia akan beramal dengan amal ahli surga, maka masuklah dia ke dalam surga.’ (Riwayat Muslim).
Pada hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda; ’Telah berbantah Adam dan Musa. Musa berkata; ’Wahai Adam, engkau nenek moyang kami. Engkau telah mengecewakan kami, engkau telah keluarkan kami dari surga.’ Adam menjawab; ’Engkau Musa, Allah telah memilih kamu untuk memperoleh firman Nya dan Taurat telah diberikan Allah untukmu. Engkau mencela aku atas sesuatu yang Allah takdirkan untukku empat puluh tahun sebelum aku diciptakan.’ Maka menanglah Adam atas Musa.’ (Riwayat Muslim).
Pada hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda; ’Iman adalah percaya kepada Allah, kepada malaikat, kepada kitab-kitab, kepada Rasul-rasul Nya, kepada hari akhir dan beriman kepada baik dan buruknya qadar.’ (Riwayat Ahmad).
Sabda Rasulullah SAW; ’Beramallah kamu sekalian, karena setiap orang dimudahkan terhadap sesuatu yang telah diciptakan untuknya.’ (Riwayat Muslim).
Dan sabda Rasulullah SAW kepada Abdullah bin Qais; ’Wahai Abdullah bin Qais, aku ingin mengajarmu suatu kalimat yang merupakan kekayaan surga, yaitu; Tiada ada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. (Laa haula wa laa quwwata illaa billaah). (Muttafaq ’alaih).
3. Dalil-dalil Akli
a. Sesungguhnya akal tidak menyangkal sesuatu yang bertalian dengan qada dan qadar Allah, dengan hikmah pengaturan Nya. Bahkan akal mengharuskan itu semua, karena adanya bukti-bukti yang nyata di alam ini.
b. Iman kepada Allah dan kepada kekuasaan Nya mengharuskan iman kepada qada dan qadar, hikmah dan kehendak Nya.
c. Bila seorang arsitek ahli bangunan menggambar sebuah gedung di atas sehelai kertas dan merencanakan waktu pelaksanaannya, kemudian melaksanakan pembangunannya, maka rencana tersebut tidak dianggap selesai sebelum gedung itu terlaksana dibangun mulai dari gambar di atas kertas sampai menjelma menjadi bangunan sebuah gedung.
2. Diskusi
1. T. Apa-apa yang akan terjadi terhadap kita sudah tertulis dalam ketetapan Allah. Apakah kita harus menerima saja apa adanya sesuatu yang sudah ditetapkan akan terjadi kepada kita dan kita tidak perlu berusaha apa-apa lagi?
J. Tidak demikian. Ketetapan Allah tentang apa-apa yang akan terjadi kepada diri kita sepanjang yang saya fahami bukanlah sesuatu yang sempit seperti sebuah titik atau sebentuk garis tipis. Melainkan ketetapan-ketetapan Allah itu berada di dalam sebuah bidang yang lentur. Kemungkinan yang akan terjadi terletak di ekstrim paling kiri ke ekstrim paling kanan, yang luas bidangnya hanya Allah saja yang tahu. Kita boleh berusaha untuk mendapatkan yang terbaik, menurut harapan dan pemikiran kita dari kemungkinan-kemungkinan itu. Contohnya, kita menerima dua buah undangan pesta pada waktu yang sama. Kita boleh menentukan ke pesta yang mana kita akan menuju. Kedua-duanya mungkin dituju tapi tidak mungkin sekali dua didapat.
2. T. Orang Jawa mengatakan bahwa pertemuan, jodoh, rejeki, maut itu semua sudah diatur dari sononya. Bolehkah kita mengatakan bahwa jodoh dan rejeki itu masih bisa kita berusaha menggapainya tapi maut hanya Allah saja yang menetapkan. Bagaimana dengan pemikiran seperti itu?
J. Kesemuanya hanya Allah yang menentukan. Namun kita disuruh berusaha dan boleh membuat pilihan. Misalnya jodoh. Mungkin seseorang telah menimang-nimang beberapa orang calon jodoh sebelum menetapkan pilihan dan ketika dia sudah mengambil keputusan maka berlakulah ketetapan Allah kepadanya. Kita biasa menyebut maka berlakulah takdir kepadanya. Tapi sebelumnya dia boleh memilih di antara beberapa kemungkinan yang akan menjadi jodoh itu. Begitu juga dengan maut. Maut itu sudah pasti datangnya. Allah saja yang tahu kapan maut itu akan benar-benar mendatangi kita. Sebelum dia datang, ketika kita sakit, kita masih harus berusaha mencari kesembuhan. Sekali lagi pemahaman saya saat maut itu tidaklah ditetapkan oleh Allah tepat dengan detik dan jamnya sebelum terjadi, sehingga orang masih bisa berusaha untuk hidup lebih lama. Contoh kongkritnya, jika ada orang sakit, harus cuci darah. Kalau dia tidak melakukan perawatan cuci darah, dalam tempo sebulan darah di dalam tubuhnya sudah akan dipenuhi oleh racun yang mengancam jiwanya. Tapi dengan ikhtiar untuk cuci darah, Allah memberikan kesempatan kepadanya untuk hidup lebih lama.
3. T. Manakah yang harus diimani? Yang sudah terjadi atau yang akan datang dan akan terjadi kepada kita?
J. Kita wajib mengimani yang sudah terjadi. Kalau seseorang sudah meninggal, seperti itulah takdir kepadanya dan itulah ketetapan Allah baginya. Tidak boleh kita menyangkal ataupun mengumpat. Tidak boleh mengatakan, seandainya dia tidak ’begitu’ tentu tidak tidak akan terjadi ’begini’. Yang akan datang kita imani bahwa semuanya itu ada di dalam tangan Allah sementara kita wajib berikhtiar untuk mendapatkannya. Posisinya saat ini kita tidak mengetahui, apa yang akan terjadi itu, bagaimana dia akan terjadi, kapan dia akan terjadi. Tidak boleh pula kita meramal-ramalkannya.
4. T. Bagaimana dengan ucapan; ’Dia bisa jadi seperti itu kan karena pertolonganku. Kalau tidak aku tolong tidaklah dia akan seperti sekarang ini.’ Bolehkah kita berkata demikian ketika faktanya memang dia kita tolong dulu?
J. Tidak baik perkataan seperti itu. Apa yang sudah terjadi dengan seseorang itu sudah merupakan ketetapan Allah, sudah merupakan takdir yang wajib diimani. Kebetulan Allah menggunakan diri kita sebagai media untuk orang itu seperti itu. Kalaupun tidak melalui kita, kalau Allah berkehendak, Allah bisa menjadikan siapa saja sebagai penyebab pertolongan kepadanya.
5. T. Dimanakah terjadinya dialog antara Nabi Adam dan Nabi Musa seperti diceritakan dalam hadits tadi?
J. Hanya Allah saja yang tahu dimana terjadinya. Tapi Nabi Muhammad mengisahkan demikian, maka kita imani saja.
Wallahu a’lam
Tuesday, November 24, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment